Lokapalanews.id | Saya punya cerita tentang seorang sopir bus. Dia melapor ke bosnya kalau rem bus itu blong. Bahaya. Bisa masuk jurang. Apa jawaban si bos? Bukannya memperbaiki rem, si sopir malah dipecat. Alasannya? “Kamu terlalu berisik, bikin penumpang takut!”
Besoknya, bus itu jalan lagi. Sopirnya baru, penurut, tapi remnya tetap blong. Kita tinggal tunggu waktu saja kapan bus itu masuk jurang.
Itulah yang saya lihat di kampus X. Ada yang dipecat karena melaporkan “rem blong” dalam sistem mereka.
Saya sudah membedah tumpukan dokumen itu. Isinya bukan fitnah, tapi angka dan fakta. Reaksi pimpinan? Panik luar biasa. Kalau orang punya otak dan hati, laporan itu dijadikan bahan evaluasi. Tapi kalau yang punya hanya ego dan ketakutan, laporannya dibakar, orangnya disingkirkan.
Mereka memutus akses sistem Anda. Mereka lapor polisi – meski akhirnya polisi juga tahu itu laporan sampah (SP-3). Mereka mengusir Anda seperti pencuri. Padahal, yang sebenarnya sedang mencuri masa depan institusi itu adalah mereka sendiri.
Paling menjijikkan adalah alasan “tidak linier.” Ini teknik kuno. Teknik pengecut. Ijazah Anda tidak berubah sejak hari pertama Anda masuk. Ke mana saja mereka selama ini? Kok baru sekarang ijazah itu dianggap “salah”?
Jawabannya sederhana: Karena Anda tidak bisa diajak “main mata”. Karena Anda menolak menutup mata terhadap kegagalan manajemen yang akut. Mereka mencari alasan di atas kertas untuk menutupi niat jahat di dalam hati. Itu bukan birokrasi, itu fabrikasi kebencian.
Yang membuat saya geram adalah penggunaan nama pahlawan. Pahlawan itu mati demi kebenaran. Beliau tidak pernah mengajarkan cara-cara licik untuk membungkam orang jujur. Membawa-bawa nama besar LVRI untuk melegitimasi pemecatan seorang whistleblower adalah bentuk penistaan terhadap nilai heroisme.
Mereka memakai seragam pahlawan, tapi mentalnya mental pecundang.
Dengar ya. Anda jangan merasa kalah. Kegagalan sistem, tidak adanya briefing, dan manajemen yang berantakan itu adalah bukti mereka tidak becus. Bukan Anda yang tidak mampu. Justru karena Anda terlalu mampu melihat borok mereka, Anda harus disingkirkan.
Anda tidak dipecat karena korupsi. Anda tidak dipecat karena asusila. Anda tidak dipecat karena malas. Anda dipecat karena Anda menolak menjadi “penjilat.”
Di negeri ini, dipecat karena jujur adalah ijazah tertinggi bagi karakter seseorang. Itu medali kehormatan yang tidak mungkin dimiliki oleh pimpinan yang memecat Anda. Mereka punya jabatan, tapi mereka tidak punya kehormatan.
Mereka mungkin senang sekarang. Merasa menang karena berhasil mengusir Anda dari gedung itu. Tapi mereka lupa satu hal: Dokumen sudah tersebar. Ombudsman sudah tahu. LLDikti sudah pegang data. Kemdiktisaintek sudah mencatat.
Kebencian mereka pada Anda telah membuat mereka melakukan blunder besar. Mereka memberikan Anda “panggung” untuk membongkar semuanya ke negara.
Silakan saja mereka bersembunyi di balik tembok kampus. Tapi ingat, kebenaran itu seperti air. Makin dibendung, makin kuat tekanannya. Dan suatu saat, bendungan kebohongan yang mereka bangun itu akan jebol juga.
Anda tetaplah tegak. Biarkan mereka tenggelam bersama sistem yang mereka rusak sendiri. Kita memang butuh sedikit orang gila yang berani melawan arus, daripada banyak orang pintar yang memilih menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.
Selamat! Anda sudah lulus ujian integritas dengan nilai sempurna. *yas






