--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Catatan Paradoks Wayan Suyadnya

Lokapalanews.id | Ngembak Geni kali ini terasa berbeda. Heningnya belum benar-benar hilang dari langit Bali. Tapi kabar duka itu datang lebih cepat dari suara kendaraan. Wayan Suyadnya sudah tiada. Ia berpulang tepat saat alam baru saja bangun dari tidurnya. Jumat, 20 Maret 2026. Pukul 10.29 Wita di RS Bali Mandara. Umurnya 61 tahun. Bagi sebagian orang, itu angka yang cukup. Bagi dunia pers Bali, itu kehilangan yang prematur. Sebab, sosok seperti Wayan Suyadnya sulit dicari duplikatnya.

Saya teringat gaya bicaranya. Tegas. Lugas. Tanpa basa-basi. Jika ia bilang A, maka tetap A. Ia bukan tipe wartawan yang suka “menggoreng” berita demi pesanan. Idealisme baginya bukan sekadar kata di buku kuliah. Itu adalah nafas yang ia hirup setiap hari. Dulu, ia besar di Bali Post. Lalu ia memilih jalannya sendiri. Membangun Pos Bali, lalu Media Bali. Ia membuktikan satu hal penting. Wartawan bisa tetap hidup tanpa harus menjual jiwanya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Wayan Suyadnya adalah anomali di tengah industri yang kian cair. Industri yang kadang lebih peduli klik daripada etik. Ia justru asyik dengan “Catatan Paradoks”-nya. Sebuah seri opini yang sering membuat kuping penguasa merah. Tapi ia tidak menghina. Ia mengkritik dengan logika yang jernih. Ia membedah sistem, bukan menyerang pribadi. Inilah kelas seorang jurnalis senior. Tahu di mana batas antara kritik dan caci maki.

Saya sering merenung soal keberaniannya. Di Bali, lingkaran pergaulan itu sempit. Semua orang kenal semua orang. Seringkali, rasa “ewuh pakewuh” atau sungkan membunuh daya kritis. Tapi Wayan Suyadnya berbeda. Ia berani berhadapan dengan siapa pun demi kebenaran. Bahkan saat ia menjabat sebagai Komisioner KPID Bali. Ia tetap menjadi penjaga gawang yang galak bagi isi siaran. Ia ingin publik mendapatkan informasi yang bersih. Bukan sampah yang dibungkus kemasan menarik.

Ada momen “aha” yang selalu muncul dari tulisannya. Ia sering mengambil cerita kecil di pinggir jalan. Lalu ditarik ke persoalan kebijakan yang besar. Itu adalah teknik bercerita yang paling sulit. Membuat masalah rumit menjadi sangat sederhana. Ia tak butuh jargon-jargon intelektual yang melangit. Ia hanya butuh kejujuran dalam melihat realita. Baginya, jurnalisme adalah alat untuk meluruskan yang bengkok.

Baca juga:  Kongres PWI Perkuat Demokrasi di Tengah Disrupsi

Kini, kursi di kantor Media Bali akan terasa kosong. Grup WhatsApp jurnalis Bali kehilangan satu suara kritisnya. Ia pergi saat Nyepi baru saja usai. Seolah-olah ia menunggu dunia sunyi terlebih dahulu. Agar perjalanannya menuju keabadian tidak terganggu bising kota. Nyepi menjadi ritual keheningan terakhir yang ia jalani. Sebuah perpisahan yang sangat puitis bagi seorang penulis.

Dunia pers kita sedang tidak baik-baik saja. Banyak media kini terjebak dalam pusaran hoaks. Atau terjebak dalam ketergantungan kontrak iklan yang membungkam. Wayan Suyadnya adalah pengingat. Bahwa integritas masih punya harga di pasar ide. Ia meninggalkan jejak yang dalam bagi jurnalis muda. Bahwa menjadi wartawan bukan soal punya kartu pers saja. Tapi soal berani berkata “tidak” pada ketidakadilan.

Kepergiannya di usia 61 tahun akibat sakit jantung adalah pengingat lain. Pekerjaan ini memang melelahkan secara fisik dan mental. Memikirkan nasib publik setiap hari tentu menguras energi. Tapi Wayan Suyadnya tidak pernah mengeluh. Ia terus menulis hingga akhir hayatnya. Kritiknya di media sosial akan terus dibaca orang. “Catatan Paradoks” akan menjadi warisan intelektualnya. Sebuah dokumen sejarah tentang Bali yang pernah punya jurnalis berani.

Saya membayangkan ia sekarang sedang tersenyum di sana. Melihat kita yang masih sibuk dengan urusan duniawi. Mungkin ia sedang menyiapkan “Catatan Paradoks” versi surgawi. Mengamati bagaimana kita meratapi kepergiannya. Tapi ia pasti tidak ingin kita hanya menangis. Ia ingin kita terus menulis. Ia ingin kita tetap kritis. Dan yang paling penting, ia ingin kita tetap jujur.

Selamat jalan, Bli Wayan Suyadnya. Amor Ing Acintya. Tugasmu menjaga kebenaran di bumi sudah selesai. Kini biarlah tinta penamu beristirahat dengan tenang. Dunia pers Bali berhutang banyak padamu. Kami akan terus mengenang caramu memandang dunia. Dunia yang penuh paradoks, namun indah jika diperjuangkan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."