--- / --- 00:00 WITA

Krisis Kepercayaan Mahasiswa Menuntut Reformasi Pendidikan Tinggi Nasional

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, saat menghadiri Forum Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 22 Juni 2026.

Lokapalanews.id | Palu – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong penguatan ekosistem pendidikan tinggi guna menjawab krisis relevansi akademik. Transformasi ini menjadi krusial di tengah meningkatnya angka mahasiswa yang meragukan manfaat gelar sarjana bagi karier masa depan. Pemerintah menuntut kampus segera meninggalkan menara gading dan mulai membangun kolaborasi lintas sektoral yang lebih nyata.

Data Deloitte Global Gen Z dan Millennial Survey 2025 menunjukkan sinyal bahaya bagi institusi pendidikan tinggi kita. Sebanyak 31 persen Generasi Z memutuskan tidak melanjutkan kuliah karena menilai kurikulum kampus tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bahkan, 51 persen mahasiswa mengaku menyesal menempuh pendidikan tinggi karena investasi waktu serta biaya tidak sepadan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Fenomena ini menegaskan bahwa mahasiswa kini menuntut keterampilan aplikatif dan pengalaman praktis yang bersifat langsung. Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menghadiri Forum Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi di Palu, Senin (22/6). Pertemuan ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi swasta se-Sulawesi Tengah untuk menyusun langkah perbaikan mutu.

Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi berdiri sendiri sebagai entitas yang terisolasi dari masyarakat. Kampus dituntut membangun ekosistem melalui konsorsium untuk memperkuat riset dan berbagi sumber daya pendidikan. “Perguruan tinggi harus memahami kebutuhan masyarakat dan jangan pernah berhenti berinovasi,” ujar Fauzan di Universitas Muhammadiyah Palu.

Hilirisasi Inovasi Menjadi Tolok Ukur Baru Kampus

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menambahkan urgensi penguatan ekosistem penelitian antarlembaga. Ia menekankan bahwa inovasi kampus harus memiliki dampak nyata bagi percepatan pembangunan daerah secara luas. Seluruh hasil riset diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen akademik, melainkan harus melalui proses hilirisasi yang bermanfaat.

Baca juga:  Sinergi Kampus Perkuat Koperasi Desa Merah Putih

Upaya ini diwujudkan melalui program bertajuk Diktisaintek Berdampak yang menyasar penguatan kompetensi lulusan secara konkret. Strategi ini mencakup pelaksanaan KKN Tematik berbasis pemberdayaan masyarakat dan penguatan pengabdian sosial yang berkelanjutan. Rektor Universitas Muhammadiyah Palu sekaligus Ketua APTISI Sulawesi Tengah, Rajindra, menyambut baik ajakan kolaborasi tersebut.

Rajindra menekankan perlunya sinergi kuat antara perguruan tinggi negeri dan swasta untuk meningkatkan daya saing daerah. “Perlu ada kolaborasi agar wilayah Sulawesi Tengah bisa maju bersama-sama,” ungkapnya dalam forum tersebut. Hingga laporan ini diturunkan, detail teknis mengenai skema pendanaan konsorsium belum dirilis oleh pihak kementerian.

Ke depan, efektivitas langkah pemerintah ini akan diuji oleh kesiapan kampus dalam mengubah kurikulum lama. Apakah kebijakan ini mampu mengembalikan kepercayaan generasi muda, atau sekadar menjadi wacana di atas kertas saja. Semua pihak kini menanti bukti nyata dari narasi besar yang dibangun di tanah Palu ini. *R104

👁️ 7.524 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."