Lokapalanews.id | Jakarta – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menggeledah rumah Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan, Bobby Adhityo Rizaldi, di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026. Langkah ini menjadi babak baru dalam pengembangan kasus suap audit BPK di Pemerintah Kabupaten Muara Enim yang menjerat sejumlah pejabat daerah hingga auditor negara. Juru bicara KPK Budi Prasetyo memastikan tim penyidik menyita sejumlah barang bukti elektronik yang akan segera diekstrak untuk mendalami aliran dana gelap dalam perkara tersebut.
Skandal ini mencuat ke permukaan setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Bupati Muara Enim nonaktif, Edison, pada 8 Juni 2026. Penyidik menduga Edison menyuap pihak BPK senilai 1,6 miliar rupiah untuk memuluskan hasil audit proyek pengadaan smart board di daerahnya. Tak hanya itu, Edison juga diduga menerima setoran dari pihak rekanan, PT Millenium Solusi Abadi, senilai 500 juta rupiah demi menjaga kelancaran proyek tahun 2025. Total uang yang berhasil disita penyidik dari berbagai pihak dalam kasus ini mencapai 1,9 miliar rupiah.
Daftar tersangka terus membengkak seiring pendalaman penyidikan yang dilakukan lembaga antirasuah. Selain Edison, KPK menetapkan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Abi Nurwardani serta keponakan bupati, Adi Triyadi, sebagai tersangka dari pihak pemerintah daerah. Sementara dari pihak BPK, penyidik menjerat Ketua Tim Pemeriksaan BPK Perwakilan Sumatra Selatan, Titin Rita Lestari, serta Augus Dwi Anggara yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Bobby Rizaldi. Nama-nama dari pihak swasta seperti Marketing PT Millenium Solusi Abadi, Cory Erin Hardi, dan Direktur perusahaan tersebut, Fika, pun turut mendekam dalam jerat hukum yang sama.
Di balik jeruji besi, Titin Rita Lestari mulai bernyanyi. Ia mengaku hanya bertindak sebagai pelaksana di lapangan dan menegaskan bahwa uang suap tersebut mengalir secara berjenjang kepada pimpinan di atasnya. Pengakuan ini menjadi amunisi berharga bagi KPK untuk memverifikasi apakah aliran dana tersebut benar-benar sampai ke level pengambil keputusan tertinggi di instansi pemeriksa keuangan negara itu. Penggeledahan di kediaman Bobby Rizaldi menjadi bukti nyata bahwa KPK tidak hanya menyasar pemain lapangan, tetapi mencoba menembus tembok tebal birokrasi di instansi auditor negara.
Keterlibatan oknum BPK dalam pusaran suap ini menjadi tamparan keras bagi integritas pengawasan keuangan di daerah. Kepercayaan publik yang selama ini disandarkan pada hasil audit BPK kini dipertaruhkan di meja pengadilan. Jika terbukti ada sistematisasi suap di level pimpinan, maka kasus Muara Enim ini bukan sekadar korupsi biasa, melainkan pengkhianatan terhadap mandat pengawasan yang seharusnya menjaga uang negara dari praktik rente. Kelanjutan proses ekstraksi barang bukti elektronik dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah skandal ini bakal menyeret lebih banyak petinggi di jajaran BPK. *R103







