--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Profesor Tanpa Gelar

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda bertemu orang yang baru saja lulus ujian, SK-nya bahkan belum kering, tapi sudah mewanti-wanti orang di sekitarnya? Katanya, “Mulai besok, panggil saya Profesor ya.”

Kejadian ini saya dengar langsung dari cerita Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Beliau menuturkan itu di depan para calon penerima Beasiswa Garuda di Jakarta, Kamis lalu.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Pak Menteri, yang sehari-harinya memang seorang Guru Besar di ITB, merasa perlu menyentil budaya kita yang satu ini. Menurutnya, kegilaan pada gelar akademik itu tidak lazim di banyak negara maju.

Saya jadi membayangkan betapa lelahnya hidup jika setiap tarikan napas harus dibarengi dengan tuntutan pengakuan. Integritas kita seolah ditentukan oleh selembar kertas SK, bukan dari kedalaman isi kepala.

Pak Brian kemudian memberi perbandingan yang sangat kontras dengan sosok Omar Yaghi. Dia adalah peraih Nobel Kimia 2025 yang namanya mentereng di dunia riset internasional.

Sebagai University Professor di UC Berkeley, tentu dia punya segala alasan untuk menuntut penghormatan. Apalagi H-index miliknya mencapai angka 202, sebuah pencapaian yang mungkin membuat ribuan peneliti lain hanya bisa menelan ludah.

Tapi, apa katanya? Saat bertemu orang lain, dia justru berpesan agar tidak memanggilnya dengan gelar jabatan akademik.

Dia hanya ingin disapa “Omar”. Cukup itu saja.

Saya tanya dalam hati, apakah kita sanggup se-rileks itu? Padahal, karya Omar Yaghi sudah mengubah dunia, mulai dari teknologi memanen air dari udara gurun hingga menangkap karbon dioksida.

Karyanya bukan sekadar pajangan di jurnal ilmiah, tapi menjadi solusi nyata bagi masalah kemanusiaan. Dibandingkan dengan itu, rasanya mengejar gelar “Prof” sebelum waktunya sungguh terasa seperti drama yang tidak perlu.

Pak Menteri menekankan bahwa para penerima beasiswa ke luar negeri harus belajar untuk humble. Beliau mengingatkan bahwa orang sombong pun pada dasarnya tidak akan pernah menyukai orang yang sombong.

Beliau melihat fenomena haus gelar ini sebagai tantangan budaya kita di dunia akademik. Kita terlalu sibuk memoles kulit luar, namun terkadang lupa membangun substansi di dalam.

Baca juga:  Cinta, Jeruji, dan DPO

Pak Brian berpesan agar para pelajar fokus pada kerja keras dan ketekunan. Orang-orang hebat dunia tidak banyak drama dan tidak sibuk tampil di panggung untuk sekadar dipuji.

Mereka justru sibuk di lab, sibuk meriset, dan sibuk memecahkan masalah. Mereka bekerja dalam senyap, jauh dari ingar-bingar tuntutan gelar yang semu.

Saya termenung mendengar pesan beliau tentang pentingnya survival. Sebagai menteri, Pak Brian pun merasakan sendiri bahwa setiap hari selalu ada masalah baru yang harus diselesaikan.

Jadi, buat apa repot-repot mengejar sapaan hormat kalau masalah di depan mata saja tidak mampu kita urai?

Pesan ini sebenarnya adalah pengingat untuk kita semua. Bahwa di tengah dunia yang terus berubah, kompetensi adalah raja, sementara gelar hanyalah pelengkap.

Jika kita masih saja terkungkung pada budaya senioritas dan gila hormat, bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan dunia yang sudah bergerak lebih jauh?

Para penerima beasiswa ini tentu adalah aset masa depan Indonesia. Mereka akan menuntut ilmu di berbagai kampus top luar negeri atau program double degree yang bergengsi.

Mereka diharapkan membawa pulang ilmu, bukan sekadar membawa pulang ego. Mereka harus menjadi pembawa perubahan, bukan menjadi beban baru bagi sistem yang sudah rumit ini.

Saya sepakat dengan Pak Menteri bahwa pendidikan harus mencetak pemimpin yang rendah hati. Pemimpin yang punya nyali untuk pulang ke tanah air dan berani menghadapi tantangan nyata.

Bukan pemimpin yang hanya berani berdebat soal tata cara memanggil namanya. Bukan pula pemimpin yang merasa kecil tanpa gelar yang disandangnya.

Dunia akademik memang menuntut ketajaman intelektual yang tinggi. Tapi, kecerdasan tanpa kerendahan hati hanyalah akan melahirkan menara gading yang angkuh.

Bukankah ilmu seharusnya membuat kita makin berisi dan makin merunduk, layaknya padi yang siap dipanen?

Siapa sebenarnya yang lebih hebat, pemilik gelar yang haus pujian atau mereka yang namanya dikenal dunia justru karena solusinya? *yas

👁️ 5.638 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."