Lokapalanews.id | Anda mungkin pernah melihatnya. Atau mungkin Anda salah satunya. Yang jelas, di setiap sudut kekuasaan, di mana pun ada atasan, di situ pasti ada penjilat. Mereka bukan lagi spesies langka. Justru, mereka adalah makhluk paling adaptif.
Saya sering berpikir, apa yang ada di kepala para penjilat ini? Apa yang membuat mereka rela menundukkan kepala, memuji hal-hal yang tidak layak dipuji, hanya demi selembar kertas promosi atau sekadar kursi empuk di sebelah bos?
Awalnya mungkin hanya “Ya, Pak,” yang sopan. Lalu berubah menjadi “Ide Bapak sangat brilian!” Bahkan untuk ide yang sebenarnya biasa saja. Setelah itu, mereka mulai melakukan pekerjaan yang bukan porsi mereka. Membelikan kopi, mengurus jadwal pribadi, hingga urusan keluarga. Semua dilakukan dengan senyum termanis di bibir, seolah-olah itu adalah tugas paling mulia.
Tapi itu semua hanyalah permulaan.
Yang paling mengerikan dari spesies ini adalah ketika mereka gelap mata. Tentu, saya tahu istilah itu sering kita pakai. Tapi untuk penjilat, kata itu punya makna yang lebih dalam. Kegelapan mata mereka bukan lagi soal tak bisa membedakan benar atau salah. Itu soal kesediaan untuk menjadi alat.
Bayangkan. Ketika atasan Anda meminta sesuatu yang melanggar etika, melanggar prosedur, atau bahkan melanggar hukum, apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan orang waras akan berpikir dua kali. Mereka akan mempertimbangkan risikonya. Mereka akan bilang, “Pak, ini tidak bisa.”
Tapi tidak bagi si penjilat.
Di benak mereka, ada logika yang berbeda. Logika yang sangat berbahaya. Logika yang mengatakan, “Tugas saya bukan untuk mempertanyakan. Tugas saya adalah untuk menyenangkan. Tugas saya adalah untuk melayani.”
Maka, tanpa ragu, mereka akan melakukannya. Mereka bisa jadi perpanjangan tangan untuk memecat karyawan yang dianggap “bermasalah”, sekalipun karyawan itu jujur dan berprestasi. Mereka bisa menutupi kecurangan, memutarbalikkan fakta, bahkan menjadi antek untuk melakukan korupsi. Semua demi “aman”. Semua demi terlihat “loyal”.
Padahal, loyalitas sejati itu dibangun atas dasar kejujuran dan integritas, bukan ketundukan buta. Loyalitas sejati adalah berani mengatakan “tidak” ketika atasan salah, karena Anda peduli pada kebaikan bersama. Bukan karena Anda takut kehilangan posisi.
Saya melihat banyak perusahaan hancur, banyak institusi bobrok, bukan karena musuh dari luar, tapi karena penyakit dari dalam: para penjilat. Mereka bukan hanya merusak tatanan, tapi juga meracuni moral. Mereka menciptakan budaya di mana yang dihargai bukan lagi kerja keras, inovasi, atau kejujuran, melainkan siapa yang paling pandai menjilat.
Kita semua harus waspada. Waspada terhadap mereka, dan yang lebih penting, waspada pada diri kita sendiri. Karena batas antara menghormati atasan dan menjadi penjilat sangat tipis. Dan ketika mata sudah mulai gelap, sulit sekali mencari jalan pulang.
Apa yang Anda lihat di kantor Anda? Apakah sudah terlalu banyak penjilat? *yas






