--- / --- 00:00 WITA

Presiden Instruksikan Audit Total Keselamatan Kereta

Presiden Prabowo Subianto menjenguk korban kecelakaan kereta api di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Lokapalanews.id | Bekasi – Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat merespons tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Selasa pagi, 28 April 2026, Kepala Negara menjenguk para korban di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid guna memastikan penanganan medis berjalan optimal sekaligus menginstruksikan perbaikan sistemik pada infrastruktur perkeretaapian nasional.

Tiba di lokasi sekitar pukul 08.39 WIB, Presiden langsung menuju poli bedah dan ruang perawatan Bougenville untuk berinteraksi dengan pasien yang tengah dirawat. Dalam keterangannya, Presiden Prabowo mengungkapkan keprihatinan mendalam atas insiden yang merenggut nyawa serta mengakibatkan puluhan warga luka-luka tersebut.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat kerentanan pada perlintasan sebidang yang kerap menjadi titik lemah keselamatan transportasi. Berdasarkan laporan awal, kecelakaan dipicu oleh mobil taksi listrik yang mogok di perlintasan JPL 85 Ampera, hingga memicu efek domino yang melibatkan tiga rangkaian kereta api.

Guna mencegah kejadian serupa, Presiden Prabowo menyetujui langkah strategis berupa pembangunan flyover di wilayah Bekasi yang memiliki kepadatan lalu lintas sangat tinggi. Pembangunan ini akan dilakukan melalui bantuan Presiden demi mempercepat proses eliminasi perlintasan sebidang yang tidak dijaga.

Menurut Presiden, terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan kereta api di Pulau Jawa yang memerlukan penanganan serupa secara mendesak. Instruksi percepatan perbaikan sistem pengamanan, baik melalui pos jaga maupun pembangunan struktur fisik, kini menjadi prioritas pemerintah guna menjamin keselamatan publik di atas kepentingan ketepatan waktu perjalanan.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) turut mendesak pemerintah untuk melakukan audit keselamatan menyeluruh terhadap sistem Pengendali Perjalanan Kereta Api Terpusat (PPKT). Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang, menyoroti pentingnya implementasi sistem keselamatan otomatis yang selama ini dinilai belum optimal diterapkan pada lintas padat berbasis mixed traffic.

Baca juga:  Pandawa, Kurawa, dan 4 Juta Hektare

MTI juga menyarankan agar proyek double-double track (DDT) dari Bekasi hingga Cikarang segera dirampungkan sebagai solusi pemisah jalur antara KRL dan kereta api jarak jauh. Selain infrastruktur, aspek sumber daya manusia seperti manajemen kelelahan masinis dan penerapan budaya safety over punctuality menjadi poin krusial yang harus segera dievaluasi oleh PT KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

Hingga Selasa pagi, data mencatat tujuh orang meninggal dunia dan 81 lainnya mengalami luka-luka akibat benturan keras dari arah belakang (rear-end collision) tersebut. Pemerintah berkomitmen memberikan kompensasi penuh kepada seluruh korban terdampak sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

Proses investigasi kini sepenuhnya diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Selain mencari penyebab teknis tabrakan, KNKT juga diminta mengaudit keandalan kendaraan listrik yang sempat mogok di atas rel, guna menentukan apakah ada kegagalan teknis pada sarana transportasi darat yang memicu gangguan operasional kereta api secara fatal. *R105

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."