Lokapalanews.id | Saya sedang membaca daftar. Panjang sekali. Ada banyak universitas yang memakai nama pahlawan nasional. Ada Sang Proklamator. Ada Sang Panglima Besar. Ada pula tokoh pergerakan dari tanah Sulawesi hingga Maluku.
Bagus. Sangat bagus. Namanya mentereng. Harapannya pun setinggi langit: agar mahasiswa ketularan semangat juang mereka. Semangat patriotisme. Semangat kejujuran.
Tapi saya sering tertegun. Melihat realitas di beberapa institusi yang menyandang nama agung itu. Nama di gerbang begitu heroik, tapi kelakuan di dalamnya justru kerdil. Ada fenomena yang saya sebut sebagai “pembungkaman berselimut jimat”.
Begini. Katakanlah ada seorang pengajar. Dia melihat ada yang tidak beres di dapurnya sendiri. Sebagai orang yang punya nalar dan nurani, dia bersuara. Dia memberikan kritik. Dia menginginkan perbaikan.
Apa yang didapat? Jawaban yang konstruktif?
Bukan. Yang datang justru surat pemberhentian. Alias dipecat. Dibuang seperti sampah karena dianggap mengganggu kenyamanan mereka yang sedang asyik di zona nyaman.
Inilah ironi tingkat tinggi.
Kita mengagungkan nama pahlawan di papan nama kampus. Kita pasang foto mereka di setiap sudut. Tapi ketika ada individu di dalam kampus yang mencoba bertindak jujur dan berani – persis seperti sifat pahlawan itu sendiri – dia justru dipangkas.
Pihak pengelola seringkali berdalih dengan alasan “gagal pembinaan”. Padahal, kita tahu itu hanya bahasa halus untuk “pembersihan pengkritik”.
Dunia memang sedang terbalik. Keberanian bersuara dianggap pembangkangan. Kejujuran dianggap ancaman.
Yang lebih memuakkan: terkadang simbol-simbol perjuangan atau organisasi yang identik dengan kepahlawanan “diseret” untuk melegitimasi tindakan tersebut. Seolah-olah pemecatan itu adalah titah suci demi menjaga kehormatan nama besar sang tokoh.
Bukankah pahlawan itu justru berdiri paling depan melindungi mereka yang benar? Bukankah pahlawan itu simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan?
Kalau simbol patriotisme dipakai untuk menindas hak seorang pendidik, itu namanya intimidasi struktur. Itu namanya menggunakan “jimat” kejayaan masa lalu untuk menutupi borok manajemen masa kini.
Inilah krisis kita di tahun 2026. Kita terlalu sibuk memoles simbol, tapi alergi pada substansi. Kita bangga memakai nama pahlawan, tapi mentalitas kita justru seperti “kompeni” yang anti-kritik.
Pahlawan itu bukan sekadar nama di papan kampus atau merek dagang pendidikan. Pahlawan itu adalah nilai. Nilai keberanian menghadapi kebenaran yang pahit sekalipun.
Jika sebuah institusi menyandang nama pahlawan tapi mematikan nalar kritis orang-orang di dalamnya, institusi itu sedang melakukan pengkhianatan intelektual. Mereka sedang memperdagangkan nama pahlawan demi menutupi ketidakmampuan mengelola perbedaan.
Pengelola mungkin merasa menang karena sudah menyingkirkan “si pengganggu”. Tapi sebenarnya mereka sedang memproklamasikan kekalahan moral mereka sendiri.
Kampus atau sekolah itu tempat menyemai keberanian berpikir. Bukan pabrik kepatuhan buta di balik narasi-narasi besar yang palsu.
Kebenaran biasanya punya jalannya sendiri untuk muncul ke permukaan. Tidak peduli seberapa tebal ia ditimbun dengan simbol-simbol heroik.
Saya jadi teringat pesan para pendahulu kita. Mereka berjuang agar bangsa ini merdeka berpikir. Bukan agar bangsa ini mahir bersiasat untuk mematikan karier sesama demi menjaga citra yang retak.
Kasihan para pahlawan itu. Namanya harum, tapi mungkin mereka menangis melihat apa yang terjadi di balik tembok-tembok yang mengatasnamakan mereka, namun perilakunya justru menginjak-injak nilai perjuangan mereka.
Integritas itu sakral. Sekali ia ditukar dengan ego penguasa kecil di kampus, maka saat itulah kualitas pendidikan kita tamat.
Jangan ajarkan mahasiswa tentang pahlawan jika Anda sendiri ketakutan menghadapi satu orang yang jujur.
Karena pahlawan sejati tidak butuh pajangan foto di dinding. Mereka butuh penerus yang punya nyali untuk tidak diam saat melihat kejanggalan. *yas






