--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Membakar Setan di Terik Priok

Asap membubung dari mesin insinerator saat BNN memusnahkan ratusan kilogram narkotika di Karawang. Sebuah peringatan keras bagi jaringan pengedar bahwa negara tidak akan memberi ruang bagi perusak generasi.

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda membayangkan berapa banyak nyawa yang hancur dalam satu gram sabu? Jika satu gram saja bisa merusak masa depan satu anak muda, coba kalikan dengan 113.000 gram. Angka itu belum termasuk ratusan kilogram ganja dan ribuan butir ekstasi. Itulah volume “maut” yang kemarin musnah menjadi asap di Tanjung Priok dan Karawang.

Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan ritual yang saya sebut sebagai “pesta pembersihan”. Barang bukti dari berbagai wilayah—mulai dari ujung Aceh hingga pelosok NTB – dikumpulkan untuk satu tujuan: dibakar habis.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Melihat tumpukan narkotika sebanyak itu, saya teringat percakapan dengan seorang ibu yang anaknya kecanduan. Wajahnya layu, matanya kosong. Baginya, narkoba bukan sekadar isu hukum, tapi pencuri nyawa di dalam rumahnya sendiri. Maka, pemusnahan ini bukan sekadar seremoni transparansi agar aparat tidak dituduh “main mata” dengan barang bukti. Ini adalah pernyataan perang.

Anda lihat sendiri kronologinya. Jaringannya sangat licin. Ada yang menyembunyikan ratusan kilogram ganja di ladang Aceh, ada yang menyelipkan ekstasi di kotak perkakas truk, bahkan ada yang nekat membangun laboratorium gelap (clandestine lab) di apartemen mewah di Tangerang.

Yang paling menohok saya adalah fenomena “Kurir Terbang” dan pengiriman lewat ekspedisi. Bayangkan, narkoba sekarang berpindah tangan secepat kita memesan baju di toko online. Nama dan alamat fiktif, tapi racunnya nyata. Ini artinya, para pemain besar ini sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi di gang gelap, mereka sudah masuk ke sistem logistik kita.

Presiden Prabowo sebelumnya sudah sering bicara soal “kebocoran”. Narkoba adalah kebocoran kualitas manusia. Jika hutan kita dijarah, kita kehilangan harta. Tapi jika pemuda kita dijarah narkoba, kita kehilangan masa depan.

Baca juga:  Polri Ungkap 38 Ribu Kasus Narkoba, Sita 197 Ton Barang Bukti

Namun, mari kita jujur. Membakar 300 kilogram narkotika itu bagus, tapi itu baru memotong dahan, bukan mencabut akar. Sepanjang ada permintaan, sepanjang orang merasa frustrasi dengan hidup, atau sepanjang manajemen pengawasan di perbatasan kita masih bisa “dibujuk”, barang haram ini akan terus masuk lewat pelabuhan-pelabuhan tikus atau jalur darat di Entikong.

Kegagalan kita selama ini sering kali terletak pada minimnya dukungan masyarakat. Kita sering acuh, merasa itu urusan orang lain, sampai akhirnya narkoba itu mengetuk pintu rumah kita sendiri. BNN tidak bisa menjadi “pendekar” sendirian. Mereka butuh mata dan telinga kita semua.

Refleksi saya hari ini sederhana: Asap yang mengepul dari pembakaran narkoba itu adalah simbol kemenangan kecil. Tapi kemenangan besar baru terjadi jika tidak ada lagi barang yang perlu dibakar karena pasarnya sudah mati.

Hikmahnya, jangan biarkan lingkungan kita menjadi “apartemen mewah” bagi laboratorium gelap. Bersikaplah cerewet pada hal-hal yang mencurigakan di sekitar Anda. Karena dalam perang melawan narkoba, diamnya kita adalah bahan bakar bagi kejayaan para bandar. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."