--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Integritas Harga Mati

Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat.

Lokapalanews.id | Anak kecil itu pulang sekolah dengan wajah berseri-seri. Ia bercerita tentang gurunya yang baru saja mengajarkan bahwa mengambil pensil teman tanpa izin adalah awal dari sebuah kehancuran.

Saya tertegun mendengar cerita itu. Ternyata, urusan korupsi memang harus diselesaikan dari meja-meja kelas sekolah dasar.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Sederhana.

Tapi praktik di lapangan jauh dari kata sederhana. Lestari Moerdijat, anggota Komisi X DPR RI, baru saja angkat bicara soal ini.

Menurutnya, mengandalkan regulasi atau surat edaran saja tidak akan mempan. Harus ada napas integritas yang dihirup anak-anak setiap hari di rumah dan sekolah.

Saya ingat betul betapa repotnya urusan penerimaan murid baru tiap tahun. Titipan sana-sini, rekayasa domisili, sampai pungutan liar yang sudah jadi rahasia umum.

KPK sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2026 sebagai benteng. Larangannya jelas: jangan ada gratifikasi, jangan ada permainan kursi.

Tapi, apakah aturan saja cukup?

Hasil Survei Penilaian Integritas Pendidikan tahun 2024 menunjukkan angka yang membuat kita harus menghela napas panjang. Indeksnya baru menyentuh angka 69,50 dari skala 100.

Masih jauh dari kata ideal.

Rerie, sapaan akrab politisi NasDem ini, mengingatkan bahwa masih ada toleransi terhadap kecurangan. Banyak yang menganggap gratifikasi sebagai tanda terima kasih yang wajar.

Padahal, itu adalah virus.

Kalau guru dan orang tua saja menganggap pemberian hadiah dalam proses pendidikan itu lumrah, bagaimana kita berharap anak didik kita akan jujur saat dewasa nanti?

Ini bukan lagi soal administratif. Ini soal moralitas.

Rerie menegaskan bahwa tanpa integritas, kita hanya akan memproduksi lulusan yang cerdas otaknya tapi keropos karakternya. Sebuah peringatan keras bagi sistem pendidikan kita.

Baca juga:  Nasionalisme di Atas Kertas

Kita tidak butuh generasi yang pintar tapi piawai mengakali aturan. Kita butuh generasi yang punya ketangguhan moral untuk berkata tidak pada korupsi.

Bukan sekadar seremonial.

Pendidikan antikorupsi harus menjadi budaya yang mengakar kuat. Bukan sekadar hafalan di buku pelajaran yang dilupakan setelah ujian selesai.

Jika akar kejujuran sudah dipotong sejak dini, buah seperti apa yang sedang kita harapkan untuk masa depan bangsa? *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."