--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Gagal Urus Kantor, Sibuk Urus Status Facebook

Ilustrasi seorang karyawan yang terbelenggu di meja kerja sementara layar smartphone raksasa mengawasinya melalui kaca pembesar, melambangkan matinya ruang privat akibat pengawasan kantor yang berlebihan.
Ilustrasi seorang karyawan yang terbelenggu di meja kerja sementara layar smartphone raksasa mengawasinya melalui kaca pembesar, melambangkan matinya ruang privat akibat pengawasan kantor yang berlebihan.

Lokapalanews.id | Ini repotnya kalau punya bos yang tidak punya akun medsos, tapi hobinya dengar laporan dari “intel” kantor.

Begini ceritanya. Ada teman saya, sebut saja namanya John. Dia rajin kerja. Orangnya kritis. Suatu hari, John bikin status di Facebook. Isinya cuma kutipan filosofis soal kejujuran dan sistem yang bobrok. Umum sekali. Tidak sebut nama orang, tidak sebut nama perusahaan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Tapi apa yang terjadi? Esoknya John dipanggil pimpinan. Wajah bosnya merah padam. Katanya, John sudah mencemarkan nama baik institusi. John kaget. Nama baik yang mana? Siapa yang dihina?

Ternyata, ada rekan kantornya yang rajin screenshot. Foto status itu dikirim ke si bos. Pakai bumbu penyedap rasa: “Ini lho Pak, si John nyindir Bapak. Dia bilang manajemen kita berantakan.”

Si bos yang gaptek – tidak punya akun medsos – langsung percaya. Dia merasa kena hantam. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah si bos sedang “makan cabai”. Dia yang merasa pedas sendiri, padahal John tidak sedang menyuguhkan sambal untuknya.

Kalau bos merasa tersindir oleh status yang bersifat umum, itu namanya pengakuan dosa secara tidak langsung. Berarti dia sadar manajemennya memang berantakan.

Inilah fenomena panopticon digital di kantor kita. Istilahnya berat, tapi intinya sederhana: Anda merasa selalu diawasi. Seperti narapidana di penjara yang menaranya di tengah. Anda tidak tahu kapan diintai, jadi Anda dipaksa jadi munafik agar terlihat “manis”.

Repotnya, menara pengawas ini isinya bukan orang objektif. Isinya adalah rekan kerja “penjilat” yang oportunis. Mereka cari muka dengan cara menginjak kepala orang lain. Media sosial yang seharusnya jadi ruang privat, kini jadi ladang fitnah bagi mereka yang miskin prestasi tapi kaya intrik.

Saya melihat ini sebagai tanda kepemimpinan yang rapuh. Fragile leadership. Pemimpin yang kuat tidak akan baperan hanya gara-gara status medsos yang abstrak. Pemimpin yang hebat justru akan introspeksi: “Kenapa karyawan saya mengeluh? Apa briefing saya kurang jelas? Apa manajemen saya gagal memberi dukungan?”

Baca juga:  Negara Ompong

Tapi ya itu tadi. Mengkriminalisasi status karyawan jauh lebih mudah daripada memperbaiki sistem manajemen yang busuk. Menghukum John jauh lebih gampang daripada mengakui bahwa selama ini pimpinan tidak pernah memberikan arahan yang benar.

Kalau manajemennya beres, instruksinya jelas, dan hak karyawan dipenuhi, mereka tidak akan punya waktu untuk menggerutu di medsos. Mereka akan sibuk kerja dengan hati riang.

Tapi kalau manajemennya gagal, lalu kerjanya cuma memata-matai jempol karyawan, itu namanya organisasi sedang menuju liang lahat. Hierarki kepercayaan sudah runtuh. Ganti dengan hierarki saling curiga. Kantor jadi sarang mata-mata, bukan tempat berkarya.

Kreativitas? Jangan harap. Semua jadi robot yang pura-pura bahagia di depan kamera, tapi hatinya penuh dendam. Produktivitas pasti anjlok. Fokusnya bukan lagi hasil kerja, tapi bagaimana cara agar “tangkapan layar” statusnya tidak sampai ke meja bos.

Solusinya apa?

Pertama, perusahaan jangan kampungan. Buat aturan medsos yang jelas. Jangan semua dianggap pencemaran nama baik. Kalau pimpinan merasa tersindir, itu urusan hati, bukan urusan administrasi.

Kedua, buat para bos: belajarlah medsos. Supaya tidak gampang “dikompori” oleh bawahan yang hobinya cari muka. Verifikasi itu penting. Jangan mau jadi alat bagi mereka yang ingin menjatuhkan rekan kerjanya.

Ketiga, berhentilah menutupi ketidakbecusan manajemen dengan dalih menjaga martabat perusahaan. Martabat itu dijaga dengan prestasi, bukan dengan membungkam mulut karyawan.

Jangan menyalahkan cermin kalau muka kita yang memang sedang kotor. Jangan salahkan status John kalau memang sistem kantor Anda yang sedang compang-camping.

Hidup ini sudah berat, jangan ditambah berat dengan urusan “katanya” dan “screenshot-nya”. Uruslah kantor dengan benar, maka medsos akan tenang dengan sendirinya.

Begitulah. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."