--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Pecat Pakai WA

Lokapalanews.id | Pagi-pagi saya menyeruput kopi pahit sambil menatap layar HP yang bergetar.

Bukan pesan dari kawan lama atau tagihan kartu kredit.

Melainkan sebuah “surat cinta” digital yang mendarat manis lewat aplikasi WhatsApp.

Dibuka dengan ucapan Om Swastiastu yang begitu khidmat.

Dihiasi kalimat ucapan terima kasih nan santun.

Lalu ditutup rapat dengan doa Shanti yang sangat syahdu.

Luar biasa memang gaya kepemimpinan zaman now.

Semua dibungkus rapi dengan topeng keagamaan dan kepatutan birokrasi.

Tapi begitu dibaca isinya, jidat langsung berkerut seribu.

Isinya jelas dan tanpa tedeng aling-aling.

Pemberhentian sepihak.

Seorang dosen senior yang sudah bertahun-tahun mendedikasikan hidupnya mengajar di kampus yang mengusung visi kebangsaan itu tiba-tiba didepak begitu saja dari grup resmi institusi.

Alasannya klise.

Katanya demi menjaga tertib administrasi dan komunikasi kelembagaan.

Sebuah alasan klasik yang sering dipakai penguasa birokrasi ketika ingin menyingkirkan orang yang dianggap rewel.

Padahal, ada satu hal kecil tapi sangat fundamental yang dilompati begitu saja dengan anggunnya.

Masa kontrak kerja dosen tersebut masih aktif.

Sah diteken hitam di atas putih oleh pihak yayasan.

Di sinilah letak ironi yang bikin dada sesak seketika.

Pimpinan institusi bertindak seolah-olah penguasa absolut di kerajaan fiktif.

Mereka bisa memutus tali pengikatan hukum sesuka jidat.

Hanya karena kupingnya sudah tipis dan tidak tahan mendengarkan pandangan kritis.

Padahal dosen itu dibayar untuk berpikir kritis, bukan jadi pengekor yang manggut-manggut saja setiap kali pimpinan ngomong.

Lalu… ketika ada dosen yang bersuara menyampaikan kritik di grup WhatsApp, alih-alih diajak duduk bersama berdiskusi secara ksatria, apa yang terjadi?

Ruang bantahan langsung dikunci rapat.

Tombol remove from group ditekan seketika tanpa ampun.

Sebuah aksi gaslighting institusional tingkat dewa.

Memecat secara sepihak, tapi dibungkus rapi dengan retorika manis demi menjaga keharmonisan dan kekeluargaan semu.

Di dunia perguruan tinggi swasta, konflik klasik semacam ini sudah sering jadi tontonan harian yang melelahkan.

Yayasan adalah badan penyelenggara sah yang memegang mandat penuh sekaligus meneken kontrak kerja resmi.

Sementara ketua institusi?

Mereka hanyalah pelaksana harian di lapangan.

Bukan pemilik saham mutlak, bukan pula penentu tunggal nasib pegawai.

Baca juga:  KAI Daop 6 Yogyakarta Dukung Wisata Inklusif Yayasan Rumah Difabel Indonesia dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 di Stasiun Solo Balapan

Kalau kontrak resmi dari yayasan saja masih berlaku sah, lalu dengan dasar hukum apa pimpinan eksekutif main tendang orang seenaknya?

Tanda tangan yayasan itu bukan stempel mainan di pasar malam yang bisa diabaikan begitu saja hanya karena ego pimpinan kebetulan sedang tersenggol angin.

Kampus seharusnya berdiri kokoh sebagai laboratorium akal sehat.

Tempat di mana perbedaan pendapat dirawat dengan kepala dingin, bukan dibabat habis pakai jurus kekuasaan ala preman berdasi.

Tapi kalau suara kritis dari dosen malah dianggap sebagai gangguan ketenteraman batin penguasa kampus, maka yang sedang dibangun bukanlah peradaban akademik yang mencerahkan.

Melainkan zona nyaman yang empuk bagi mental-mental otoriter yang alergi pada koreksi.

Usut punya usut, mentalitas seperti ini yang sering merusak marwah dunia pendidikan tinggi kita.

Pimpinan kampus sering kali lupa diri begitu menduduki kursi empuk ber-AC.

Merasa diri paling benar, paling berkuasa, dan tidak boleh disentuh oleh evaluasi.

Padahal kampus hidup dari dinamika pemikiran.

Kalau ruang diskusi sudah dibungkam lewat tombol hapus dari grup, apa bedanya kampus dengan markas militer zaman baheula?

Dosen itu boleh saja dikeluarkan dari grup WhatsApp detik ini juga.

Hak suaranya di ruang komunikasi resmi dipangkas habis tanpa sisa.

Tapi sejarah panjang pengabdian bertahun-tahun di kampus tercinta itu tidak akan pernah bisa dihapus begitu saja hanya dengan satu klik jempol seorang admin grup yang baperan.

Repotnya, pimpinan model begini sering lupa ingatan soal roda nasib.

Jabatan itu fana.

Kekuasaan empuk ada masa edarnya.

Esok lusa kalau masa jabatan habis, mereka juga bakal turun dari singgasana kehormatan.

Yang abadi di dunia ini hanyalah rekam jejak integritas seseorang.

Mari kita tonton dan lihat bersama-sama dengan kepala dingin.

Apakah tanda tangan yayasan masih punya tuah yang sakti mandraguna, atau justru tunduk lesu pada arogansi birokrasi kampus yang salah kaprah? *yas

Lokapala Newsroom
Eksklusif Lokapalanews.id
Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."