--- / --- • 00:00 WITA
Narasi  

Sarjana Jadi Pengangguran

Lokapalanews.id | Pagi itu saya menyeruput kopi hitam yang nyaris dingin di sudut warung langganan. Di meja sebelah, seorang anak muda sibuk menatap layar laptop dengan kening berkerut.

Ijazah sarjana terbungkus map merah tergeletak di samping cangkir kosongnya.

Sudah setahun ia memegang gelar itu.

Tapi dompetnya tetap tipis.

Empat tahun kuliah. Ratusan juta rupiah amblas. Skripsi menguras air mata dan tenaga.

Lalu apa hasilnya?

Nganggur.

Data Badan Pusat Statistik per Februari 2025 bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Ada satu juta lebih sarjana di negeri ini yang gigit jari. Tepatnya 1.010.652 orang.

Angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Ironisnya, pasar kerja kita justru didominasi tenaga kerja berpendidikan rendah. Sarjana malah jadi penonton di negeri sendiri.

Menteri Tenaga Kerja sempat mengakui soal ini. Masih ada PR besar. Angka pengangguran lulusan sarjana bertengger di angka dua belas persen.

Penyebabnya klasik. Tidak ada link and match.

Studi dari McKinsey, UNESCO, hingga ILO sudah lama memperingatkan hal serupa. Ada jurang menganga antara apa yang diajarkan di ruang kuliah dan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh industri di lapangan.

Tapi apa daya?

Sistem pendidikan kita memang jalan di tempat. Kurikulumnya masih mirip dengan dua puluh tahun lalu.

Waktu dosen mendikte teori tebal, dunia luar sudah jungkir balik.

AI datang menyapu bersih pekerjaan administratif dalam sekejap. Freelance economy meroket tanpa permisi. Industri hari ini tidak lagi peduli pada deretan huruf di belakang nama.

Mereka mencari keahlian konkret.

Yang sukses di era sekarang bukan lagi pemilik IPK tertinggi empat koma nol.

Baca juga:  Dari Harapan Menjadi Ancaman: Mengapa Kita Selalu Terperangkap?

Mereka yang bertahan adalah yang punya skill spesifik. Yang mau belajar di luar pagar kampus. Yang jaringan pertemanannya seluas samudera.

Coba bayangkan nasib jutaan pekerja kantoran di masa depan.

McKinsey Global Institute sudah menghitung hari. Sebelum tahun 2030, jutaan posisi administratif dan teknikal akan lenyap digantikan kecerdasan buatan.

Staf administrasi, pengisi data, customer service, hingga akuntan tingkat awal akan disingkirkan mesin pintar.

Lalu, masih pentingkah jadi sarjana?

Jawaban jujurnya sederhana saja. Tergantung.

Gelar itu masih sakti untuk profesi yang wajib punya lisensi resmi. Dokter, pengacara, insinyur sipil. Di luar itu? Ijazah hanyalah selembar kertas kenangan.

Makanya, kalau masih kuliah, jangan cuma menghafal teori usang. Bangun keterampilan nyata yang dicari pasar hari ini.

Tapi di sinilah letak gemasnya.

Kenapa kurikulum kampus tidak diubah secara agresif mengikuti zaman?

Kenapa sistem yang sudah jelas-jelas limbung ini terus dipertahankan tanpa ada niat merombak total?

Usut punya usut, sistem ini memang dirawat sedemikian rupa. Agar kita tetap berada di bawah.

Kalau hidup hanya mengalir ikut arus, nasib kita tidak akan beda dengan sembilan puluh sembilan persen orang kebanyakan.

Tanpa ilmu yang relevan dan keterampilan tajam, kata sukses hanyalah halusinasi di siang bolong.

Orang-orang sukses itu selalu memegang rahasia yang tidak diketahui orang kebanyakan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."