Lokapalanews.id | Saya baru saja meletakkan HP. Layarnya masih hangat. Ada pesan panjang masuk. Isinya curhat. Bukan curhat asmara. Ini curhat soal luka yang menganga di sebuah lembaga pendidikan.
Si pengirim pesan merasa habis. Ia dipojokkan. Ia dituduh sebagai bagian dari “sindikat”. Sebuah kata yang sangat jahat untuk disematkan pada orang-orang yang selama ini justru menjaga napas kampus agar tidak berhenti total.
Hanya karena satu hal: menerima sumbangan sukarela.
Mari kita bedah sisi kemanusiaannya. Siapa mereka yang disebut sindikat ini? Mereka adalah karyawan yang gajinya dipotong habis-habisan. Akibat kebijakan ugal-ugalan si bos. Kebijakan yang membuat kas lembaga kering kerontang. Yayasan? Angkat tangan. Tak berdaya.
Dalam kondisi perut lapar dan dapur yang tak lagi mengepul, mereka masih bertahan. Mereka masih melayani. Lalu datanglah mahasiswa. Penerima beasiswa yang merasa terbantu. Karena tahu kampus sedang krisis, mereka urunan. Sukarela. Sebagai tanda terima kasih. Tanpa paksaan. Ada surat pernyataannya.
Ini adalah bentuk solidaritas akar rumput. Saat pemimpinnya gagal mengelola keuangan, bawahannya saling menguatkan. Tapi apa balasannya?
Si bos – yang pura-pura tidak tahu padahal ia adalah sutradaranya – tiba-tiba berteriak: “Sindikat!”
Ia mengutus dosen “loyal”. Dosen yang lebih takut kehilangan muka di depan bos daripada kehilangan integritas di depan mahasiswa. Tugasnya ngeri: menekan mahasiswa. Intimidasi. Paksa mereka mengaku kalau itu pungutan liar. Paksa mereka mengaku kalau diperas.
Inilah cara kerja arogan. Kebenaran dipaksa menekuk lutut. Sukarela dipaksa jadi “pemerasan” agar tuduhan sindikat itu punya kaki untuk berdiri.
Tapi tunggu dulu. Mari kita lihat “sindikat” yang sebenarnya. Yang jauh lebih mewah. Lebih “gila”.
Ada seorang anak. Anak dari orang kuat di sana. Ia ikut program beasiswa KIP. Beasiswa untuk mereka yang miskin. Yang tidak punya biaya untuk sekolah tinggi.
Anehnya, si anak kuliah di luar daerah. Jauh sekali. Di kampus yang menetapkan dia sebagai penerima KIP, ia tak pernah terlihat. Batang hidungnya pun tidak pernah nampak di kelas. Apalagi di perpustakaan.
Tapi, keajaiban terjadi. Ia bisa lulus tepat waktu. Prestasinya pun dibanggakan secara resmi. Hebat sekali bukan? Punya kesaktian bisa membelah diri. Kuliah di tempat lain, tapi lulus di kampus ayahnya dengan status penerima beasiswa orang miskin.
Dua gelar diraih dalam waktu bersamaan. Tanpa perlu menapakkan kaki di ruang kuliah kampus pemberi dana. Tanpa perlu berkeringat. Inilah definisi sindikat yang paripurna: terstruktur, sistematis, dan melibatkan kuasa keluarga.
Mahasiswa lain yang benar-benar miskin hanya bisa mengelus dada. Mereka berjuang mati-matian mencari sinyal. Sedangkan si anak sakti ini santai saja menikmati fasilitas negara lewat jalur belakang.
Lalu, si bos teriak-teriak soal sumbangan sukarela yang jumlahnya mungkin tidak seberapa. Yang kalaupun jadi temuan, mereka yang dituduh siap mengembalikan saat itu juga. Karena mereka punya harga diri.
Tapi, bagaimana dengan uang lembaga yang jumlahnya ratusan juta? Yang sampai sekarang tak jelas rimbanya. Menguap begitu saja seperti embun pagi yang tersengat matahari. Kenapa si bos diam saja? Kenapa tidak ada tim investigasi untuk uang ratusan juta itu?
Inilah fenomena maling teriak maling yang paling telanjang.
Menuding orang-orang kecil sebagai “sindikat” hanyalah cara untuk menutupi lumpur di kaki sendiri. Menekan karyawan yang kelaparan hanyalah taktik agar publik lupa pada beasiswa anak sendiri yang tak masuk akal itu.
Si bos ingin terlihat bersih dengan cara mengotori orang lain. Ia ingin terlihat pahlawan dengan cara mengorbankan bawahan yang sudah setia meski gaji dipotong demi ambisinya.
Hati-hati, Bos. Anda mungkin punya kuasa untuk menekan mahasiswa agar mengaku bohong. Anda mungkin punya dosen suruhan untuk menjalankan skenario busuk. Tapi Anda tidak punya kuasa untuk membungkam nurani kolektif.
Orang yang Anda sebut sindikat itu adalah manusia yang punya keluarga. Mereka punya martabat yang sedang Anda injak-injak demi menutupi borok manajemen Anda sendiri.
Sejarah selalu mencatat: pemimpin yang membangun kekuasaan di atas intimidasi dan kebohongan, biasanya akan runtuh oleh kebohongannya sendiri.
Jangan sampai nanti, saat semua tabir terbuka, rakyat justru melihat bahwa sindikat yang sesungguhnya duduk di kursi empuk paling atas.
Krisis keuangan mungkin bisa diatasi. Tapi krisis karakter? Itu adalah awal dari sebuah kejatuhan yang permanen.
Kita tunggu saja. Apakah ratusan juta itu akan kembali, atau justru teriakan “maling” itu akan berbalik arah menuju hidung si bos sendiri? Kita tunggu saja! *yas






