--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kampus Rasa Kerajaan

Potret sebuah gedung tinggi kampus swasta yang megah namun tampak sunyi, mencerminkan isolasi kepemimpinan dan hilangnya ruang dialog akademik di balik kemewahan fasilitas fisik.

Lokapalanews.id | Saya baru saja menyeruput kopi pahit. Rasanya pas dengan kabar yang masuk ke ponsel saya. Kabar soal sebuah kampus swasta. Kampusnya mentereng. Tapi isinya? Ternyata sesak oleh ego.

Pernahkah Anda bertemu orang yang merasa dirinya setengah Tuhan? Di atas kertas dia rektor. Di kenyataan, dia merasa dirinya hukum itu sendiri. Tidak boleh dibantah. Tidak boleh dikritik. Kalau Anda bersuara, Anda dianggap virus. Dan virus harus dibasmi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ini cerita tentang seorang dosen. Dia bukan pencuri. Bukan pemalas. Dia hanya punya satu dosa besar: bersuara. Dia menyuarakan aspirasi. Dia ingin kampusnya lebih baik. Tapi apa balasannya? Dia dituduh jadi provokator. Dituduh koordinator mosi tidak percaya.

Lalu, “jepret!” Surat pemecatan keluar. Statusnya keren: dipecat dengan hormat. Alasannya? Pelanggaran etika. Lucu sekali. Di negeri ini, kata “etika” sering dipakai untuk membungkam kejujuran. Si rektor? Diam seribu bahasa. Dia merasa cukup duduk di singgasana sambil melihat “pemberontak” itu ditendang keluar.

Saya teringat pengalaman lama. Dulu, saya pernah mengelola perusahaan besar. Saya selalu bilang ke anak buah: “Kalau saya salah, maki-maki saya di depan muka.” Kenapa? Karena pemimpin yang tidak mau dikritik adalah pemimpin yang sedang menggali kuburannya sendiri.

Di kampus itu, nampaknya rektornya beda kelas. Dia punya gejala itu. Narcissistic Personality Disorder. Bahasa kerennya: NPD. Bahasa pasarnya: gila hormat. Orang seperti ini tidak butuh dialog. Dia hanya butuh tepuk tangan. Dia hanya ingin mendengar kata “setuju”.

Kalau sudah begini, siapa yang rugi? Ya institusi. Ya mahasiswa.

Dosen-dosen lain jadi takut. Mereka memilih cari aman. Budaya “asal bapak senang” pun lahir subur. Inovasi? Mati. Diskusi akademik? Jadi sekadar basa-basi. Kampus yang seharusnya jadi kawah candradimuka pemikiran, berubah jadi barak militer yang kaku. Bedanya, di barak aturannya jelas. Di sini, aturannya adalah “kata pak rektor”.

Lalu, ke mana mereka mengadu?

Dosen ini pergi ke LLDIKTI. Harapannya ada pembelaan. Ada keadilan. Apa hasilnya? Hanya pernyataan “prihatin”. Duh, saya jadi ingin tertawa. Prihatin itu tidak menyelesaikan masalah. Prihatin itu bahasa diplomasi untuk bilang: “Kami tidak berani ikut campur.” Mereka minta lapor ke pusat lewat aplikasi. Birokrasi lagi. Antrean lagi.

Yayasan bagaimana? Sama saja. Bukannya jadi penengah, malah main tantang. “Selesaikan saja secara hukum!” begitu katanya. Wah, gagah sekali. Mereka tahu, proses hukum itu lama. Butuh biaya. Mereka punya uang, dosen punya apa? Mereka merasa di atas angin karena punya struktur dan pengacara.

Baca juga:  Benih Kebohongan dan Ledakan Kebenaran

Ini bukan sekadar urusan satu dosen. Ini soal mentalitas pendidikan kita. Kalau rektor PTS bertingkah seperti raja kecil, lalu apa bedanya kampus dengan perusahaan keluarga? Statuta universitas dianggap kertas bungkus kacang. Padahal, rektor itu pegawai yayasan. Dia bukan pemilik tunggal kebenaran.

Ada yang lupa: kekuasaan itu ada batasnya.

Seorang pemimpin yang menutup telinga sebenarnya sedang menutup masa depannya sendiri. Kritik itu seperti jamu. Pahit, tapi menyehatkan. Pujian itu seperti permen. Manis, tapi merusak gigi. Si rektor ini rupanya sudah terlalu banyak makan permen. Giginya keropos, tapi tetap ingin tersenyum lebar.

Kita harus sadar satu hal. Kampus itu milik publik, meski dikelola swasta. Ada tanggung jawab moral di sana. Jika sistem manajemennya rusak, jika briefing tidak ada, jika dukungan nihil, jangan salahkan bawahan. Itu murni kegagalan sistem. Kegagalan manajemen. Tapi ya itu tadi, orang narsistik mana mau mengaku salah?

Dosen yang dipecat itu mungkin sekarang sedang sesak napas. Tapi saya percaya satu hal: kejujuran tidak akan pernah tertukar dengan kehinaan. Dia mungkin kehilangan jabatan, tapi dia menjaga integritasnya. Sesuatu yang mungkin sudah lama hilang dari meja kerja pak rektor.

Apa yang bisa dilakukan? Lawan. Tapi lewat jalur yang benar. Kumpulkan bukti. Dokumentasikan setiap keanehan. Laporkan secara kolektif. Jangan sendirian. Serigala hanya berani menerkam domba yang terpisah dari kawanannya. Kalau semua dosen bersatu, yayasan pun akan gemetar.

Dunia pendidikan kita sedang sakit jika hal-hal seperti ini terus dibiarkan. Kita butuh pemimpin yang punya telinga lebih besar daripada mulutnya. Bukan pemimpin yang hobi mematikan karier orang hanya karena egonya tersenggol sedikit.

Akhirnya, saya cuma mau bilang: jabatan itu hanya sampul. Isinya tetap manusia. Dan manusia yang tidak bisa menerima kebenaran dari orang lain, sebenarnya adalah manusia yang paling lemah.

Semoga si dosen segera dapat keadilan. Dan semoga pak rektor segera sadar bahwa di atas langit, masih ada langit. Dan di bawah tanah, ada lubang yang sama untuk kita semua. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."