--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Menenun Cahaya dalam Gelap: Lala dan Perlawanan di Balik Toga

Nabila May Sweetha (Lala), alumnus Ilmu Politik Unhas, tersenyum haru mengenakan toga wisuda sebagai simbol keberhasilannya mematahkan stigma terhadap penyandang disabilitas netra.

Lokapalanews.id | Dunia Nabila May Sweetha mendadak sunyi dari warna saat usianya menginjak empat belas. Bayangkan seorang remaja yang tengah gemar menatap langit, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa tirai hitam pekat ditarik paksa menutup matanya. Virus TORCH plasm tidak hanya mencuri penglihatannya secara total, tetapi juga merenggut definisi “normal” yang selama ini ia genggam.

Di sebuah sudut riuh Kota Makassar, gadis yang akrab disapa Lala ini pernah berdiri di persimpangan yang paling menyakitkan. Bukan hanya kegelapan visual yang harus ia raba, melainkan juga gelapnya prasangka manusia. Di telinganya, kalimat-kalimat sumbang kerap berdenging lebih tajam dari sembilu.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

“Orang selalu bilang, saya seharusnya tidak usah sekolah. Untuk apa bersekolah, toh pada akhirnya akan menjadi tukang pijat atau pedagang keripik di pinggir jalan,” kenangnya dengan suara yang getir namun tetap tegar.

Lala tidak hanya bertarung dengan dunianya yang baru. Di saat yang bersamaan, badai domestik menghantam: perceraian orang tua dan kebangkrutan keluarga menjadi luka yang menganga di atas rasa kehilangannya. Ia seolah dipaksa menyerah oleh keadaan sebelum sempat memulai langkah dewasanya. Namun, bagi Lala, menyerah adalah kemewahan yang tidak ingin ia beli.


Keputusan Lala untuk menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) adalah sebuah pernyataan sikap. Di koridor kampus yang luas, ia melangkah dengan tongkat dan tekad yang lebih kokoh dari beton bangunan. Ia memilih Ilmu Politik bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena ia merasakan sendiri bagaimana kebijakan publik seringkali “buta” terhadap kebutuhan mereka yang berbeda.

Ia adalah penyintas perundungan yang memilih untuk menjadi penolong. Setiap diskriminasi yang ia telan, ia ubah menjadi energi untuk menulis. Dengan bantuan teknologi pembaca layar, jemarinya menari di atas papan ketik, melahirkan novel-novel dan tulisan reflektif yang menjadi jendela bagi orang-orang awas untuk melihat isi hati seorang difabel.

Perjalanan itu mencapai puncaknya pada sebuah pagi di bulan Oktober 2025. Di tengah riuh tepuk tangan prosesi wisuda Unhas, Lala berdiri mengenakan toga. Kain hitam itu bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan jubah kemenangan atas stigma abelisme yang selama ini mencoba mengurungnya di pinggir jalan sebagai penjual keripik.

Baca juga:  Bungkam Paling Pahit

Di tengah narasi perjuangannya, Lala menjeda ceritanya dengan sebuah kalimat yang menusuk palung hati:

“Perbedaan seharusnya tidak membuat kita merasa lebih pantas dan lebih berkuasa dari orang lain yang kita anggap tidak normal dan sempurna. Apa pun kata orang yang diskriminatif di luar sana, kita selalu punya hak untuk bermimpi.”

Kutipan itu bukan sekadar bumbu pemanis wawancara. Itu adalah prinsip hidup yang ia bawa saat terjun ke masyarakat sipil melalui Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Di sana, Lala tidak lagi menjadi objek yang dikasihani, melainkan subjek yang mengedukasi. Melalui media sosial, ia membedah lapis demi lapis ketidakadilan, menyuarakan aksesibilitas, dan menuntut ruang yang setara bagi kawan-kawannya yang masih tersembunyi di balik ketakutan.


Kisah Lala adalah pengingat bahwa kegagalan seringkali bukan berasal dari keterbatasan fisik, melainkan dari sistem yang tidak menyediakan ruang bagi perbedaan. Sebagaimana dalam dunia profesional di mana manajemen yang buruk dan ketiadaan dukungan sering menjadi biang keladi kegagalan, dalam kehidupan sosial, ketiadaan inklusivitaslah yang mematikan potensi manusia. Lala berhasil mendobrak pintu-pintu tertutup itu karena ia menolak untuk didefinisikan oleh pandangan orang lain.

Kini, Nabila May Sweetha telah resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik. Jalannya ke depan mungkin masih akan penuh kerikil tajam, namun ia telah membuktikan bahwa cahaya itu tidak datang dari mata, melainkan dari jiwa yang menolak untuk padam.

Di penghujung percakapan, ia menitipkan pesan bagi siapa saja yang tengah merasa kehilangan arah di dalam gelap. Ia mengingatkan bahwa pendidikan dan keberanian adalah lentera yang paling setia. Bagi Lala, keterbatasan hanyalah sebuah variabel, sementara keberanian adalah konstanta yang membawa seseorang meraih mimpinya, seterang apa pun jalannya nanti.

Bagi mereka yang pernah meremehkannya, Lala telah menjawab dengan karya. Dan bagi mereka yang senasib dengannya, Lala adalah bukti hidup bahwa menjadi difabel bukan berarti menjadi tidak berdaya. Ia adalah pejuang kesetaraan yang menenun cahayanya sendiri dalam gelap. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."