--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Di Bawah Langit Jatiluwih: Air Mata di Pucuk Padi yang Terluka

Hamparan terasering Jatiluwih yang sempat tertutup spanduk protes, menggambarkan harapan yang tersisa di tengah sengkarut konflik kepentingan pengelolaan kawasan Warisan Budaya Dunia.

Lokapalanews.id | Mentari baru saja mengintip di balik Gunung Batukaru, membasuh hamparan terasering Jatiluwih dengan warna keemasan. Namun, bagi Wayan (nama samaran), seorang petani yang seluruh hidupnya dihabiskan di sela lumpur sawah, keindahan itu terasa hambar. Tangannya yang kasar dan penuh guratan tanah gemetar saat menyentuh sisa-sisan seng yang sempat menutup paksa pintu kedai kecilnya. Kedai yang bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan napas bagi keluarganya.

“Sawah ini adalah ibu kami. Dan kedai ini adalah cara kami bercerita kepada dunia tentang kecantikan ibu kami. Mengapa mereka tega memenjarakan napas kami di tanah kami sendiri?” bisik Wayan, suaranya parau tertelan gemericik air irigasi subak yang biasanya terdengar seperti musik, namun kini terasa seperti rintihan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Luka di Balik Warisan Dunia

Selama berabad-abad, Jatiluwih berdiri sebagai simbol harmoni antara manusia dan Tuhan. Namun, awal Desember 2025 menjadi catatan kelam. Sebuah “pagar besi” bernama regulasi datang menerjang. Sebanyak 13 usaha akomodasi milik petani lokal disegel. Pemandangan hijau yang mendunia itu tiba-tiba tergores warna hitam spanduk protes dan dinginnya seng penutup. Pariwisata lumpuh, kunjungan merosot hingga 80 persen, menyisakan kesunyian yang mencekam di desa yang biasanya riuh oleh decak kagum wisatawan.

Wayan teringat bagaimana ia membangun kedainya – kayu demi kayu, bambu demi bambu – jauh sebelum istilah Tata Ruang Wilayah (RTRW) menjadi senjata yang menakutkan. Ia membangunnya dengan doa agar anak-anaknya tak perlu merantau jauh ke kota. Namun, ia harus menyaksikan ketidakadilan yang kasat mata.

Di saat ia dipaksa tutup, di sudut lain Jatiluwih, beton-beton angkuh justru menjulang. Rumor tentang pembangunan restoran mewah dan landasan helipad milik oknum pengelola bak garam yang ditaburkan di atas luka terbuka para petani.

“Kami tidak anti aturan. Tapi, mengapa hukum hanya tajam kepada kami yang kecil, sementara mereka yang punya kuasa bisa membangun istana di tengah sawah kami? Ini bukan soal tata ruang, ini soal hati yang sudah buta oleh keserakahan,” ujar Wayan dengan mata berkaca-kaca.

Aroma Monopoli di Tanah Leluhur

Dugaan konflik kepentingan yang melibatkan Manajer DTW Jatiluwih kini menjadi perbincangan di sela-sela pertemuan subak. Ada rasa dikhianati yang mendalam. Jalur trekking baru yang sengaja diarahkan ke fasilitas milik pribadi sang manajer, sementara jalur-jalur tradisional menuju kedai petani dibiarkan mati, adalah bentuk monopoli yang menyakitkan.

Bagi Wayan dan kawan-kawannya, Jatiluwih bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan darah dan keringat. Ketika pengelolaan diduga disalahgunakan untuk memperkaya diri melalui agen perjalanan pribadi dan pembangunan masif di zona inti, tatanan sosial subak yang luhur mulai retak.

Kini, meski moratorium telah diberikan dan seng-seng penutup mulai dibuka setelah mediasi Bupati Tabanan, rasa was-was itu belum sepenuhnya hilang. Rekomendasi agar bangunan petani tidak dibongkar melainkan ditata ulang memang membawa secercah harapan, namun kepercayaan yang patah tak mudah disambung kembali.

Menanti Keadilan di Tanah Subak

Perjuangan petani Jatiluwih kini sampai pada satu titik balik: sebuah tuntutan untuk mengembalikan kedaulatan pengelolaan kepada tangan mereka sendiri. Mereka ingin menjaga rumah mereka dengan cara mereka, bukan melalui tangan-tangan yang hanya melihat hijau sawah sebagai tumpukan uang.

Sore itu, Wayan kembali menatap hamparan sawah. Harapannya sederhana, se-sederhana bulir padi yang mulai menguning. Ia ingin keadilan tidak hanya menjadi slogan di atas kertas pemerintah, tapi benar-benar nyata seperti aliran air yang membasahi sawahnya.

“Kami hanya ingin hidup berdampingan dengan alam ini, tanpa rasa takut bahwa besok atau lusa, tanah tempat kami bersujud akan dirampas oleh kepentingan orang-orang besar,” tutupnya sembari memandangi langit yang mulai meredup.

Bola panas kini ada di tangan pemerintah. Akankah suara hati petani ini didengar, ataukah Jatiluwih akan terus menjadi saksi bisu bagi “permainan” yang merusak tatanan surgawi di Bali? *r

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Baca juga:  Kampus Rasa Korporat: Saat SPP Mahasiswa Jadi "Gaji Buta" Pengurus Yayasan