Lokapalanews.id | Pagi itu harusnya menjadi hari sakral yang penuh khidmat. Ada prosesi pelantikan wakil ketua di Kampus X. Tapi alam rupanya punya selera humor yang jauh lebih tajam ketimbang protokoler acara.
Brak!
Kursi yang diduduki Ketua Yayasan X tiba-tiba ambruk begitu saja.
Seketika.
Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa peringatan dari Badan Meteorologi.
Sang ketua ndlosor di hadapan para undangan.
Sebuah pemandangan yang kalau di panggung lenong pasti mengundang gelak tawa penonton.
Tapi ini di kampus tempat orang-orang setiap hari mengkaji dinamika kekuasaan dan teori legitimasi.
Alih-alih membaca insiden itu sebagai alarm gaib, para penguasa kampus justru panik dalam bentuk yang salah.
Kepala mereka mendadak panas.
Arogansi dilepas tanpa rem.
Dosen yang berani bersuara kritis langsung disikat.
Dipecat begitu saja.
Padahal di dunia akademik, beda pendapat itu vitamin.
Tapi bagi penguasa yang mentalnya baper, suara kritis adalah duri dalam daging yang harus dicabut paksa meski harus merusak seluruh jaringan tubuhnya.
Repotnya lagi, sang Ketua Kampus X ikut-ikutan kehilangan akal sehat.
Bertindak melompat pagar.
SK pengangkatan dosen kontrak dari yayasan yang payung hukumnya masih sah dan berlaku ditelan mentah-mentah.
Diberhentikan secara sepihak.
Suka-suka udelnya sendiri.
Merasa dirinya lebih berkuasa ketimbang yayasan yang meneken SK tersebut.
Usut punya usut, dalam hukum birokrasi manapun, kalau seorang bawahan sudah berani mengangkangi keputusan lembaganya sendiri, itu namanya bunuh diri administratif.
Tinggal menunggu detik-detik sebelum kepalanya digilas oleh mesin birokrasi yang lebih besar.
Tapi, ya begitulah tabiat manusia kalau sedang mabuk jabatan.
Lupa daratan.
Lupa bahwa kursi empuk itu cuma titipan yang sewaktu-waktu bisa ditarik lewat cara yang paling memalukan.
Termasuk lewat kaki kursi yang patah saat pelantikan.
Saya membayangkan apa yang sekarang berkecamuk di kepala mereka.
Di balik tembok kampus yang kelihatan adem ayem, ada bara api yang sedang membara di bawah tanah.
Mahasiswa mulai berbisik-bisik di kantin.
Sisa sivitas akademika mulai menghitung hari kepemimpinan yang kian kehilangan akal sehat.
Solidaritas senyap terbentuk secara natural.
Rasa takut yang dipaksakan lambat laun berubah menjadi mosi tidak percaya yang siap meledak kapan saja.
Belum lagi urusan hukum formal.
Dosen-dosen kontrak yang dipecat sewenang-wenang itu bukan orang kemarin sore.
Punya dokumen.
Punya SK resmi.
Punya hak yang dilindungi undang-undang ketenagakerjaan.
Begitu berkas-berkas itu mendarat di Dinas Tenaga Kerja atau Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, tamat sudah riwayat mereka.
Yayasan yang tadinya coba-coba cuci tangan bakal bertindak pragmatis.
Ketua Kampus X yang sok kuasa itu bakal dilepas duluan.
Dijadikan tumbal demi menyelamatkan muka institusi.
Hukum alam organisasi memang kejam, tapi tidak pernah salah alamat.
Tapi karma struktural itu baru permulaan.
Yang paling mengerikan justru bukan soal sanksi administratif atau copot jabatan di atas kertas.
Air mata orang yang dizalimi itu punya frekuensi getaran yang mematikan.
Apalagi ketika sumber penghidupan dan periuk nasi mereka dirampas paksa di tengah jalan hidup yang tidak mudah.
Doa mereka di sepertiga malam adalah pedang tak kasat mata yang bekerja tanpa suara.
Coba bayangkan rasanya hidup dengan paranoid kronis.
Setiap kali ada dering telepon di tengah malam, jantung berdegup kencang.
Setiap ada bayangan langkah kaki di koridor kampus, dikira musuh yang datang menagih janji busuk.
Harta dan jabatan yang diperoleh dengan menindas orang lain tidak pernah membawa berkah ketenangan.
Uangnya habis buat urusan pelik.
Kesehatannya digerogoti oleh stres yang dipelihara sendiri.
Bahkan keturunannya ikut menanggung getah dari kelicikan orang tuanya.
Itulah hukum sebab-akibat universal yang bekerja dalam sunyi.
Tidak perlu menunggu sidang pengadilan dunia, semesta sendiri yang menenun kejatuhan mereka dengan cara yang paling memalukan.
Nama baik yang tadinya dibangun bertahun-tahun kini hancur lebur dalam sekejap.
Dikenang sejarah bukan sebagai pemimpin yang mencerahkan, melainkan sebagai tiran kecil yang merubuhkan rumahnya sendiri dari dalam.
Kursi yang ambruk di hari pelantikan itu sebenarnya sudah membocorkan masa depan mereka.
Sayang sekali, mata mereka telanjur buta oleh silau kursi kekuasaan.
Sampai kapan singgasana rapuh itu mau dipertahankan dengan air mata rakyat kampus? *yas






