Lokapalanews.id | Saya punya teman. Orangnya pintar. Tapi jarinya lebih cepat dari otaknya. Tiap pagi, ritualnya bukan minum kopi. Tapi buka media sosial. Lalu apa? Marah-marah.
Dia tersinggung. Ada status temannya yang pamer mobil baru, dia merasa disindir karena cicilannya macet. Ada yang posting soal kebahagiaan keluarga, dia merasa itu serangan buat dia yang baru saja cerai.
Padahal, yang posting belum tentu kenal dia. Atau mungkin, yang posting cuma ingin pamer saja. Biasa. Manusia.
Saya tanya ke dia: “Siapa yang suruh kamu baca?”
Dia diam. Bingung.
Memang begitu dunia sekarang. Kita ini aneh. Kita masuk ke rumah orang secara sukarela, lalu kita marah karena dekorasi rumahnya tidak sesuai selera kita. Kita buka profil orang, lalu kita sakit hati sendiri.
Itu namanya cari penyakit. Gratisan pula.
Dunia maya itu panggung sandiwara. Dulu, panggung itu hanya di televisi. Sekarang, panggungnya ada di saku celana Anda. Semua orang jadi aktor. Semua orang ingin terlihat hebat.
Masalahnya, banyak dari kita yang lupa kalau itu cuma pertunjukan. Kita anggap itu kenyataan yang harus kita respon dengan perasaan. Kita bawa ke hati.
Status orang lain itu hak mereka. Mau sombong, mau pamer, mau curhat sampah, itu wilayah mereka. Yang jadi masalah adalah ketika Anda merasa status itu adalah batu yang dilempar ke wajah Anda.
Siapa yang lempar? Ya Anda sendiri. Anda yang mengambil tulisan itu, lalu Anda hantamkan ke perasaan sendiri.
Logikanya sederhana. Kalau Anda tahu ada lubang di jalan, apakah Anda sengaja masuk ke dalamnya? Tidak. Anda menghindar. Tapi di media sosial, kita justru sengaja masuk ke lubang-lubang emosi itu. Kita scroll, kita baca, kita baper.
Lalu kita salahkan sistem. Kita salahkan manajemen hidup yang berantakan. Kita bilang kita tidak dapat dukungan. Padahal, kuncinya cuma satu: jempol Anda.
Kita harus jujur pada diri sendiri. Seringkali, rasa tersinggung itu bukan karena orang lain jahat. Tapi karena kita sendiri yang sedang merasa kurang. Kita merasa gagal, lalu melihat orang lain berhasil, kita sebut itu penghinaan.
Itu pikiran yang sakit.
Dunia internet itu diciptakan untuk hiburan. Untuk mempermudah urusan. Bukan untuk tempat mengasah pisau sakit hati. Kalau tiap baca status orang Anda merasa kena mental, mungkin Anda butuh istirahat. Bukan butuh kuota internet.
Manajemen diri itu penting. Jangan salahkan keadaan kalau kita sendiri yang tidak punya benteng. Jangan salahkan briefing yang tidak ada dari atasan kalau kita sendiri tidak bisa memberi briefing pada diri sendiri kapan harus berhenti melihat layar.
Kita seringkali terlalu keras pada orang lain, tapi terlalu lembek pada emosi sendiri. Kita ingin semua orang menjaga perasaan kita, padahal kita sendiri tidak pernah menjaga mata kita dari konten yang merusak suasana hati.
Ingat, di dunia digital, Anda adalah editor bagi hidup Anda sendiri. Anda punya tombol block. Anda punya tombol unfollow. Anda punya pilihan untuk tidak peduli.
Kepedulian kita itu mahal. Jangan dibuang-buang untuk status orang yang bahkan tidak tahu Anda masih bernapas atau tidak.
Kita perlu belajar jadi penonton yang cerdas. Menonton film horor tidak perlu takut beneran sampai tidak berani ke kamar mandi. Menonton drama tidak perlu sampai ikut menangis tujuh hari tujuh malam. Begitu juga melihat media sosial.
Itu cuma gambar. Itu cuma teks. Itu bukan vonis hakim.
Saya belajar satu hal. Hidup ini sudah cukup berat dengan urusan dapur dan cicilan. Jangan ditambah lagi dengan urusan perasaan yang bersumber dari layar 6 inci.
Dukungan terbaik bukan datang dari orang lain. Bukan dari sistem yang sempurna. Tapi dari kewarasan kita dalam menyaring apa yang masuk ke otak.
Kalau Anda merasa tidak kuat melihat kebahagiaan orang lain, matikan HP-nya. Pergi ke pasar. Lihat orang jualan sayur. Mereka lebih nyata. Mereka lebih jujur.
Jangan jadi generasi yang dikalahkan oleh status WhatsApp. Jangan jadi manusia yang hancur hanya karena caption Instagram. Itu konyol.
Hargai diri Anda. Caranya? Jangan biarkan sampah orang lain menumpuk di pikiran Anda.
Status orang adalah urusan mereka. Ketenangan hati adalah tanggung jawab Anda. Kalau masih baper juga, ya sudah. Mungkin Anda memang senang menyiksa diri sendiri. Jangan komplain.
Selesai. *yas






