--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Ngutang Kandik Nuduk Jaum

Lokapalanews.id | Ada pepatah dari Bali yang menarik. Ngutang kandik nuduk jaum. Membuang kapak, memungut jarum.

Awalnya saya pikir ini hanya lelucon. Tapi ternyata tidak. Ini adalah nasihat. Nasihat yang sangat dalam. Nasihat yang harusnya menjadi pelajaran bagi para pemimpin.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Negeri ini, entah mengapa, seperti membuang kapak demi memungut jarum. Bukan cuma satu. Tapi banyak. Bahkan hampir semua.

Apa itu kapak? Kapak adalah alat yang kuat. Bisa menebang pohon. Membuka hutan. Menjadi lahan. Menjadi kota. Kapak adalah visi besar. Kapak adalah ide besar. Kapak adalah rencana besar.

Dan apa itu jarum? Jarum itu kecil. Jarum itu remeh. Hanya untuk menjahit. Atau menusuk. Menusuk hal-hal kecil.

Coba perhatikan. Di mana-mana. Kapak dibuang. Jarum dipungut.

Banyak pemimpin punya kapak. Punya kekuasaan. Punya modal. Punya tim. Seharusnya kapak itu dipakai untuk menebang pohon-pohon masalah. Menciptakan terobosan. Mengubah nasib.

Tapi tidak. Mereka lebih suka memungut jarum.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam membahas hal remeh. Rapat yang tidak perlu. Revisi proposal yang isinya hanya koma dan titik. Mengurus perizinan yang bisa diserahkan ke staf. Menciptakan birokrasi yang justru memperlambat.

Kapak mereka jadi tumpul. Bahkan hilang. Kenapa? Karena tidak pernah dipakai.

Mereka asyik “ngutang kandik”. Sibuk dengan urusan-urusan kecil yang sebetulnya bisa diselesaikan bawahan. Mereka takut mengayunkan kapak. Takut melukai. Takut merobohkan. Padahal yang perlu dirobohkan adalah tembok-tembok penghalang kemajuan.

Ini bukan cuma soal birokrasi. Ini soal mentalitas. Mentalitas yang takut membuat keputusan besar. Mentalitas yang nyaman di zona aman. Mentalitas yang memilih mengumpulkan jarum karena takut kapak melukai tangannya sendiri.

Baca juga:  Rumput Ini Biru: Ketika Kebodohan Dipelihara Penguasa

Ini terjadi di mana-mana. Di kantor pemerintahan. Pejabat yang seharusnya fokus pada pembangunan infrastruktur, malah pusing dengan urusan tunjangan perjalanan dinas yang tidak tuntas.

Di BUMN. Direksi yang seharusnya membuat terobosan pasar, malah sibuk mengurus tender pengadaan ATK.

Di sektor swasta. CEO yang seharusnya memikirkan ekspansi bisnis, malah sibuk mengoreksi laporan keuangan yang angkanya beda seribu rupiah.

Kita kehilangan momentum. Kapal besar kita lambat sekali bergeraknya. Karena nahkodanya sibuk memungut jarum yang berceceran di lantai. Padahal badai sudah di depan mata.

Apa yang bisa kita lakukan? Pertama, berhenti memungut jarum. Fokus pada kapak.

Kedua, berani mengambil risiko. Kapak itu alat. Alat untuk merobohkan. Bukan untuk dielus-elus. Risiko pasti ada. Tapi risiko yang paling besar adalah tidak berani mengambil risiko sama sekali.

Ketiga, delegasikan. Percayakan jarum pada orang lain. Pemimpin yang baik tidak harus melakukan segalanya. Pemimpin yang baik tahu siapa yang pantas dipercaya untuk mengurus detail.

Ngutang kandik nuduk jaum.

Kita punya kapak yang tajam. Indonesia. Kapak itu adalah sumber daya kita, potensi kita, dan generasi muda kita. Kapak itu adalah mimpi besar kita.

Jangan sampai kapak itu kita buang hanya karena kita terlalu asyik memungut jarum.

Jika kita terus begini, jangan kaget jika kelak kita hanya punya tumpukan jarum. Tapi tidak punya hutan yang bisa kita tebang untuk membangun rumah.

Rumah kita. Indonesia. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."