Lokapalanews.id | Saya selalu takjub dengan cerita-cerita kecil di sekeliling kita. Pernah suatu pagi, saat jalan pagi di depan rumah, saya lihat ada retakan di aspal jalan. Kecil saja, nyaris tak terlihat. Saya biarkan. Seminggu kemudian, retakan itu sudah menjalar. Lalu, setelah hujan deras beberapa kali, dari retakan itu menyembul sehelai daun, lalu rumput. Tak lama, rumput itu menjadi sekelompok semak yang akarnya pasti sudah menggerogoti dasar aspal itu.
Aspal itu tebal, keras, dan mahal. Tapi ia tak berdaya melawan sehelai rumput yang awalnya cuma benih.
Itu, bagi saya, adalah analogi sempurna dari apa yang pernah dikatakan oleh Emile Zola, seorang sastrawan besar Prancis. Katanya, kebenaran itu tidak bisa disembunyikan selamanya. Anda bisa menutupinya, menguburnya dalam-dalam, menimpanya dengan semen tebal, tapi ia akan tetap hidup. Bahkan, penekanan itu justru membuat sang kebenaran menjadi semakin kuat, mengumpulkan momentum, sampai akhirnya meledak dan menghancurkan semua kebohongan yang coba menyekapnya.
Kita lihat, di mana-mana, cerita tentang pemimpin yang gemar sekali bermain sulap dengan fakta. Pagi berbohong, siang bikin alasan baru untuk menutupi kebohongan yang pagi. Sore hari, ia sudah punya tim khusus untuk membuat narasi tandingan demi mengubur dalam-dalam aibnya.
Saya kira, mereka ini punya pemikiran yang sangat sederhana: Kalau orang-orang tidak melihat, berarti masalah itu tidak ada. Jika kita membuat alibi yang cantik, orang akan percaya.
Ah, kasihan sekali. Mereka lupa hukum alam yang bekerja pada benih kebenaran itu.
Ketika seorang pemimpin terus-menerus berbohong – tentang janji yang tidak dipenuhi, tentang dana yang hilang, tentang konflik kepentingan yang disembunyikan – ia sedang menanam benih. Benih kebohongan yang ia taburkan itu memang terlihat seperti aspal yang mulus di awal. Semua tampak beres. Media ditekan, kritik diredam, fakta direkayasa.
Tapi, benih kebenaran yang ia tekan justru diam-diam bekerja di bawah tanah. Ia tidak mati. Ia malah sedang memupuk diri, mengumpulkan energi dari setiap ketidakadilan dan setiap celah dalam alibi si pemimpin.
Apa yang terjadi kemudian? Benih itu mulai merayap. Ia muncul sebagai bisik-bisik di warung kopi, sebagai unggahan anonim yang viral, sebagai investigasi kecil yang dilakukan jurnalis ‘gila’ yang tidak mau dibayar. Awalnya remeh, cuma retakan kecil.
Tapi begitu benih kebenaran itu menemukan cahayanya, ia akan meledak.
Ledakan itu dahsyat. Lebih kuat dari bom. Ia tidak hanya merusak citra si pemimpin, tapi juga menghancurkan kepercayaan publik secara fundamental. Ia merobek kain tipis yang selama ini menutupi seluruh sistem kebohongan yang dibangun. Semua alibi dan alasan yang dibuat bertahun-tahun langsung runtuh tak bersisa, seperti rumah kartu.
Sejarah dunia, dan sejarah kecil di negara kita, penuh dengan kisah-kisah seperti ini. Rezim yang kuat tumbang bukan karena serangan militer, tapi karena rakyat sudah tidak tahan lagi dengan tumpukan kebohongan. Ketidakadilan yang dipaksakan dan kebohongan yang ditekan, pada akhirnya, selalu akan menyerah di hadapan kekuatan kebenaran yang tak terelakkan.
Maka, pesan Zola ini adalah peringatan keras bagi para penguasa kita. Anda boleh pintar bicara, Anda boleh punya uang tak terbatas untuk menyewa buzzer dan tim media, tapi Anda tidak akan pernah bisa memenangkan perang melawan kebenaran.
Bagi kita, masyarakat biasa, ini adalah pelajaran berharga. Jangan pernah lelah menuntut kejujuran. Karena setiap kali kita menuntut, kita sedang menyiram benih kebenaran yang terkubur itu. Kita sedang memberinya kekuatan untuk meledak.
Kejujuran, memang, rasanya pahit dan berat di awal. Mengakui kesalahan, apalagi bagi seorang pemimpin, terasa seperti kekalahan besar. Tapi, jauh lebih baik mengakui retakan kecil itu sekarang dan memperbaikinya, daripada menunggu benih kebenaran itu tumbuh menjadi pohon raksasa yang akarnya menghancurkan seluruh fondasi kekuasaan Anda. Karena, sekali lagi, kebenaran akan selalu menemukan jalannya. *






