--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Langkah Berani Meutya

Lokapalanews.id | Pagi tadi saya melihat cucu saya asyik sekali dengan ponselnya. Wajahnya serius. Jarinya lincah menari di layar. Saya tanya, “Lagi apa?”. Dia jawab, “Lagi tanya sama bot, Kek.”

Dunia memang sudah berubah. Dulu kalau tidak tahu sesuatu, kita buka kamus atau tanya guru. Sekarang tinggal tanya mesin. Namanya AI. Pintar sekali. Kadang-kadang lebih pintar dari yang membuat. Tapi, kepintaran itu bisa jadi musuh kalau tidak ada remnya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Anda tentu sudah dengar kabar terbaru. Pemerintah kita, lewat Kementerian Komdigi, baru saja menginjak rem itu. Keras sekali. Nama korbannya: Grok. Itu chatbot milik Elon Musk. Manusia paling kaya, paling kontroversial, dan mungkin paling nekat di bumi saat ini.

Indonesia jadi negara pertama di dunia yang memblokir Grok. Berani? Jelas. Nekat? Belum tentu.

Alasannya satu: perlindungan. Khususnya untuk perempuan dan anak-anak. Ternyata, si Grok ini bisa dipakai buat bikin yang aneh-aneh. Yang jahat-jahat. Seperti foto atau video porno palsu. Istilah kerennya deepfake. Wajahnya siapa, badannya siapa. Bayangkan kalau itu terjadi pada anak atau istri Anda. Sakitnya bukan main. Malunya seumur hidup.

Menteri Meutya Hafid tidak mau kompromi. Dia bilang ruang digital bukan wilayah tanpa hukum. Saya setuju. Kebebasan itu ada batasnya. Batasnya adalah harga diri orang lain.

Elon Musk memang hebat. Dia bikin roket yang bisa balik lagi ke bumi. Dia bikin mobil listrik yang kencang. Tapi soal moral, dia seringkali “los-dol”. Standar Amerika dibawa mentah-mentah ke sini. Padahal, kita punya aturan main sendiri. Kita punya sopan santun sendiri.

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya juga angkat jempol. Kata dia, kalau platform cuma mau cari untung tapi merusak moral, ya buat apa? Memang benar. Apa gunanya teknologi canggih kalau kerjanya cuma bikin rusak mental bangsa?

Baca juga:  Merajut Asa dalam Dekapan Perlindungan Lintas Negara

Dulu, saya sering merasa sistem manajemen kita lemah. Kurang briefing, kurang dukungan. Tapi kali ini, saya melihat pemerintah punya sikap. Mereka tidak mau hanya jadi penonton. Mereka bertindak.

Grok ini memang beda dengan AI lain. Yang lain biasanya punya “satpam” di dalamnya. Kalau kita minta hal yang kotor atau jahat, mereka menolak. Grok ini kesannya lebih bebas. Dan kebebasan tanpa tanggung jawab itu namanya kekacauan.

Sekarang bola ada di tangan X, perusahaannya Elon. Mereka diminta klarifikasi. Mau nurut aturan kita atau tetap mau gaya-gayaan? Kalau mau jualan di pasar orang, ya ikuti aturan yang punya pasar. Sesederhana itu.

Langkah Indonesia ini pasti bakal jadi sorotan dunia. Mungkin ada yang bilang kita anti-kemajuan. Tapi bagi saya, kemajuan tanpa perlindungan itu namanya bunuh diri. Kita tidak boleh silau dengan label “teknologi mutakhir” kalau di baliknya ada tangis perempuan yang dipermalukan.

Saya teringat satu hal. Teknologi itu seperti pisau. Bisa dipakai buat potong bawang, bisa buat melukai orang. Kalau ada pabrik pisau yang sengaja bikin pisau khusus buat melukai orang, ya pabriknya harus ditutup.

Kita harus dukung langkah ini. Bukan karena kita benci teknologi. Tapi karena kita sayang pada manusia-manusianya. Jangan sampai demi sebuah aplikasi, kita kehilangan nurani.

Hidup ini singkat. Jangan habiskan waktu untuk merusak martabat orang lain hanya demi sebuah konten. Mari kita jaga ruang digital kita agar tetap bersih. Supaya cucu saya, dan cucu Anda, bisa belajar dengan aman tanpa takut dihantui oleh mesin yang kebablasan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."