Lokapalanews.id | Jakarta – Transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) kini menjadi instrumen strategis penggerak ekonomi Indonesia. Pemerintah menegaskan bahwa kedua teknologi tersebut mampu menekan biaya ekonomi sekaligus mempercepat target pertumbuhan nasional di tengah tekanan geopolitik global. Fokus utama saat ini adalah membangun fondasi ekosistem yang terintegrasi dan solutif.
Menekan Biaya Tinggi Melalui Inovasi Digital
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menyatakan ketidakpastian global bukan alasan untuk menunda transformasi digital. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjaga momentum pertumbuhan jika kolaborasi antarpemangku kepentingan berjalan efektif. Digitalisasi terbukti mampu meningkatkan efisiensi ekonomi melalui penurunan tingkat Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
Nilai ICOR Indonesia saat ini masih relatif tinggi, berada pada kisaran angka enam hingga delapan. Tingginya nilai tersebut menunjukkan bahwa investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi masih sangat besar. “Hasil kajian kami menunjukkan digitalisasi mampu menurunkan ICOR, sehingga investasi menghasilkan pertumbuhan yang lebih efisien,” jelas Piter saat diskusi DEAL 2026, Selasa (23/6).
Piter menambahkan, efisiensi maksimal dapat dicapai jika digitalisasi dibarengi dengan reformasi struktural. Upaya tersebut mencakup pengurangan praktik ekonomi berbiaya tinggi serta peningkatan efisiensi birokrasi secara menyeluruh. Kombinasi kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif bagi pelaku usaha nasional.
Menyiapkan Fondasi AI untuk Kedaulatan Teknologi
Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini tengah merancang peta jalan (roadmap) AI nasional sebagai panduan strategis. Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru, Aju Widya Sari, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi konsumen teknologi global. Pengembangan AI harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan sektor produktif dan memberikan nilai ekonomi nyata.
Pemerintah menargetkan periode 2026 hingga 2029 untuk memperkuat fondasi ekosistem yang mencakup talenta digital dan infrastruktur komputasi. “Kami sedang membangun dasar yang kuat melalui tata kelola data serta kebijakan yang mendukung inovasi berkelanjutan,” ujar Aju. Ia menekankan bahwa Indonesia harus fokus pada penguatan ekosistem internal tanpa terburu-buru membandingkan diri dengan negara yang telah maju.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk memperkuat produktivitas nasional. Fokus utama tetap pada penciptaan sumber daya manusia unggul yang mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi. Dengan ekosistem yang matang, Indonesia diproyeksikan mampu bertransformasi menjadi pemain penting dalam peta ekonomi digital dunia menuju Indonesia Emas 2045. *R102






