Lokapalanews.id | Sidoarjo – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendesak perguruan tinggi mengubah sistem pengujian dan manajemen tata kelola demi mendongkrak daya saing global lulusan Indonesia. Langkah ini diambil karena standar kompetensi akademis domestik dinilai belum sepenuhnya memenuhi kualifikasi internasional. Pemerintah menuntut kampus tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, melainkan pusat pembentukan karakter yang disiplin.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan sistem akreditasi nasional harus diperkuat melalui perbaikan berkelanjutan. Saat menghadiri pelatihan penguji Objective Structured Clinical Examination (OSCE) di Universitas Anwar Medika, Sabtu (16/5/2026), ia menyoroti pentingnya adopsi budaya kerja luar negeri. Brian merefleksikan pengalamannya berkolaborasi dengan sejumlah universitas di Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat yang menerapkan prinsip ketelitian penuh.
“Kita ingin lulusan Indonesia memiliki kualitas yang teruji dan mampu bersaing, termasuk di tingkat internasional,” ujar Menteri Brian di hadapan para dosen penguji dari berbagai wilayah.
Mengubah Sampah Menjadi Solusi Ekonomi
Tuntutan pembenahan ini berdampak langsung pada beban kerja para dosen dan manajemen birokrasi kampus. Saat melanjutkan kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Brian menegaskan pengelola kampus harus proaktif membantu dosen dalam pengurusan karier, kenaikan jabatan, hingga publikasi ilmiah. Di sisi lain, masyarakat sekitar kampus kini ditargetkan menjadi mitra dalam hilirisasi riset nyata, salah satunya melalui program pengelolaan sampah terpadu.
Inovasi berbasis teknologi ini dirancang untuk menyelesaikan masalah lingkungan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai skema pendanaan insentif bagi kampus yang berhasil menjalankan program pengelolaan sampah tersebut. *R104






