--- / --- • 00:00 WITA

Barista Class di Milu Side Cafe Kintamani: Bukan Sekadar Ikut Tren, Kami akan terus Belajar

Barista Milu Side Cafe mengikuti kelas kopi bersama barista berinisial JA di Milu Side Cafe Kintamani, Rabu (9/9/2026) malam.

Lokapalanews.id | Kintamani – Dalam beberapa tahun terakhir, kedai kopi tumbuh di hampir setiap sudut Bali. Banyak yang dibuka karena ikut tren atau FOMO (fear of missing out), dengan modal tempat yang estetik dan menu yang sedang viral. Namun, Milu Side Cafe Kintamani memilih jalan yang berbeda. Kafe yang berada di kawasan dataran tinggi Kintamani, Bangli, ini menempatkan ilmu sebagai fondasi utama usahanya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kelas kopi untuk para barista Milu pada Rabu, 9 September 2026. Kelas ini menghadirkan barista berpengalaman berinisial JA dari salah satu kafe ternama di Bali dan berlangsung di Milu Side Cafe Kintamani mulai pukul 19.00 WITA hingga selesai.

Kelas ini bukan sekadar pelatihan teknis. Bagi Milu Side Cafe, kegiatan ini menjadi langkah awal dari perjalanan panjang untuk memahami kopi secara utuh, mulai dari kebun, biji, proses, hingga cangkir yang tersaji di hadapan pelanggan.

Berawal dari Kesadaran untuk Belajar

Di tengah persaingan kedai kopi yang semakin ketat, Milu Side Cafe menyadari bahwa tempat yang nyaman dan pemandangan indah Kintamani saja tidak cukup. Pelanggan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk menikmati kopi yang diseduh dengan benar dan disajikan oleh barista yang memahami apa yang mereka sajikan.

Kesadaran itulah yang mendorong Milu Side Cafe mencari barista berpengalaman untuk berbagi ilmu secara langsung. Alih-alih menutupi kekurangan, Milu justru memilih untuk terbuka bahwa mereka masih dan akan terus belajar.

Materi Lengkap: Dari Asal Usul Biji hingga Praktik di Meja Bar

Kelas dibuka dengan pengenalan dasar tentang biji kopi (coffee beans). JA mengajak peserta memahami perjalanan kopi sejak dari tanaman di kebun. Ia menjelaskan perbedaan dua jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi, yaitu arabika dan robusta, baik dari segi tempat tumbuh, karakter rasa, kandungan kafein, maupun cara terbaik menyajikannya.

Peserta juga mempelajari faktor yang membentuk cita rasa kopi, seperti ketinggian lahan, jenis tanah, curah hujan, dan suhu udara. Menurut materi yang disampaikan, kopi yang tumbuh di dataran tinggi cenderung matang lebih lambat sehingga menghasilkan rasa yang lebih kompleks dan tingkat keasaman yang lebih cerah.

Materi kemudian berlanjut ke proses pascapanen. Peserta dikenalkan pada proses basah (washed), proses kering (natural), dan proses honey beserta pengaruh masing-masing proses terhadap rasa kopi. Proses washed umumnya menghasilkan rasa yang bersih dan segar, sedangkan proses natural cenderung memunculkan rasa manis dan buah yang lebih kuat.

Pembahasan juga menyentuh tingkat sangrai (roasting), yaitu light, medium, dan dark roast, serta bagaimana tingkat sangrai memengaruhi aroma, keasaman, dan kepahitan kopi. Peserta diingatkan pula tentang pentingnya kesegaran biji kopi dan cara penyimpanan yang benar agar aroma dan rasanya tetap terjaga.

Mengenal Kopi dari Tanah Sendiri

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah pembahasan tentang kopi Kintamani. Kopi Arabika Kintamani dikenal sebagai salah satu kopi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat Indikasi Geografis. Kopi ini memiliki karakter rasa segar dengan sentuhan citrus yang khas, yang banyak dipengaruhi oleh kondisi alam dataran tinggi Kintamani.

Kopi ini tumbuh di lahan yang dikelola petani melalui sistem Subak Abian, sebuah sistem pengelolaan pertanian lahan kering yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Bagi para barista Milu, materi ini memberi pemahaman baru bahwa kopi yang mereka sajikan setiap hari membawa nilai budaya dan kearifan lokal Bali.

Sesi Praktik: Teori Langsung Dibuktikan

Setelah sesi teori, kelas berlanjut ke praktik langsung di meja bar. Para barista Milu mempraktikkan teknik penyeduhan dengan memperhatikan berbagai variabel penting, seperti perbandingan kopi dan air (ratio), ukuran gilingan (grind size), suhu air, teknik tuang, dan waktu ekstraksi.

JA menunjukkan bagaimana perubahan kecil pada satu variabel dapat menghasilkan perbedaan rasa yang cukup jelas. Gilingan yang terlalu halus, misalnya, dapat membuat kopi terasa pahit karena ekstraksi berlebih, sedangkan gilingan yang terlalu kasar dapat membuat kopi terasa asam dan kurang bertenaga karena ekstraksi yang kurang.

Peserta juga diajak mencicipi dan membandingkan beberapa hasil seduhan secara sistematis. Latihan ini bertujuan melatih kepekaan indra perasa barista dalam mengenali keasaman (acidity), rasa manis (sweetness), kekentalan (body), dan rasa yang tertinggal setelah kopi diminum (aftertaste).

Mempraktikkan teknik penyeduhan kopi di bawah arahan JA.

Tanya Jawab yang Hidup dan Penuh Antusiasme

Suasana kelas berlangsung hangat, santai, tetapi tetap serius. Sesi tanya jawab berjalan aktif sejak awal hingga akhir acara. Para barista Milu tidak ragu mengajukan pertanyaan tentang hal yang mereka hadapi sehari-hari di balik meja bar.

Baca juga:  Menjebol Tembok Ego Sektoral Lewat RUU Statistik

Pertanyaan yang muncul beragam. Mengapa rasa kopi bisa berubah meskipun bijinya sama? Bagaimana menyesuaikan resep seduhan ketika cuaca Kintamani sedang dingin? Bagaimana cara menjelaskan karakter kopi kepada pelanggan yang baru pertama kali mencoba kopi tanpa gula?

JA menjawab setiap pertanyaan dengan contoh dan praktik langsung sehingga peserta tidak hanya mendengar teori, tetapi juga merasakan sendiri jawabannya di dalam cangkir.

Keseriusan para barista Milu terlihat dari cara mereka mencatat setiap penjelasan, mengulang praktik, dan berdiskusi satu sama lain. Malam itu, meja bar Milu Side Cafe berubah menjadi ruang belajar yang penuh semangat.

Sesi tanya jawab berlangsung aktif selama kelas kopi di Milu Side Cafe Kintamani.

“Kami Tidak Malu Menunjukkan bahwa Kami Sedang Belajar”

Pemilik Milu Side Cafe Kintamani, Ade Rahayu, mengatakan kelas ini lahir dari kesadaran bahwa membuka kedai kopi bukan sekadar urusan tempat yang menarik atau menu yang sedang ramai dibicarakan.

“Kita tidak malu menunjukkan bahwa kita sedang dan akan terus belajar, meskipun banyak sekali orang atau kafe besar yang sudah lebih paham kopi lebih dulu. Karena orang dengan pengetahuan tinggi tidak mungkin menertawakan orang yang belajar, sebab mereka juga pernah ada di posisi seperti kita,” ujar Ade.

Menurutnya, kopi adalah produk yang memiliki perjalanan panjang, dan setiap orang yang menyajikannya punya tanggung jawab untuk memahaminya.

“Secangkir kopi itu melewati perjalanan yang panjang. Ada petani yang merawat tanamannya bertahun-tahun, ada proses panen dan pengolahan, ada proses sangrai, baru sampai ke tangan barista. Kalau kita yang berada di ujung perjalanan itu tidak paham, kita sebenarnya belum menghargai kerja keras orang-orang sebelum kita,” jelasnya.

Ade menilai pelanggan saat ini semakin cerdas dan kritis terhadap kopi yang mereka minum. Karena itu, pengetahuan barista menjadi bagian penting dari pelayanan.

“Pelanggan sekarang tidak hanya membeli rasa, tetapi juga pengalaman dan cerita. Barista yang paham kopinya bisa menjelaskan dari mana kopi itu berasal dan kenapa rasanya seperti itu. Bagi kami, itu bentuk penghormatan kepada pelanggan,” katanya.

Kintamani, Tanggung Jawab untuk Mengenalkan Kopi Lokal

Sebagai pengelola kafe yang berada di salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia, Ade merasa Milu Side Cafe memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengenalkan kopi Kintamani dengan benar.

“Kami berada di tanah yang kopinya sudah dikenal sampai ke luar negeri. Rasanya kurang tepat kalau kami menyajikan kopi Kintamani tanpa memahami ceritanya. Kami ingin setiap orang yang datang ke Milu pulang dengan pengetahuan baru tentang kopi daerah ini,” tutur Ade.

Ia berharap semakin banyak kedai kopi di Kintamani yang mau belajar, semakin kuat pula citra kopi Kintamani di mata wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Kalau kita sebagai pelaku usaha di daerah ini mau sama-sama belajar, yang diuntungkan bukan hanya kafe kami, tetapi juga petani, desa, dan nama kopi Kintamani itu sendiri,” ujarnya.

Barista adalah Aset, Bukan Sekadar Peracik Minuman

Ade juga menegaskan bahwa barista merupakan aset terpenting bagi sebuah kedai kopi. Menurutnya, investasi pada pengetahuan dan keterampilan barista sama pentingnya dengan investasi pada mesin dan peralatan.

“Mesin yang mahal tidak akan berarti apa-apa kalau orang yang menggunakannya tidak paham. Kami ingin barista kami tumbuh, tidak hanya bisa membuat kopi, tetapi juga mengerti alasan di balik setiap langkah yang mereka lakukan,” katanya.

Ia mengaku bangga melihat antusiasme timnya selama kelas berlangsung.

“Saya senang melihat mereka bertanya tanpa ragu. Bertanya itu tanda bahwa seseorang sedang berpikir dan ingin berkembang. Di Milu, tidak ada pertanyaan yang dianggap bodoh,” ujar Ade.

“Teruslah belajar,” ujar JA.

Kami Akan Terus Belajar

Ade menegaskan bahwa kelas pada 9 September 2026 ini bukan kegiatan sekali jalan. Milu Side Cafe berkomitmen melanjutkan kelas kopi secara berkala dengan materi yang semakin mendalam agar pengetahuan dan keterampilan para barista terus berkembang dan konsisten.

“Ini baru awal. Kami akan terus belajar. Hari ini kami belajar dasar, nanti kami belajar lebih dalam lagi. Belajar kopi itu tidak ada garis finisnya, karena dunia kopi terus berkembang, dan kami ingin tumbuh bersamanya,” tegas Ade.

Menurutnya, semangat belajar bukan hanya untuk para barista, tetapi juga menjadi budaya bersama di Milu Side Cafe.

“Kami ingin belajar menjadi kebiasaan, bukan kegiatan sesekali. Selama kami masih menyajikan kopi, selama itu pula kami akan terus belajar. Kami tidak pernah ingin merasa sudah cukup tahu, karena saat seseorang merasa cukup, saat itulah ia berhenti berkembang,” pungkasnya.

Melalui langkah sederhana tetapi konsisten ini, Milu Side Cafe Kintamani menunjukkan bahwa bisnis kopi yang serius dibangun dari kemauan untuk terus belajar, keberanian untuk mengakui proses, dan rasa hormat terhadap kopi beserta orang-orang di balik setiap cangkirnya. Bukan sekadar ikut tren, tetapi tumbuh bersama ilmu. *R

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."