Lokapalanews.id | Jakarta – Menteri Keuangan Suahasil Nazara mencatat pendapatan negara mencapai Rp 2.055,6 triliun hingga akhir Agustus 2026, menekan defisit APBN pada level aman 0,93 persen terhadap PDB di tengah gejolak pasar global.
Capaian tersebut setara 65,2 persen dari target APBN, melesat 25,4 persen secara tahunan.
Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama dengan torehan Rp 1.619,3 triliun. Dari jumlah itu, setoran pajak menyumbang Rp 1.409,0 triliun, terkatrol oleh pemulihan aktivitas bisnis dan pembaruan sistem Coretax. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak melonjak 41,7 persen hingga menyentuh Rp 435,1 triliun.
“Di tengah dinamika global yang masih sangat dinamis, APBN harus tetap hadir untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus melindungi masyarakat,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBNKita di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Dari sisi pengeluaran, belanja negara terkerek 17,1 persen menjadi Rp 2.295,7 triliun. Realisasi belanja pemerintah pusat menembus Rp 1.791,5 triliun, yang tersalurkan untuk perlindungan sosial Rp 104,5 triliun, mencakup Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, hingga bantuan iuran kesehatan.
Program Makan Bergizi Gratis menyedot realisasi anggaran Rp 134,2 triliun untuk melayani 57 juta penerima manfaat lewat 27.485 satuan pelayanan.
Pemerintah juga mengalokasikan Rp 331,4 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi guna menahan kejatuhan daya beli masyarakat dari gejolak harga minyak mentah dunia.
Penyaluran Transfer ke Daerah terkerek naik menjadi Rp 504,3 triliun. Penyerapan anggaran daerah yang membaik dan tambahan alokasi penanganan bencana di Sumatra mendorong akselerasi penyaluran dana tersebut.
Postur ini menghasilkan defisit anggaran Rp 240,1 triliun. Namun, keseimbangan primer masih mencatat surplus kuat senilai Rp 154,0 triliun.
Guna menutup celah anggaran, pembiayaan utang neto ditarik sebesar Rp 506,0 triliun melalui penerbitan Surat Berharga Negara yang terukur. *R102






