Lokapalanews.id | Minggu lalu, saya menonton sebuah film dokumenter lama. Tentang seorang kakek di desa yang masih menyimpan cangkul tua peninggalan ayahnya. Cangkul itu bukan sekadar besi dan kayu – melainkan simbol. Simbol kerja keras saat sawah pertama kali dibuka, saat kemerdekaan masih seumur jagung, saat hidup berat tapi semuanya terasa jujur.
Lalu saya berpikir, apa simbol perjuangan kita hari ini? Masih seberat cangkul itu, atau sudah seringan janji – mudah diucapkan, cepat dilupakan?
Pertanyaan itu muncul lagi ketika dua berita dari Bali mendarat di meja kerja saya. Dua peristiwa berjarak 79 tahun, tapi rasanya seperti dua dunia.
Berita pertama: Upacara Hari Puputan Margarana ke-79. Gubernur Wayan Koster berdiri di Taman Pujaan Bangsa, menghormat pada Letkol I Gusti Ngurah Rai dan 69 pasukan Ciung Wanara. Mereka memilih puputan – bertarung sampai mati – ketimbang menandatangani kompromi dengan Belanda. “Pasukannya tidak mengenal kata kompromi,” begitu bunyi “surat sakti” Ngurah Rai yang melegenda itu.
Koster mengingatkan, kemerdekaan tak pernah jatuh dari langit. Ia lahir dari keberanian, kebersamaan, dan keikhlasan.
Keikhlasan. Kata yang terasa semakin mahal hari ini.
Lalu muncul berita kedua: sebuah Mosi Tidak Percaya dari dosen dan pegawai di salah satu perguruan tinggi yang ditujukan kepada yayasan yang merupakan badan penyelenggaraan dari perguruan tinggi ini. Tak ada upacara. Tak ada bendera setengah tiang. Tapi isinya lebih panas daripada upacara mana pun.
Memprihatinkan, di satu sisi ada pahlawan yang mengorbankan nyawanya demi bangsa. Di sisi lain, ada pimpinan lembaga pendidikan yang – jika tuduhan itu benar – tak sanggup mengorbankan ego demi transparansi.
Kontrasnya bikin kepala pening.
Lebih miris lagi, kampus terancam kehilangan akreditasi. Bukan ancaman granat atau serdadu, tapi ancaman yang tak kalah mematikan: runtuhnya masa depan mahasiswa yang membayar untuk pendidikan yang seharusnya nyata.
Para dosen dan pegawai lalu mengambil sikap. Mereka menuntut audit forensik, meminta pembatalan keputusan yang dianggap melanggar statuta – terutama pergantian pimpinan tanpa keterlibatan senat (yang ironisnya bahkan belum dibentuk).
Ini semacam Puputan versi akademik.
Bukan dengan bambu runcing, tapi dengan integritas. Dengan keberanian menantang atasan yang mereka anggap menyimpang. Dengan menolak kompromi – bukan dengan penjajah, tapi dengan ketidakbenaran.
Surat mosi itu, pada hakikatnya, adalah “surat sakti” tahun 2025. Musuhnya bukan Belanda, tapi dugaan korupsi, kepemimpinan otoriter, dan tata kelola yang amburadul.
Koster menyerukan agar generasi muda menjaga kemerdekaan lewat kontribusi nyata. Tapi bagaimana sebuah institusi pendidikan memberi kontribusi nyata bila mereka yang memegang kekuasaan diduga bermain proyek fiktif dan membiarkan akreditasi tergelincir?
Integritas itu mahal. I Gusti Ngurah Rai membayarnya dengan nyawa. Para dosen dan pegawai ini membayarnya dengan risiko karier.
Pertanyaan pentingnya: apakah semangat puputan hanya kita rayakan setahun sekali, sementara setiap hari kita biarkan nilai-nilainya mati pelan-pelan di ruang kelas dan ruang rapat?
Kalau kita ingin maju, ingin bermartabat – tema besar peringatan Puputan Margarana tahun ini – maka kita harus membersihkan rumah sendiri. Kita harus memilih menjadi pahlawan kecil yang nyata, atau sekadar pengucap janji dan produsen proyek fiktif.
Keputusan kini ada di tangan yayasan. Apakah mereka ingin dikenang sebagai penjaga integritas, atau sebagai pihak yang membiarkan sebuah institusi mati bukan oleh peluru, melainkan oleh kelalaian dan ketidakjujuran internal?
Saya pribadi memilih memegang cangkul tua itu. Berat, tapi nyata. Tidak seperti proyek fiktif yang hanya hidup di atas kertas. Merdeka! *101






