Lokapalanews.id | Sore itu saya sedang santai di teras, minum kopi tanpa gula, ditemani keriuhan burung gereja. Saya lihat ada satu kejadian yang membuat dahi saya berkerut. Seekor burung kecil di pojok dahan terus-terusan di-bully. Dikejar, dipatuk, dipepet oleh dua burung jagoan yang badannya lebih besar.
Si burung kecil ini jelas tak berdaya.
Dan di sekelilingnya? Ada belasan burung lain yang hinggap. Mereka sibuk membersihkan bulu, mematuk remah, pura-pura tidak dengar. Mereka itu netral. Tidak ikut menyerang, tapi juga tidak menolong.
Saya mikir, ini kalau di dunia manusia, kita sebut sikap “santun” dan “bijak”. Kita hindari konflik, jaga image damai. Tapi tunggu dulu. Apa iya itu bijak?
Di dunia burung, mungkin itu wajar. Di dunia kita, dunia yang punya otak dan nurani, sikap itu namanya sampah.
Netralitas Itu Pilihan Paling Bajingan
Anda sering dengar politisi, pejabat, atau bahkan rekan Anda berujar: “Saya nggak mau ikut campur. Saya netral saja.” Mereka kira netralitas itu jubah suci yang membuat mereka terbebas dari dosa. Padahal, Uskup Agung Desmond Tutu sudah melucuti jubah itu sampai telanjang: “Jika kamu netral dalam situasi ketidakadilan, kamu telah memilih sisi penindas.”
Kalimat ini keras, tapi ini adalah kebenaran yang tidak bisa dinegosiasi.
Netralitas itu bajingan. Kenapa? Karena ketika Anda berada di tengah ketidakadilan, timbangan itu sudah miring 90 derajat. Ada yang kuat, ada yang dihajar habis-habisan.
Saat Anda bilang, “Saya netral,” Anda sebenarnya sedang bilang: “Saya setuju penindas ini tetap kuat dan korbannya tetap remuk.”
Diam Anda bukan berarti Anda damai. Diam Anda adalah izin operasi bagi penindas. Anda adalah kaki tangan penindas, hanya saja tanpa suara, tanpa keringat, dan tanpa risiko. Anda pengecut yang berlindung di balik kata ‘bijak’.
Korban Koruptor dan Diamnya Orang ‘Baik’
Lihatlah ke belakang, lihatlah sejarah, bahkan lihatlah berita hari ini. Koruptor merajalela bukan karena mereka pintar sekali sembunyi, tapi karena banyak orang “baik” yang memilih diam. Media yang mengungkap kebenaran diintimidasi, dilaporkan pakai UU ITE yang bodoh itu, lalu jurnalisnya diproses.
Lalu apa yang dilakukan mayoritas? Mereka buru-buru bilang: “Ini urusan mereka, bukan urusan saya.”
Mereka takut kehilangan proyek. Takut dipersulit izin. Takut akunnya diserang buzzer. Ketakutan pada kenyamanan pribadi itu akhirnya menumbuhkan habitat yang subur bagi kejahatan.
Anda yang diam, Anda yang netral, sebenarnya sedang jadi pagar tembok berlapis beton yang melindungi koruptor, preman berjas, dan pejabat bobrok. Anda adalah penjaga gawang bagi ketidakadilan.
Netralitas itu fiksi. Tidak ada posisi tengah di medan perang kebenaran. Anda tidak diminta untuk angkat senjata, Anda hanya diminta untuk angkat suara.
Cabut Diri dari Zona Mati
Saya sudah melihatnya berulang kali. Kejahatan kecil yang dibiarkan, lama-lama menjadi kejahatan negara. Kenapa? Karena tidak ada yang menegur sejak awal. Tidak ada yang berani mengambil risiko.
Keberpihakan itu memang mahal. Anda akan kehilangan teman-teman bisnis yang “pragmatis”. Anda akan dicap idealis yang merepotkan. Anda mungkin harus kehilangan sedikit kenyamanan.
Tapi, bukankah harga diri dan nurani kita jauh lebih mahal dari selembar izin atau sebotol wine gratis?
Di momen-momen krusial, ketika nurani Anda berteriak, jangan biarkan kalkulator di otak Anda yang berkuasa. Jika ada orang yang lemah dihajar, dan Anda punya kekuatan untuk bicara, namun Anda diam, maka Anda sudah memilih pihak kebiadaban.
Mari kita cabut diri dari zona mati netralitas itu. Pilihannya cuma dua: ikut melanggengkan kebusukan, atau ikut menanggung risiko menegakkan kebenaran. Pilihlah sekarang. Jangan sampai keheningan kita dicatat sejarah sebagai kejahatan kolektif. *






