--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kampus Turun Gunung

Suasana sosialisasi Program Aksara Mahasiswa oleh Kemdiktisaintek di Universitas Mahasaraswati Denpasar, Rabu (29/7).

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda berpikir, buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau ilmu di kepala cuma berhenti di tumpukan skripsi? Dunia kampus kadang memang terasa jauh dari hingar-bingar masalah warga di perkampungan.

Kemarin, Universitas Mahasaraswati Denpasar kedatangan tamu penting dari kementerian. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi datang membawa hawa segar lewat program baru.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Namanya cukup unik, Aksara Mahasiswa. Singkatan panjang dari Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa.

Fauzan Adziman selaku Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan turun langsung meresmikan sosialisasi ini. Beliau bilang, mahasiswa jangan cuma jadi penonton di menara gading.

Tahun lalu saja, antusiasmenya luar biasa tinggi. Ada 957 proposal diajukan dari 199 kampus, dan ratusan di antaranya dapat pendanaan.

Saya tanya soal peran anak muda ini. Katanya, mahasiswa di sini diposisikan sebagai pemimpin yang mendengarkan keluh kesah warga.

Mereka turun ke lapangan, merumuskan ide, lalu jadi eksekutor handal. Setelah itu, mereka bawa balik cerita lapangannya ke kampus tercinta.

Jadi, masyarakat disulap jadi laboratorium hidup yang nyata. Tempat mahasiswa menguji teori sebelum benar-benar menolong sesama.

Masalah di akar rumput tentu tidak bisa diselesaikan sendirian. Perlu gabungan ilmu dari sains, teknologi, sosial, sampai humaniora.

Khusus untuk Kota Denpasar tahun ini, ada skema khusus bernama Aksara Sirkular. Fokus utamanya satu hal yang paling dekat dengan bau busuk kota: sampah.

I Ketut Adnyana selaku Direktur Penelitian dan Pengabdian menambahkan penjelasan serupa. Ia bilang posisi mahasiswa itu sangat terhormat dan strategis di tengah masyarakat.

Energi dan idealisme muda harus dipakai buat memecahkan masalah. Tentu saja berbekal sains dan inovasi dari para dosen di kampus.

Baca juga:  Gedung Kampus Itu Hampir Ambruk, Bukan Karena Gempa!

Rektor Universitas Mahasaraswati, I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa, menyambut antusias program ini. Menurutnya, kebijakan pusat tidak akan jalan kalau kampus diam saja.

Perlu kolaborasi gila-gilaan antara kampus, sekolah, pemerintah, hingga industri. Tanpa itu semua, program keren cuma tinggal kenangan di atas kertas.

Harapannya tentu sederhana tapi bermakna besar. Kampus tidak cuma melahirkan sarjana pengangguran berijazah, tapi pencipta solusi bagi negeri. *yas

👁️ 5.936 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."