--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Rektor Arogan, Kampus Jadi Pabrik Dosa

Ketika pemimpin kampus bertindak arogan dan seenak udelnya, didukung proyek fiktif dan nepotisme lingkaran dalam, fondasi moral pendidikan runtuh. Protes dan Mosi Tak Percaya dari civitas akademika seringkali terbentur tembok yayasan yang tak tahu malu. Kampus harus kembali jadi benteng kejujuran, bukan pabrik dosa.

Lokapalanews.id | Dua hari lalu, saya bertemu seorang kawan lama – mantan dosen senior di salah satu universitas. Ia dulu dikenal sebagai akademisi idealis, rajin meneliti, dan hampir menyandang gelar Profesor. Maka ketika ia tiba-tiba memutuskan pensiun dini, saya heran. “Kenapa buru-buru? Tinggal selangkah lagi menuju Profesor,” tanya saya.

Jawabannya membuat saya tercekat. “Saya sudah muak melihat kampus saya berubah jadi perusahaan keluarga dan pabrik proyek fiktif.”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kalimat itu menampar. Saya tahu betul, perubahan di kampusnya dimulai sejak hadirnya seorang pemimpin baru – sosok yang lebih cocok disebut Rektor Arogan ketimbang rektor. Ia datang bukan untuk memimpin, melainkan untuk menguasai. Kampus, yang seharusnya menjadi institusi publik dan rumah berpikir, diperlakukan seperti warisan pribadi yang boleh dibongkar sesuka hati.

Keputusan strategis dibuat sekeras “titah raja kecil”. Aturan dirombak demi kepentingannya. Senat kampus tak lagi dihormati. Forum dialog dengan dosen dianggap tidak penting. Semua serba sepihak, seperti dekret darurat yang tak boleh dipertanyakan. Dalam hitungan bulan, ruang akademik yang dulu hidup kini dipenuhi rasa takut dan rasa muak.

Namun arogansi itu bukan masalah terbesar. Yang jauh lebih menghancurkan adalah maraknya proyek fiktif. Kampus yang seharusnya sibuk mencetak peneliti dan pemikir justru tenggelam dalam permainan anggaran. Dana riset miliaran rupiah hanya menetas menjadi laporan kosong. Proyek pembangunan yang katanya rampung, ternyata hanya cat ulang gedung lama. Uang kuliah mahasiswa yang dikumpulkan dari keringat orang tua mendadak menguap tanpa arah.

Ini bukan sekadar korupsi anggaran. Ini adalah korupsi moral.
Bagaimana mungkin sebuah institusi yang tugas utamanya menanamkan nilai – jujur, adil, rasional – justru menjadi ladang ketamakan?

Saya teringat perkataan kawan saya: “Di kampus saya, manipulasi dianggap kompetensi baru.” Tragis, tapi terasa benar. Jika pemimpin kampus menunjukkan bahwa kebohongan adalah jalan pintas yang aman, bagaimana mahasiswa akan percaya bahwa integritas punya nilai? Kampus seperti itu hanya melahirkan lulusan yang mengira kecerdikan berarti manipulasi, dan kekuasaan berarti kebal kritik.

Baca juga:  Penjahat Berdasi, Pahlawan tanpa Nama

Nepotisme Mengakar, Kompetensi Dibuang

Puncaknya adalah penempatan orang-orang dekat di hampir semua posisi strategis. Wakil Rektor, Kepala Lembaga, Kepala Unit – semuanya berasal dari lingkaran dalam. Kompetensi akademik diabaikan. Prestasi tidak dihitung. Loyalitas buta menjadi syarat utama. Mereka yang berbeda pandangan disingkirkan, dipinggirkan, atau dibuat menyerah. Tidak heran, akhirnya muncul ledakan Mosi Tidak Percaya dari para dosen senior, mahasiswa, dan pegawai.

“Cukup!” teriak mereka. “Kami tidak percaya lagi pada kepemimpinan yang merusak moral kampus!”

Tetapi bagian yang paling menyakitkan justru datang dari yayasan atau dewan penyantun. Mereka yang seharusnya menjadi benteng moral kampus malah memilih diam. Bahkan beberapa di antaranya melindungi sang Rektor Arogan, seakan integritas dapat dinegosiasikan dengan kenyamanan pribadi.

Mengapa yayasan tega? Karena, katakanlah dengan jujur, mereka sudah terlalu nyaman dengan kompromi kotor itu. Mereka tahu jika satu batu dicabut, bangunan kepentingan mereka ikut runtuh.

Teriakan “Tak tahu malu!” dari para dosen bukan sekadar sumpah serapah. Itu adalah jeritan nurani: tanda bahwa peradaban akademik sedang sekarat. Ketika mereka yang bertugas menjaga moral justru melacurkan tanggung jawabnya, maka kampus kehilangan pelindung terakhirnya.

Kampus harus Direbut Kembali

Sebuah kampus tak boleh dibiarkan berubah menjadi pabrik dosa. Ia harus kembali menjadi benteng kejujuran, gudang ilmu, dan ladang keberanian intelektual. Kita perlu berdiri bersama para dosen dan mahasiswa yang berani bersuara. Sebab jika institusi pendidikan saja sudah rusak, tak ada lagi yang tersisa untuk masa depan bangsa.

Pemimpin boleh berganti. Jabatan boleh mengelabui. Tapi integritas harus tetap menjadi fondasi. Tanpa itu, kampus hanya akan menjadi gedung megah yang menghasilkan para penjahat berijazah. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."