--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Anak Kampus Nakal, ‘Wali Kelas’ Panggil, Ortu Jangan Main Lari

Tanggung jawab penyelesaian masalah internal kampus diserahkan kembali kepada yayasan sebagai badan penyelenggara.

Lokapalanews.id | Saya selalu percaya satu hal: Anda bisa menyembunyikan masalah, tapi baunya akan tercium juga. Sama seperti saat saya dulu bersekolah. Murid mana pun yang punya tabiat ‘sok jago’ atau keminter pasti akan berakhir di kantor Kepala Sekolah.

Dan di dunia kampus, ternyata ceritanya sama saja. Bedanya, yang dipanggil bukan saja rektornya yang sedang berulah, tapi si orang tua yang menaunginya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kampus yang saya maksud, sebut saja Kampus X – kampus ini sedang jadi perbincangan panas. Ada gejolak internal, konon katanya akibat ulah pimpinan tertinggi yang arogan dan sewenang-wenang. Laporan pun sampai ke meja regulator pendidikan tinggi regional, yakni L2Dikti setelah didisposisikan penanganannya dari Itjen Kemendiktisaintek.

LLDikti ini ibarat ‘wali kelas’ kita di level perguruan tinggi. Tugasnya jelas: mengawasi, bukan mengasuh anak bandel setiap hari.

LLDikti bertindak cepat, memanggil semua pihak ke meja klarifikasi. Di sana duduk pengurus badan penyelenggara, si ‘Orang Tua’ yang seharusnya bertanggung jawab penuh, dan perwakilan kampus yang sedang dirundung malu.

Hasilnya? LLDikti mengeluarkan pernyataan yang bagi saya seperti sebuah sindiran halus namun telak. Mereka bilang: “Penyelesaian permasalahan ini sepenuhnya berada pada kewenangan yayasan.”. Apakah ini berarti LLDikti sudah lelah dan angkat tangan? Tidak. LLDikti sedang menegakkan prinsip yang sering dilupakan: Regulator itu penegak aturan, bukan manajer kebersihan.

Lihatlah, yang sehari-hari ‘memberi makan’ dan ‘mendidik’ si anak (kampus) itu adalah yayasan. Kalau rektornya bertingkah macam raja kecil, berlaku semena-mena hingga membuat gaduh, yang harus mencuci piring dan membersihkan nama baik ya yayasan. Jangan cuma mau dapat untungnya saja, begitu ada masalah, langsung pura-pura tidak tahu.

Baca juga:  Tolak Serah Terima tanpa Pertanggungjawaban: Ketika Pejabat Kampus Bela Kebenaran, Bukan Kekuasaan

LLDikti sudah gentle. Mereka tidak mengambil alih urusan. Mereka hanya mengembalikan ‘bola panas’ itu ke yayasan yang mengelola kampus tersebut. Pesan moralnya jelas: Anda harus bertanggung jawab atas anak yang Anda asuh!

Namun, LLDikti tidak bodoh. Mereka menutup pernyataannya dengan janji yang bagi saya sangat menohok: mereka tetap akan melakukan pemantauan. Ini seperti ‘wali kelas’ yang melepaskan muridnya pulang, tapi mengancam, “Saya akan telepon tetangga Anda, kalau besok masih ada laporan kenakalan, urusannya akan lebih besar!”

Artinya, penuntasan masalah ini tidak boleh hanya lips service.

Masyarakat, yang diwakili oleh pihak pelapor, kini menanti. Mereka menagih tindak lanjut konkret dari pihak yayasan. Sebab, biang keladi kegaduhan ini adalah soal moral dan arogansi. Kalau yayasan tidak segera memangkas ‘tanduk’ pimpinan yang arogan itu, bisa dipastikan laporan akan datang lagi.

Inilah panggung pembuktian bagi yayasan yang mengelola Kampus X. Panggilan dari LLDikti bukan sekadar surat teguran, tapi ujian integritas. Jangan sampai karena masalah arogansi pimpinan ini berlarut, LLDikti akhirnya benar-benar turun tangan dengan langkah paling keras: mencabut izin operasional. Itu namanya bukan lagi anak nakal, tapi anak hilang.

Semoga yayasan segera sadar diri, dan kita bisa melihat kampus-kampus kita kembali fokus mencerdaskan bangsa, bukan disibukkan oleh polemik internal yang memalukan. Ini PR besar bagi si Orang Tua Kampus. *R101

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."