Lokapalanews.id | Pagi ini, cangkir di meja saya mengepulkan aroma robusta lokal yang jujur. Rasanya pahit, tapi jujur.
Bukan pahit karena tipu-tipu.
Tapi berita di koran lokal pagi ini bikin kening berlipat-lipat.
Namanya Folgers. Kopi sachet asal Amerika.
Aslinya, itu merek dagang terkenal. Di sana, orang minum kopinya santai sambil baca koran pagi.
Tapi di Bali, Palembang, di Ambon, di Maluku Utara, Folgers menjelma jadi hantu gentayangan.
Hantu berwujud aplikasi genggam.
Repotnya, pabrik kopi aslinya bahkan tidak pernah tahu kalau mereka punya cabang digital di tanah air.
Usut punya usut, ini kerjaan maling berdasi digital.
Skema Ponzi.
Lama kelamaan, polanya makin terang benderang.
Awalnya manis.
Mereka janjikan keuntungan harian yang tidak ngotak. Mulai dari puluhan persen. Sampai 50 persen. Bahkan 100 persen sehari.
Bayangkan itu.
Mana ada jualan kopi sachet untungnya ngalahin bandar narkoba.
Tapi warga kita memang gampang terbuai angka-angka besar di layar ponsel.
Lalu korban mulai berdatangan.
Di Palembang saja, ribuan orang gigit jari. Duit ratusan juta amblas begitu saja. Ada yang sampai nekat jual perhiasan emas kesayangan demi menambah modal.
Demi secangkir mimpi palsu.
Delapan orang sudah resmi bikin Laporan Polisi di Polrestabes Palembang pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kerugiannya tembus Rp96,6 juta.
Itu baru yang di Palembang.
Di Maluku Utara dan Ambon, Bali ceritanya lebih gila lagi.
Korban menembus angka 1.000 orang. Padahal aplikasinya baru berumur jagung, sekitar enam bulan beroperasi.
Cepat sekali ambruknya.
Tapi penipu selalu punya cara licik buat menguras kantong mangsanya.
Saat korban mau narik uang hasil keuntungan palsu itu, sistem mendadak macet. Saldo berubah jadi nol besar.
Lalu muncul jebakan batman.
Korban dipaksa setor dana tambahan. Alasannya klasik: harus beli kartu penarikan dulu. Ada kartu Perak. Ada kartu Emas. Ada kartu Platina.
Harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Logika macam apa itu? Mau ambil uang sendiri kok malah disuruh bayar lagi?
Tapi namanya orang sudah terlanjur basah, banyak yang akhirnya terjebak makin dalam.
Alih-alih sadar, mereka malah disuruh merekrut orang baru pakai tautan referral.
Sistem piramida jadul yang dibungkus teknologi modern.
Uang anggota lama dibayar pakai setoran anggota baru. Begitu terus sampai yang bawah kehabisan napas.
Secara teknis, aplikasinya sebenarnya sudah ketahuan belangnya sejak awal.
Kode backend-nya mencurigakan. Penuh tulisan huruf Kanji atau GB2312.
Begitu domainnya diblokir pemerintah, mereka langsung ganti alamat baru dalam hitungan jam. Kucing-kucingan terus dengan aparat.
Sampai akhirnya mendekati ajalnya sekarang.
Kini, nasi sudah menjadi bubur yang basi.
Pihak berwenang sudah wanti-wanti. Berhenti setor dana. Jangan pernah lagi kirim uang tambahan dengan dalih apapun.
Hentikan rekrutmen. Jangan ajak saudara atau tetangga masuk ke jurang yang sama.
Kumpulkan semua bukti transfer. Simpan riwayat transaksi dan tangkapan layar percakapan grup.
Segera lapor polisi. Atau adukan ke Satgas PASTI OJK dan Kontak OJK 157.
Tapi tetap saja, penyesalan selalu datang paling belakangan.
Kopi Folgers asli mungkin nikmat diseruput di pagi hari.
Tapi Folgers versi aplikasi online ini benar-benar bikin lambung perih berkepanjangan. *yas






