--- / --- 00:00 WITA

Menakar Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan memberikan sambutan dalam acara Risk and Governance Summit 2026 di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.

Lokapalanews.id | Jakarta – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen penguatan future-ready governance sebagai fondasi utama menjaga resiliensi ekonomi di tengah gejolak geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dunia. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, menyatakan bahwa tata kelola yang adaptif menjadi kunci menjaga kepercayaan investor di tengah tantangan the new normal. Langkah ini diambil guna mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen di masa mendatang.

Ketahanan ekonomi Indonesia mendapatkan pengakuan dari lembaga internasional di tengah tren perlambatan di kawasan Asia. Laporan World Economic Outlook IMF edisi Juli 2026 tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5%, saat proyeksi negara berkembang Asia lainnya justru dipangkas. Senada, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di level 5,2%, kontras dengan penurunan rata-rata proyeksi negara tetangga di Asia Tenggara.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Stabilitas ini diperkuat oleh pengakuan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang menegaskan Sovereign Rating Indonesia di level BBB/A-2 dengan Prospek Stabil. Kepercayaan pasar ini berakar pada beberapa pilar fundamental yang dinilai kredibel oleh investor global yakni stabilitas dalam pengambilan kebijakan dan koordinasi antar-otoritas, transparansi regulasi yang memberikan jaminan bagi pelaku usaha, efisiensi pasar keuangan yang terus diperdalam melalui digitalisasi, optimalisasi devisa hasil ekspor untuk nilai tambah ekonomi nasional.

Pemerintah tidak lagi mengandalkan cara-cara konvensional dalam mengelola risiko. Tata kelola masa depan atau future-ready governance diarahkan untuk mengantisipasi krisis sebelum memuncak melalui kebijakan yang terkoordinasi. Fokus utama kini bergeser pada penguatan sektor keuangan dan riil melalui beberapa terobosan strategis yang sedang dikebut pelaksanaannya.

Baca juga:  Moody's Pertahankan Peringkat Kredit RI Baa2

Pemerintah tengah menggenjot pengembangan ekosistem emas batangan nasional serta perluasan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions) untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang asing. Sektor-sektor baru seperti transformasi digital, ekonomi hijau, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi motor penggerak utama. Sinergi ini diharapkan mampu membawa Indonesia melampaui hambatan struktural yang selama ini membayangi ekonomi domestik.

Perjalanan mencapai target pertumbuhan 8 persen yang dipatok Presiden kini bergantung pada konsistensi implementasi regulasi di lapangan. Meski angka makro menunjukkan sinyal positif, tantangan besar tetap terletak pada sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah, serta ketahanan sektor jasa keuangan terhadap guncangan eksternal yang tak terduga. Kepercayaan investor bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan manifestasi dari bagaimana aturan-aturan tersebut bekerja secara transparan di pasar yang sesungguhnya. *R102

👁️ 5.844 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."