--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Robot Pintar, Otak Waras

Wamen Kemdiktisaintek Stella Christie menjadi pembicara dalam forum Young On Top National Conference 2026 di Jakarta.

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda merasa lebih bodoh setelah bertanya pada mesin pencari? Baru mengetik satu kata, sudah muncul ribuan jawaban, lalu kita pun berhenti berpikir karena merasa semuanya sudah beres. Inilah jebakan yang sedang diwaspadai Wamen Stella Christie.

Sabtu kemarin, di ajang Young On Top National Conference 2026, ia bicara soal ini di depan ribuan anak muda. Stella tidak melarang kita pakai AI, justru ia mendorongnya. Tapi, ia wanti-wanti agar kita tidak jadi budak teknologi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

AI memang menjanjikan segalanya. Mulai dari urusan kesehatan yang makin akurat sampai dunia usaha yang makin ngebut. Tapi, Stella menekankan satu hal yang sering luput dari perhatian kita.

Katanya, kita harus memandang AI secara proporsional. Jangan menelan mentah-mentah apa yang keluar dari layar monitor. Evaluasi berbasis bukti tetaplah harga mati.

Repotnya, di era di mana informasi bisa didapat cuma dengan satu klik, banyak orang merasa sudah pintar. Padahal, hanya sekadar tahu belum tentu berarti paham. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial.

Saya tanya soal masa depan kampus di tengah gempuran AI yang makin pintar. Menurutnya, kampus tidak akan pernah mati, asalkan mampu menjalankan tiga fungsi utama. Apa saja itu?

Pertama, penciptaan pengetahuan. Kedua, transmisi pengetahuan. Dan yang ketiga, kurasi pengetahuan. Inilah benteng terakhir kita dari gempuran informasi yang sering kali menyesatkan.

Stella mengajak kita memaknai ulang apa itu pengetahuan. Bagi dia, pengetahuan bukanlah tumpukan fakta hasil copy-paste dari AI. Itu terlalu dangkal.

Pengetahuan adalah kemampuan mengurasi dan memaknai fakta tersebut hingga melahirkan pemahaman baru yang segar. Itulah bedanya manusia dengan algoritma. AI bisa memproses data, tapi hanya manusia yang punya kemampuan untuk memahami maknanya.

Baca juga:  Mempertajam Fundamental Sains di Era Kecerdasan Buatan

Lalu, bagaimana dengan mahasiswa kita? Kampus harus berubah. Tidak bisa lagi hanya jadi tempat transfer ilmu yang membosankan. Budaya riset dan literasi kritis harus menjadi nafas utama.

Jika hanya mengandalkan hafalan, lulusan kita akan dengan mudah digantikan oleh program komputer. Tapi jika mereka punya kemampuan berpikir kritis, tidak ada mesin yang bisa menyamainya.

Semangat “Diktisaintek Berdampak” kembali ia gaungkan. Ia ingin lulusan kita tidak cuma jago teknologi, tapi juga mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Bukan cuma jadi penonton, apalagi korban perkembangan zaman.

Tapi, tantangannya memang tidak kecil. Sering kali kita lebih suka yang instan daripada yang mendalam. Membangun budaya literasi di tengah budaya “cepat saji” memang butuh perjuangan ekstra.

Pemerintah melalui Kemdiktisaintek tentu punya peran besar. Namun, pada akhirnya, kritis atau tidaknya kita ditentukan oleh keinginan kita untuk terus bertanya. Bukan bertanya kepada AI, tapi bertanya pada logika kita sendiri.

Sebab, secanggih apa pun mesin yang diciptakan, ia tetap butuh nahkoda yang punya akal budi. *yas

👁️ 5.986 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Klik di sini untuk konten menarik!