Lokapalanews.id | Ponsel saya berdering. Saat itu saya sedang duduk santai di belakang rumah. Di ujung telepon, seorang pejabat bicara dengan nada serius.
Beliau mengaku baru saja menerima telepon dari Jakarta. Isinya membuat saya bernapas lega. Karier saya harus diselamatkan.
Saya baru saja “di-dor”. Dipecat. Tanpa aba-aba. Tanpa ada surat peringatan pertama. Tanpa ada SP-2 maupun SP-3.
Alasannya satu: saya dituduh sebagai koordinator mosi tidak percaya. Mosi itu ditandatangani oleh belasan dosen dan pegawai. Mereka gerah. Mereka gelisah.
Logika saya berputar. Di kampus mana pun, mosi adalah aspirasi kolektif. Itu puncak dari kejenuhan massal. Bukan hasil “provokasi” satu orang saja.
Saya dituduh memicu gangguan stabilitas. Padahal, mosi itu adalah upaya penyelamatan. Ada banyak borok di sana. Mulai dari jabatan struktural yang dianggap ilegal. Hingga dugaan proyek fiktif ratusan juta rupiah.
Saya tidak tinggal diam. Saya lapor ke Dinas Tenaga Kerja. Proses bipartit pun dilakukan, meski akhirnya gagal. Jika saya diam saja, mungkin hak pesangon saya akan lenyap ditelan bumi.
Akhirnya mereka menyerah. Pesangon mau diberikan. Itu pun setelah ada “peluru” dari Disnaker.
Hati saya bergetar memikirkan nasib teman sejawat. Kalau mereka “di-dor” juga, korbannya bukan cuma si dosen. Ada anak, istri, dan keluarga yang ikut menanggung bebannya.
Pemecatan saya ini memang unik. Belum pernah saya melihat SK pemecatan akademisi penuh tanda tangan ormas. Ada simbol-simbol perjuangan di sana. Padahal ini urusan administrasi kampus. Bukan urusan garis depan pertempuran.
Sejujurnya, saya sudah lama “dibidik”. Pernah dilaporkan atas pencemaran nama baik, tapi akhirnya di-SP3 oleh polisi. Akun-akun strategis saya di sistem kampus juga direset secara sepihak.
Skenario terakhir adalah yang paling jahat. Saya dijadikan sasaran tembak tunggal. Menuduh saya sebagai dirigen mosi. Padahal itu adalah jeritan nurani rekan-rekan saya.
Instansi ini sering mendengungkan semangat kepahlawanan. Nama-nama pejuang besar dibawa-bawa dalam setiap rapat. Namun, cara mereka memperlakukan pendidik jauh dari nilai-nilai luhur itu.
Rasanya seperti menghadapi penjajah di rumah sendiri. Penjajah yang tak kenal rasa empati. Mereka punya kuasa, tapi sepertinya lupa punya hati.
Keadilan mungkin bisa disembunyikan dalam tumpukan berkas. Namun, integritas akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk tegak berdiri. Kebenaran tidak akan pernah bisa dimusnahkan oleh moncong kekuasaan manapun.
Dunia memang aneh. Di tempat orang belajar tentang etika sosial, justru di sana praktik politik “tembak mati” terjadi. *yas






