Lokapalanews.id | Saya baru saja membaca sebuah catatan. Isinya bukan deretan angka atau data statistik yang membosankan. Isinya adalah kemarahan. Sebuah kesaksian yang terasa seperti tamparan keras bagi mereka yang duduk manis di kursi empuk kekuasaan kampus.
Penulisnya bicara soal “mengawetkan bangkai”. Sebuah metafora yang brutal, tapi jujur. Ia melihat bagaimana nilai-nilai perjuangan hanya dijadikan pajangan di dinding. Lencana dipakai, lagu patriotik dinyanyikan, tapi nyalinya? Kosong.
Ini adalah fenomena yang sering saya lihat di berbagai lembaga. Kita terjebak dalam seremonial yang melelahkan. Kita sibuk dengan protokol, tapi lupa pada esensi. Kemerdekaan dirayakan dengan upacara, tapi saat korupsi melambai di depan hidung, semua mendadak sariawan.
Poin soal “Raja Kecil” di kampus benar-benar menggelitik saya. Kampus seharusnya menjadi ruang paling demokratis di muka bumi. Tempat di mana ide diadu, bukan tempat di mana kritik dibungkam.
Jika seorang pemimpin kampus merasa tak tersentuh, ia sedang membangun koloni baru. Ia lupa bahwa jabatan itu amanah, bukan singgasana. Menjadi pemimpin yang angkuh hanya membuktikan satu hal: ia sedang meniru perilaku penguasa kolonial yang dulu kita usir dengan darah.
Tapi yang paling membuat saya mengelus dada adalah soal kriminalisasi candaan. Ini benar-benar puncak kepandiran, seperti kata catatan itu. Bagaimana mungkin sebuah institusi intelektual kehilangan selera humornya?
Melaporkan rekan sejawat ke polisi karena sebuah candaan adalah tanda jiwa yang kerdil. Hukum digunakan bukan untuk menegakkan keadilan, tapi untuk memukul mereka yang dianggap tidak sejalan. Ini pengecut. Luar biasa pengecut.
Bayangkan, kita dulu berjuang agar anak cucu kita bisa bicara bebas. Sekarang, bicara saja harus lihat kiri-kanan. Bahkan tertawa pun harus diatur skenarionya agar tidak dianggap menghina “sang baginda”.
Jika candaan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional tingkat tinggi, artinya ada yang salah dengan mental penguasanya. Hanya orang yang merasa posisinya rapuh yang akan gemetar mendengar tawa.
Sejarah memang tidak mencatat mereka yang hanya rajin ikut upacara. Sejarah mencatat mereka yang berani berkata “tidak” pada kezaliman. Meskipun perintah itu datang dari atasan yang merasa dirinya Tuhan.
Membaca kesaksian ini, saya merasa ada integritas yang memang sedang dikubur hidup-hidup. Akal sehat sedang sekarat di bawah kaki arogansi. Kampus yang seharusnya menjadi mercusuar kebenaran, kini justru menjadi tempat persembunyian para penakut.
Mungkin benar usulan itu. Turunkan bendera setengah tiang. Bukan karena raga yang mati, tapi karena nurani yang sudah lama tak terdengar detaknya.
Kita sedang menonton teater yang buruk. Dan penontonnya sudah mulai muak. *yas






