Mentari baru saja mengintip di balik Gunung Batukaru, membasuh hamparan terasering Jatiluwih dengan warna keemasan. Namun, bagi Wayan (nama samaran), seorang petani yang seluruh hidupnya…
Narasi
Jargon dan Bau Busuk
Saya mengelus dada membaca laporan itu. Ada sebuah kampus pusatnya kaum intelektual yang jargonnya luar biasa mentereng. Kebangsaan. Pancasila. Jiwa Semangat Nilai (JSN) ’45. Kurang…
Hukum Mati Tanpa Algojo
Saya punya teman. Dulu akrab sekali. Makan bareng, diskusi sampai subuh, bahkan jatuh bangun urusan bisnis pun bersama. Tapi, suatu hari, sebuah pengkhianatan terjadi. Bukan…
Waspada Si Raja Ego
Saya pernah punya kenalan. Orangnya asyik diajak bicara. Penampilannya rapi. Gayanya meyakinkan. Tapi, lama-lama saya merasa ada yang aneh. Setiap kali ada masalah, dia tidak…
Cermin Karma
Saya teringat kejadian di sebuah bandara, beberapa tahun lalu. Saat itu antrean imigrasi mengular panjang sekali. Di depan saya, ada seorang bapak yang terus-menerus mengomel….
Menanam Jujur, Menuai Hancur
Saya masih ingat getar suara seorang sopir taksi di Surabaya bertahun-tahun lalu. Dengan mata yang basah oleh amarah yang tertahan, ia bercerita tentang pemecatannya. Dosanya…
Main Hakim Sendiri di Grup WhatsApp: Ketika Kampus Kehilangan Etika
Malam itu saya tertegun menatap layar ponsel. Di sebuah grup WhatsApp resmi kampus – tempat yang seharusnya menjadi ruang koordinasi intelektual – sebuah pesan muncul….
Dosen Dibuang, Borok Disimpan
Pernahkah Anda melihat seorang nakhoda panik saat kapalnya bocor? Alih-alih menambal lambung yang bolong, sang nakhoda justru melempar kelasi yang melaporkan kebocoran itu ke tengah…
Mosi tak Percaya, Balas Dendam yang tak Tuntas
Pernahkah Anda melihat orang yang sedang memperbaiki jam dinding, tapi justru memecahkan kacanya? Niatnya merapikan, tapi tangannya terlalu kasar. Atau lebih buruk lagi: jamnya yang…
Kampus Pahlawan, Manajemen Tangan Besi
Saya teringat obrolan dengan seorang kawan lama di sebuah kedai kopi. Ia bercerita tentang pohon besar di halaman rumahnya. Pohon itu rindang, tapi akarnya mulai…
Menendang Dosen, Membakar Rumah Sendiri
Pagi ini saya menyeruput kopi sambil merenung. Saya ingat betul wejangan seorang kakek di kampung saya: “Jangan pernah membunuh ayam yang sedang berkokok membangunkan orang…
Lapor, Pecat, dan Polisi
Sore itu, kopi saya terasa lebih pahit. Bukan karena kurang gula, tapi karena melihat sebuah surat. Isinya bukan undangan makan siang, apalagi kenaikan gaji. Isinya…
Menjemput Fajar 2026 dalam Hening Doa dan Uluran Tangan
Di sebuah sudut pemukiman yang masih menyisakan sisa lumpur akibat banjir bulan lalu, seorang ibu duduk terpaku menatap langit senja. Baginya, pergantian tahun bukan tentang…
Etika Jubah Luar
Saya sering geleng-geleng kepala melihat papan nama yayasan. Isinya indah-indah. Ada yang pakai nama tokoh suci. Ada yang pakai istilah pengabdian. Ada yang mengusung tema…
HP Canggih, Otak Tertinggal
Saya baru saja merenung. Kadang, teknologi itu seperti pisau bermata dua. Kalau di tangan koki, ia jadi masakan lezat. Kalau di tangan orang yang sedang…
Membungkam Kebenaran, Memelihara Kegagalan
Pagi itu saya melihat sebuah pohon besar di pinggir jalan. Daunnya rimbun, batangnya kokoh, tapi akarnya mulai merusak trotoar. Bukannya trotoarnya yang diperbaiki, eh, malah…
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.

