--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Si Paling Benar

Seorang pria duduk di kursi besar di atas panggung, sementara di bawahnya orang-orang kecil memanggul kakinya yang berat, menggambarkan beban bawahan menghadapi pemimpin yang tak mau turun dari egonya.

Lokapalanews.id | Saya baru saja menutup telepon. Dari seorang dosen senior. Suaranya gemetar. Bukan karena usia. Tapi karena menahan geram. Dia baru saja keluar dari ruang rapat. Rapat yang dia sebut sebagai “sidang penghakiman”.

Di sana ada Sang Rektor. Duduk di kursi paling empuk. Di kelilingi para wakilnya yang rajin mengangguk. Masalahnya sepele: serapan anggaran yang macet. Padahal macetnya karena sistem digital baru yang dibuat pusat. Sistem yang belum siap tapi dipaksa jalan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Apa yang terjadi di rapat itu? Sang Rektor tidak mau dengar soal sistem. Dia tidak mau tahu soal kendala teknis. Dia hanya mau satu hal: Dia tidak boleh terlihat gagal.

Maka, mulailah peluru dimuntahkan. Dosen itu disalahkan. Pegawai administrasi disebut malas. Dekan dianggap tidak becus. Kalimatnya tajam. Menohok. Menyakitkan. Seolah-olah seluruh kegagalan di perguruan tinggi adalah dosa kolektif bawahan, sementara prestasi adalah kerja tunggal Sang Pemimpin.

Saya hanya menarik napas panjang. Inilah wajah lain dari Narcissistic Personality Disorder. Di kampus. Di level paling tinggi. Namanya mentereng, tapi perilakunya purba.

Bagi Anda yang bekerja di bawah struktur seperti ini, hidup rasanya seperti berjalan di atas kulit telur. Pecah salah, tidak pecah juga dicurigai.

Mengapa Sang Rektor tidak bisa bilang: “Maaf, sistem ini memang belum siap”?

Karena bagi seorang NPD, kata “maaf” dan “salah” adalah racun. Mengakui kesalahan berarti merobohkan singgasana yang dia bangun dengan susah payah. Di kepalanya, dia adalah perwujudan dari institusi itu sendiri. Kalau dia salah, berarti perguruan tinggi hancur. Begitu logikanya. Padahal itu hanya logikanya sendiri.

Anda harus tahu. Di balik wibawa jubah kebesarannya, ada ego yang sangat ringkih. Setipis tisu dibagi dua. Maka dia butuh “benteng” pelindung.

Senjata pertamanya: Denial. Penyangkalan. Laporan staf yang jujur dianggap hoaks. Angka-angka yang merah dianggap salah hitung oleh pegawai. Pokoknya, di mata dia, semua baik-baik saja selama dia yang memimpin.

Senjata kedua: Blame Shifting. Ini yang paling sering dirasakan para pegawai. Ada masalah parkir? Salah satpam. Ada masalah akreditasi? Salah dosen yang tidak rajin meneliti. Ada masalah korupsi? Salah bagian keuangan yang tidak teliti. Dia? Dia hanya pemberi perintah yang suci dari noda.

Baca juga:  Jangan Baca Kalau Lemah

Lalu yang paling ngeri: Gaslighting tingkat tinggi. Pegawai yang vokal diingatkan soal “loyalitas”. Dosen yang kritis dituduh “merusak nama baik almamater”. Anda yang punya kebenaran, dibuat merasa menjadi pengkhianat. Anda yang waras, dipaksa percaya bahwa Anda adalah masalahnya.

Saya sering melihat ini. Di organisasi manapun. Orang NPD sangat haus akan validasi. Dia butuh orang-orang di sekelilingnya menjadi cermin yang hanya memantulkan kehebatannya. Kalau cermin itu mulai menunjukkan keriput atau noda di wajahnya, cermin itu harus dipecahkan.

Itulah mengapa banyak pegawai yang pilih diam. Pilih cari aman. Pilih jadi “Yes Man“. Karena berdebat dengan orang NPD adalah kesia-siaan paling hakiki. Anda bicara data, dia bicara posisi. Anda bicara fakta, dia bicara harga diri.

Maka, jangan heran kalau banyak orang pintar di kampus memilih mundur. Atau pindah. Atau sekadar “mati suri”. Mereka lelah. Menghadapi pimpinan NPD itu seperti mengisi ember bocor dengan air mata. Habis energi. Habis semangat.

Yang paling menyedihkan bukan saat dia salah. Tapi saat dia memutar fakta seolah-olah pengabdian Anda selama puluhan tahun tidak ada gunanya hanya karena Anda tidak setuju dengan satu perintahnya yang keliru.

Apakah pimpinan seperti ini bisa berubah?

Mungkin bisa. Tapi biasanya harus lewat benturan keras. Harus ada tembok yang tidak bisa dia salahkan. Harus ada badai yang membuat dia sadar bahwa dia bukan Tuhan. Namun celakanya, seringkali institusinya yang hancur duluan sebelum dia sempat sadar.

Saya teringat pepatah lama. Ikan itu busuk mulai dari kepalanya. Kalau kepalanya sudah merasa paling benar dan tidak bisa dikoreksi, tinggal tunggu waktu saja seluruh badannya ikut berbau.

Kita butuh pemimpin yang berani salah. Bukan pemimpin yang hobi mencari siapa yang salah. Karena di universitas, tempat ilmu pengetahuan diuji, kebenaran seharusnya lebih tinggi dari jabatan.

Tapi ya itu tadi. Selama takhta dianggap lebih suci dari fakta, kita akan terus melihat drama “Si Paling Benar” ini di ruang-ruang rapat kampus kita.

Saya hanya bisa berbisik pada dosen senior tadi: “Sabar. Tembok yang angkuh biasanya runtuh oleh retakannya sendiri.” *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."