Lokapalanews.id | Saya baru saja merenung. Sambil melihat layar ponsel yang menyala di kegelapan. Ada fenomena menarik di grup-grup WhatsApp kita belakangan ini. Fenomena orang-orang yang mendadak jadi pujangga.
Isinya seragam. Tentang moralitas. Tentang jangan menilai dari luar. Tentang betapa jahatnya kemunafikan.
Kata-katanya manis. Seperti sirup. Tapi kalau Anda perhatikan lebih dalam, ada rasa pahit yang tertinggal di ujung lidah. Pahitnya kepura-puraan.
Anda tentu tahu tipe orang seperti ini. Di status media sosial, ia adalah “orang suci”. Khotbahnya mengalir deras setiap pagi. Mengajak bahagia. Mengajak kesehatan lahir batin.
Tapi di dunia nyata? Orang-orang di sekitarnya justru merasa gerah.
Inilah yang saya sebut sebagai narsisme moral. Seseorang membangun benteng tinggi-tinggi dengan tumpukan kata bijak. Tujuannya cuma satu: agar kebusukan di dalam benteng itu tidak tercium keluar.
Ia ingin dunia percaya bahwa ia adalah korban yang disalahpahami. Bahwa “sampul” dirinya yang buruk hanyalah tipuan mata, padahal “isinya” mulia.
Padahal, integritas itu bukan soal apa yang Anda tulis di status WhatsApp. Integritas itu soal apa yang Anda lakukan ketika tidak ada orang yang melihat.
Kalau setiap hari Anda bicara soal kejujuran, tapi orang-orang terdekat justru merasa ditipu, maka status Anda itu bukan lagi nasihat. Itu adalah pengakuan dosa yang disamarkan sebagai kebijaksanaan.
Saya sering merasa kasihan pada kata-kata bijak itu. Mereka diperalat. Mereka dijadikan bedak untuk menutupi jerawat karakter yang sudah meradang.
Seorang yang benar-benar berhati mulia tidak akan sibuk meyakinkan orang lain bahwa ia mulia. Ia tidak butuh validasi dari jempol netizen. Kebaikannya akan terpancar lewat perbuatan, bukan lewat desain teks yang mencolok mata.
Sebaliknya, mereka yang haus akan pengakuan akan terus memproduksi “konten suci”. Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Semakin besar rasa bersalah di dalam hati, biasanya semakin keras suara khotbah yang dikeluarkan.
Kita harus hati-hati. Jangan sampai kita terjebak dalam kultus citra diri.
Dunia ini sudah terlalu penuh dengan kepalsuan. Jangan ditambah lagi dengan drama-drama moralitas yang sebenarnya hanyalah topeng untuk menyembunyikan perilaku buruk.
Orang yang hobi bikin ulah tapi rajin berkotbah adalah musuh nyata bagi kewarasan kolektif. Mereka merusak makna kata-kata baik. Mereka membuat orang jadi skeptis terhadap nasihat yang benar-benar tulus.
Akhirnya, kita semua jadi curiga. Kalau ada orang posting kata bijak, kita langsung berpikir: “Ada apa lagi ini? Sedang menutupi apa lagi dia?”
Saran saya sederhana. Kalau Anda merasa “isi” Anda bagus, biarkan orang lain yang membacanya. Biarkan waktu yang membuktikannya. Jangan dipaksakan lewat pengumuman setiap jam.
Sebab, sepandai-pandainya Anda memoles citra, realitas akan selalu menemukan jalan untuk meledak. Dan ketika ledakan itu terjadi, tumpukan kata bijak Anda tidak akan bisa menyelamatkan martabat Anda yang sudah hancur.
Mari kita kembali ke dasar. Sedikit bicara, banyak bekerja. Sedikit posting, banyak introspeksi.
Karena pada akhirnya, kita akan diingat bukan karena apa yang kita tulis di layar ponsel, tapi karena bekas luka atau bekas bahagia yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Apakah Anda sudah memeriksa “isi” Anda hari ini? Atau masih sibuk mengedit “sampul” agar terlihat seperti orang suci?
Kopi saya sudah dingin. Tapi pikiran saya makin panas melihat betapa murahnya harga kata-kata di tangan orang-orang yang salah. *yas






