--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Berani Menolak

Sosok yang berdiri tegak sendirian di tengah arus massa yang bergerak searah, menggambarkan kekuatan prinsip individu di hadapan tekanan kolektif yang salah arah.

Lokapalanews.id | Saya pernah bertemu seorang pejabat tinggi. Orangnya santun. Pintar sekali. Gelarnya berderet. Kalau bicara, teorinya setinggi langit.

Tapi sayang. Dia tidak punya satu hal yang paling krusial: tulang punggung.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Masalah terbesar bangsa ini bukan karena kita kurang orang pintar. Kita justru kelebihan orang pintar. Tapi kita krisis orang yang berani berkata “tidak”.

Terlalu banyak orang yang tahu sesuatu itu salah. Sangat salah. Tapi mereka memilih bungkam. Mereka takut kursinya goyang. Takut fasilitasnya ditarik. Takut tidak dapat proyek lagi.

Mereka lebih memilih menjadi budak yang nyaman daripada menjadi manusia yang merdeka.

Bagi saya, perbudakan modern itu tidak pakai rantai. Perbudakan hari ini bentuknya adalah jabatan, mobil dinas, dan pujian palsu.

Banyak yang merasa bebas. Padahal mereka hanya pion. Mereka sedang menjalankan syahwat orang lain yang bukan miliknya.

Mengatakan “tidak” itu sederhana. Cuma empat huruf. Tapi konsekuensinya memang tidak sederhana.

Satu kata “tidak” bisa membuat Anda dijauhi. Anda akan dicurigai. Anda akan dianggap “bukan bagian dari tim”. Anda bahkan bisa dimusuhi secara berjamaah.

Tapi dengarlah: tanpa keberanian untuk menolak, Anda perlahan kehilangan harga diri. Anda hanya menjadi sekrup kecil dalam mesin besar yang bergerak tanpa arah.

Hidup yang bermakna bukan hidup yang cari aman. Itu hidup pengecut.

Hidup yang bermakna adalah hidup yang masih berani mempertahankan nurani di tengah kepungan kemunafikan.

Jika sesuatu jelas tidak adil, tolak! Jangan diam! Jika kebijakan merugikan rakyat, suarakan! Jangan cuma manggut-manggut demi amannya posisi.

Sejarah tidak pernah mengingat mereka yang selalu berkata “ya”. Sejarah hanya mencatat para penjilat dalam daftar kaki yang memalukan.

Baca juga:  Topeng Kata Bijak

Sejarah hanya mengingat mereka yang pada saat kritis berani berdiri tegak dan berkata: “Cukup. Saya tidak mau ikut!”

Dari penolakan itulah lahir kebebasan. Dari kata “tidak” itulah lahir martabat.

Kita harus berani mengatakan tidak. Jika tidak, bersiaplah menjadi budak selamanya. Menjadi hamba dari kepentingan orang lain yang bahkan tidak peduli pada nasib Anda. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."