--- / --- 00:00 WITA

Indonesia Tawarkan Mediasi Redam Konflik Iran-AS-Israel

Menteri Luar Negeri RI Sugiono saat melakukan pembicaraan diplomatik dengan Wakil Tetap Palestina untuk PBB Menteri Riyad Mansour sebagai bagian dari rangkaian upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Lokapalanews.id | Jakarta – Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog dan mediasi guna menghentikan eskalasi serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Tawaran diplomasi ini muncul di tengah situasi kemanusiaan yang kian kritis setelah serangan udara gabungan yang dilancarkan sejak akhir pekan lalu dilaporkan menelan ratusan korban jiwa warga sipil di berbagai wilayah pemukiman Iran.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengungkapkan bahwa tawaran mediasi tersebut telah disampaikan langsung kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret Indonesia dalam mencegah perluasan konflik di kawasan Timur Tengah yang berisiko memicu ketidakstabilan global. Sugiono menekankan pentingnya penghentian segera jatuhnya korban jiwa dari pihak masyarakat yang tidak bersalah.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Tujuannya adalah mencegah eskalasi lebih lanjut dan menghentikan hilangnya nyawa orang tak bersalah secara tidak perlu,” tegas Sugiono melalui pernyataan resmi yang diunggah pada akun media sosial X miliknya, Selasa (3/3/2026).

Menlu Sugiono mendesak seluruh pihak yang terlibat untuk menahan diri secara maksimal dan segera melakukan langkah de-eskalasi. Indonesia memandang bahwa penghormatan terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan harga mati yang harus dijunjung tinggi dalam menyelesaikan sengketa antarnegara. Menurutnya, penggunaan kekuatan militer hanya akan memperkeruh keadaan, sementara diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional.

Sejalan dengan inisiatif tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto dikabarkan berencana terbang langsung ke Teheran untuk berperan sebagai penengah. Rencana kunjungan kepala negara ini telah dikomunikasikan kepada pemerintah Republik Islam Iran. Menlu Sugiono menyebut bahwa pihak Teheran menyambut baik niat Indonesia untuk terlibat aktif dalam mencari solusi damai di tengah kemelut bersenjata tersebut.

Baca juga:  Presiden Prabowo Pimpin Ratas Bencana: Fokus Pemulihan Sawah dan Irigasi

Apresiasi senada datang dari Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (2/3/2026), Boroujerdi menyatakan sangat menghargai niat baik pemerintah Indonesia. Meski demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada langkah teknis mendalam terkait realisasi mediasi tersebut, mengingat situasi di lapangan yang masih sangat dinamis dan dipenuhi aksi militer.

“Kami sangat menghargai dan mengapresiasi niat baik yang disampaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Walaupun sampai sekarang ini belum ada langkah berkaitan dengan hal tersebut,” kata Boroujerdi. Ia menambahkan bahwa pemerintahnya sangat terbuka untuk menyambut Presiden Prabowo jika ingin melakukan pembicaraan lebih lanjut, meskipun ia belum dapat menjamin dampak instan dari mediasi tersebut terhadap penghentian perang.

Kondisi di Iran sendiri dilaporkan memburuk drastis dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Bulan Sabit Merah Iran per Senin (2/3/2026), serangan udara gabungan AS dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) telah menyasar sedikitnya 131 kawasan permukiman. Dampak serangan ini sangat mematikan, dengan laporan terbaru yang mengonfirmasi angka kematian telah melonjak hingga mencapai 555 korban jiwa.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dari data awal yang dirilis pada Sabtu lalu, yang mencatat 201 orang tewas dan 747 orang luka-luka. Meluasnya titik serangan ke area sipil memicu keprihatinan internasional, dan Indonesia sebagai negara dengan kebijakan luar negeri bebas aktif berupaya mengambil peran strategis untuk memastikan stabilitas regional kembali terjaga melalui meja perundingan. *R101

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."