Lokapalanews.id | Siapa sangka, di balik ingar-bingar kecerdasan buatan, kita sebenarnya sedang duduk di atas tambang emas. Bukan emas batangan yang diperebutkan di pasar komoditas, bukan pula minyak bumi yang harganya naik-turun sesuka hati. Ini adalah data.
Saya teringat obrolan di Tsinghua Southeast Asia Center, Sabtu siang tadi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, duduk santai di panggung Fireside Chat. Wajahnya tenang, tapi isi kepalanya sangat tajam.
Stella bicara soal AI, tapi bukan dengan bahasa teknis yang bikin dahi berkerut. Dia bilang, jangan cuma jadi penonton saat dunia sedang gila-gilanya dengan AI. Kita punya kuncinya, dan kunci itu ada pada data yang melimpah ruah di negeri ini.
Saya tanya dalam hati, memangnya seberapa penting data itu? Lalu Stella menjawab dengan analogi sederhana. Dia bilang, data adalah oksigen bagi AI. Tanpa data, algoritma secanggih apa pun hanyalah besi tua yang tidak bernapas.
Ini logika yang sangat masuk akal. Mau punya komputer super cepat dengan daya komputasi setinggi langit, kalau tidak punya bahan baku data, ya percuma. Dan di situlah letak peluang Indonesia yang sebenarnya.
Repotnya, selama ini kita sering terlalu sibuk ingin meniru cara orang lain membangun teknologi. Kita merasa harus punya segalanya dari nol, padahal kita punya “oksigen” yang dicari dunia. Inilah yang Stella sebut sebagai menyamakan prioritas dengan peluang.
Katanya, jika kita ingin jadi pemain besar, kita harus berhenti melihat AI sebagai beban riset semata. AI adalah peluang besar yang harus direspon sesuai karakteristik kita sendiri. Jangan sampai kita jadi bangsa yang hanya ahli mengonsumsi teknologi tanpa pernah memproduksi isinya.
Tapi, punya data saja jelas belum cukup. Di sinilah saya setuju dengan pandangan Stella soal investasi jangka panjang. Pendidikan tinggi, pengembangan talenta, dan ekosistem riset adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Saya melihat Stella bicara dari pengalamannya sendiri saat menjadi akademisi di Amerika Serikat dan Tiongkok. Dia paham betul bahwa kemajuan teknologi tidak bisa lahir dari jalur pintas. Ada kerja keras, konsistensi, dan kesabaran dalam membangun sumber daya manusia.
Kita sering kali terbuai dengan proyek-proyek instan yang terlihat megah di atas kertas. Padahal, daya saing bangsa tidak dibangun dari kemasan luarnya saja. Fokus harus diletakkan pada fondasi riset yang kokoh dan keberanian melahirkan inovasi dari kekayaan lokal.
Forum Sino-Indonesian Next Generation Dialogue (SINGD) 2026 ini sebenarnya adalah pengingat. Bahwa di antara ketegangan geopolitik dunia, kolaborasi ilmu pengetahuan tetaplah jalan paling masuk akal. Pendidikan harus bisa memberikan dampak nyata, bukan sekadar gelar yang menumpuk di rak buku.
Tentu, memutar haluan kebijakan tidak semudah membalik telapak tangan. Ada birokrasi, ada ketertinggalan teknologi, ada juga mentalitas yang perlu dirombak total. Namun, mendengar penjelasan Stella, rasanya optimisme itu masih punya tempat.
Kemdiktisaintek seolah ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus jadi subjek, jadi pemain yang menentukan arah, bukan sekadar penonton di tepi lapangan. Data kita adalah modal, dan talenta kita adalah mesin penggeraknya.
Tinggal masalah keberanian kita untuk mengeksekusi ini semua. Apakah kita cukup cerdas mengelola “oksigen” ini sebelum ia habis terisap oleh mereka yang lebih dulu paham nilainya?
Bukankah setiap kekayaan hanya akan menjadi kutukan jika kita tidak tahu cara mengolahnya? *yas







