Lokapalanews.id | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 2.768 gempa susulan di wilayah Flores hingga Rabu pagi setelah gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Dari total kejadian tersebut, sebanyak 24 gempa susulan memiliki magnitudo lebih dari M5 dan 81 kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan aktivitas gempa susulan ini berdasarkan data sementara akan berakhir dalam tiga hingga empat minggu ke depan.
Gempa utama yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Saat gempa terjadi, BMKG mengirimkan peringatan dini tsunami dalam waktu dua menit 16 detik dengan status ancaman Siaga dan Waspada. Status Siaga mencakup Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto, sementara status Waspada meliputi Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo. Peringatan dini tsunami tersebut kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau dua jam 31 menit 37 detik setelah gempa utama.
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan guncangan tersebut memicu gelombang tsunami di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yaitu Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 05.03 WIB dengan tinggi 1,605 meter. Sementara itu, ketinggian tsunami terendah tercatat di Bakalang, Alor, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 05.41 WIB dengan tinggi 0,14 meter.
Berdasarkan pemantauan sementara dan informasi lapangan, bencana ini menyebabkan 69 orang meninggal dunia dan 331 orang mengalami luka-luka di berbagai wilayah terdampak. Kerusakan bangunan bervariasi dari tingkat ringan hingga berat terjadi di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, hingga Maumere. Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi, BMKG menerjunkan tim gabungan dari pusat dan Unit Pelaksana Teknis untuk melakukan survei gempabumi merusak. Survei tersebut meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, Multichannel Analysis of Surface Waves, monitoring susulan, serta verifikasi dampak tsunami.
Wijayanto menegaskan masyarakat diimbau untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang mengalami retak atau rusak, serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak bersumber dari instansi resmi. Pemutakhiran data dan informasi penanganan bencana dapat terus dipantau melalui kanal resmi seperti media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, InaTEWS, serta aplikasi InfoBMKG dan WRS-BMKG. *R105






