--- / --- • 00:00 WITA
Narasi  

Raja Tega Kampus

Lokapalanews.id | Pagi itu kopi saya tumpah sedikit ke atas meja. Bukan karena gempa. Tapi karena membaca pesan WAG dari grup resmi kampus.

Isinya penuh ancaman berspasi rapi.

Pengirimnya sang rektor sendiri. Orang nomor satu yang semestinya jadi teladan keteduhan akademik, tapi kelakuannya mirip penguasa feodal kesasar.

Repotnya, perangai semacam ini sudah menjadi rahasia umum.

Kalau ada dosen yang kritis, langsung dicap durhaka. Sengaja dipancing emosinya lewat aturan-aturan akal-akalan. Dibuat gerah sampai ubun-ubun.

Begitu si dosen meledak karena kesabarannya habis, rektor dan gerombolannya langsung pasang kamera. Reaksi kemarahan itu direkam, diedit, lalu disebar ke mana-mana sebagai bukti sahih.

Dituduhlah si dosen sebagai pemarah, tidak sopan, dan perusak marwah institusi.

Padahal siapa yang memulai provokasi? Siapa yang merusak sistem dari dalam?

Coba bayangkan logika jungkir balik itu.

Anda dizalimi habis-habisan. Hak-hak akademik Anda dikebiri. Ketika Anda melawan dengan argumen telak, Anda malah diposisikan sebagai terdakwa.

Sementara sang rektor berlagak seperti malaikat tak berdosa di balik jubah kebesarannya.

Usut punya usut, inilah gejala klasik Narcissistic Personality Disorder yang bercokol di pucuk kekuasaan.

Mereka tidak tahan dikritik. Alergi pada kebenaran. Merasa diri paling suci dan paling berhak atas segala fasilitas kampus.

Begitu ada yang membongkar kebusukannya, insting pertamanya bukan introspeksi. Melainkan pembunuhan karakter.

Mencari-cari kesalahan sepele masa lalu. Memelintir omongan. Menghasut senat agar sepakat menjatuhkan sanksi.

Padahal borok di balik toga mereka sudah tercium ke mana-mana.

Tapi birokrasi pendidikan kita memang sering bikin senyum miris. Yang bobrok dilindungi jubah jabatan. Yang jujur dan lurus malah disingkirkan secara licik.

Baca juga:  Kampus Turun Gunung

Alih-alih memikirkan mutu riset dan masa depan mahasiswa, energi mereka habis buat intrik murahan.

Maka jangan heran kalau kampus-kampus kita kerap terasa seperti panggung sandiwara sinetron sore hari.

Penuh drama intrik kekuasaan. Penuh kepalsuan berbalut gelar profesor.

Lalu sampai kapan sandiwara busuk ini mau dipelihara?

Sampai perguruan tinggi ini benar-benar bangkrut moral?

Atau sampai sang rektor sadar bahwa singgasananya cuma sewaan?

Ah, sudahlah.

Kopi saya keburu dingin. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."