--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Nyawa Hilang, Ayam Melayang

Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati.

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda menghitung berapa harga seekor ayam jago di pasar kampung? Paling-paling tidak sampai seratus ribu rupiah jika ditawar pas pasaran. Tapi di Bali baru-baru ini, harga seekor ayam bisa dibayar dengan harga yang teramat mahal: nyawa manusia. Peristiwa tragis itu mendadak viral dan menghentak nurani kita semua setelah seorang pria diduga mencuri ayam lalu tewas dihakimi massa.

Hari itu, Minggu tanggal 26 Jul 2026, suasana batin para wakil rakyat di Senayan ikut bergolak. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati langsung bersuara lantang menyampaikan keprihatinan yang teramat dalam. Politisi Partai Golkar itu geram melihat bagaimana amuk massa bisa dengan mudahnya merenggut nyawa di negeri yang katanya menjunjung tinggi hukum. Padahal, main hakim sendiri itu bukan cuma melanggar aturan, tapi juga mencerminkan hilangnya akal sehat di tengah masyarakat.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya bayangkan bagaimana kerumunan orang mendadak berubah wujud menjadi algojo dadakan di jalanan. Emosi menumpuk, teriakan maling bersahutan, lalu pukulan melayang tanpa memberi ruang bagi kata ampun. Padahal, apa pun bentuk dugaan kejahatan yang dilakukan seseorang, negara kita punya mekanisme hukum yang jelas. Kalau semua orang bertindak sebagai hakim, jaksa, sekaligus eksekutor, buat apa kita repot-repot menggaji aparat penegak hukum setiap bulan?

Kata Sari Yuliati saat saya telaah pesannya lewat keterangan tertulis, Indonesia ini adalah negara hukum yang beradab. Jangan pernah ada alasan apa pun untuk mengambil alih kewenangan negara dengan cara menghabisi nyawa sesama. Katanya, kalau menemukan dugaan tindak pidana sekecil apa pun, segera laporkan ke kantor polisi terdekat. Jangan biarkan emosi sesaat mengubah tangan kita menjadi berlumuran darah yang berujung pada kurungan penjara.

Saya renungkan kalimat itu dalam-dalam sambil menggelengkan kepala melihat tipisnya tingkat kesabaran sosial kita hari ini. Rasa keadilan masyarakat tidak boleh dituntaskan lewat kepalan tangan dan tendangan bertubi-tubi di sudut jalan. Keadilan yang sejati hanya lahir dari proses peradilan yang objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau pencuri ayam diadili dengan cara dibunuh secara massal, lantas apa bedanya peradaban kita dengan hukum rimba di tengah hutan?

Baca juga:  Es Gabus dan Luka di Sepatu Bot

Makanya, tidak heran jika pimpinan DPR itu mendesak pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas insiden maut tersebut tanpa pandang bulu. Siapa saja yang terbukti ikut melayangkan pukulan maut hingga korban tewas harus diseret ke muka hukum. Jangan sampai ada impunitas atau pembiaran terhadap aksi main hakim sendiri yang kian hari kian meresahkan. Hukum harus ditegakkan dengan tegas agar memberikan efek jera bagi siapa saja yang gemar menjadikan jalanan sebagai arena eksekusi.

Tapi urusannya ternyata tidak berhenti sekadar menangkap para pelaku pengeroyokan di lapangan saja. Akar masalah yang jauh lebih mendasar adalah rendahnya literasi hukum dan tipisnya edukasi publik di akar rumput. Sari Yuliati dengan jernih meminta kementerian terkait, mulai dari Kemendagri, Kemenkum, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga kepolisian, untuk turun tangan. Edukasi tentang bahaya main hakim sendiri harus digencarkan secara masif melalui sekolah, tokoh agama, hingga media massa.

Saya bayangkan betapa pekerjaan rumah negara kita masih sangat panjang untuk mendidik akal sehat publik. Selama pemahaman hukum warga masih compang-camping, peristiwa berdarah akibat salah sangka atau pencurian kecil akan terus berulang. Masyarakat harus diajak berpikir jernih bahwa nyawa seseorang jauh lebih berharga daripada sekadar barang curian di pekarangan rumah. Menjaga keamanan memang tugas kita bersama, tapi urusan menghukum orang tetap berada di tangan institusi negara.

Saya tutup catatan ini dengan sebuah renungan sunyi di meja kedai kopi yang mulai mendingin. Ketika seekor ayam bisa merenggut nyawa manusia dan menyulut amarah sekampung, ada yang salah dengan urat syaraf kemanusiaan kita. Jangan biarkan negara hukum ini bergeser perlahan menjadi negara gerombolan yang saling mangsa di jalanan. Kalau kita gagal merawat kewarasan kolektif, jangan kaget kalau suatu saat nanti kemanusiaan kita benar-benar telah mati suri. *yas

👁️ 5.360 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."