Lokapalanews.id | Aroma minyak panas dan gurih singkong goreng biasanya menjadi penanda semangat bagi Sri. Namun, di bawah langit Medan yang menyengat siang itu, bau keripik yang ia kemas ke dalam plastik-plastik kecil justru terasa hambar. Tangannya gemetar, bukan karena beban keranjang dagangan, melainkan karena ingatan akan sebuah tas yang baru saja ia beli dari toko daring. Tas itu masih terbungkus plastik rapi, sebuah kemewahan kecil yang ia tabung dari receh demi receh hasil berjualan. Kini, tas itu raib. Hilang bersama senyapnya langkah sang suami yang tiba-tiba menjadi “rajin” menyapu sudut-sudut rumah hanya untuk menandai barang apa lagi yang bisa ditukar dengan saldo taruhan.
Di sebuah ruangan di sudut kota, Sri berdiri dengan bahu yang meluruh. Di hadapannya, riuh acara formal mendadak luruh menjadi keheningan yang menyesakkan. Suaranya tercekat, tersangkut di tenggorokan sebelum akhirnya pecah menjadi kalimat yang paling jujur sekaligus paling menyakitkan yang pernah ia ucapkan di depan publik.
“Suami saya gila judi online, Ibu Menteri,” lirihnya, seperti dikutip dari InfoPublik.id.
Kalimat itu bukan sekadar aduan. Itu adalah nisan bagi ketenangan hidup yang ia bangun bertahun-tahun. Bagi Sri dan ribuan perempuan lainnya di Indonesia, judi online bukan lagi soal algoritma, situs yang diblokir, atau angka-angka di atas kertas kerja pemerintah. Ia adalah pencuri yang masuk tanpa mendobrak pintu; ia menyelinap melalui sinyal Wi-Fi, mendekam di saku celana, dan perlahan-lahan menggerogoti fondasi dapur mereka.
Data menunjukkan bahwa jeratan ini tak memilih kasta. Namun, di balik angka-angka utang yang mencapai ratusan juta rupiah – yang bersumber dari pinjaman online, rentenir, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) – ada wajah manusia yang hancur. Suami Sri bukan sekadar kehilangan uang; ia kehilangan nalar. Rumah yang seharusnya menjadi suaka, berubah menjadi toko loak dadakan di mana barang-barang berharga menguap satu per satu demi mengejar bayang-bayang kemenangan yang tak kunjung tiba.
Ada sebuah ironi yang getir dalam setiap taruhan. Ketika seorang pria menekan tombol “spin” di layar ponselnya, ia merasa sedang memegang kendali nasib. Padahal, di saat yang sama, ia sedang melempar anak-istrinya ke dalam jurang kelaparan. Sri bercerita, seringkali matahari sudah mencapai puncaknya, namun perut anak-anaknya masih kosong. Mereka harus menunggu plastik keripik terakhir terjual sebelum sesendok nasi bisa mendarat di piring.
“Kadang anak-anak siang belum makan sampai saya selesai jual keripik,” ucapnya sembari menyeka sudut mata. Di saat sang ayah asyik menatap grafik naik-turun di layar, sang ibu harus bernegosiasi dengan rasa lapar dan doa.
Kisah Sri adalah potret makro dari sebuah epidemi sosial. Di sudut lain Medan Sunggal, Roslina Tarigan menyaksikan drama serupa dengan intensitas yang tak kalah pedih. Keponakannya sudah empat hari tak pulang, meninggalkan anak dan istrinya dalam ketidakpastian. Yang lebih menyayat, salah satu anak tersebut tengah berjuang melawan sesak napas. Namun, bagi pencandu judi daring, sesak napas anak kandung tak pernah lebih mendesak daripada keinginan untuk memulihkan kekalahan di putaran berikutnya.
Ada perubahan psikologis yang mengerikan di sini. Judi online mengubah manusia menjadi asing bagi darah dagingnya sendiri. Kehangatan rumah tangga digantikan oleh ketegangan saraf, kejujuran digantikan oleh manipulasi, dan kasih sayang habis terbakar oleh dopamin instan yang ditawarkan aplikasi.
Pemerintah memang tidak tinggal diam. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak – atau yang dikenal sebagai PP Tunas – telah diterbitkan sebagai benteng hukum. Ribuan situs diblokir setiap harinya. Namun, seperti yang ditegaskan dalam pertemuan itu, teknologi hanyalah alat. Perang yang sesungguhnya terjadi di ruang tamu dan kamar tidur, di mana seorang istri harus berani menegur suaminya, atau seorang ibu harus mengawasi apa yang disentuh jemari anaknya.
Tragedi judi online adalah tragedi perempuan. Merekalah yang harus berdiri paling depan ketika penagih utang mengetuk pintu dengan kasar. Merekalah yang harus memutar otak agar uang sekolah tetap terbayar ketika saldo tabungan telah nihil. Dan merekalah yang harus berbohong kepada anak-anak tentang keberadaan ayah mereka.
“Ma, Papa mana, Ma?”
Pertanyaan polos itu adalah belati bagi Sri. Sambil menahan isak yang menggetarkan dada, ia hanya bisa menjawab, “Papa kerja ya, Nak.” Sebuah kebohongan putih yang ia bangun untuk menjaga sisa-sisa martabat seorang lelaki yang mungkin sudah lupa jalan pulang.
Malam itu di Medan, diskusi tak lagi bicara soal regulasi yang kaku. Ruangan itu berubah menjadi ruang pengakuan dosa dan tempat berbagi beban. Judi online bukan sekadar “penyakit masyarakat”; ia adalah luka terbuka yang merampas masa depan.
Saat acara berakhir dan lampu-lampu aula mulai dipadamkan, Sri kembali ke dunianya. Dunia di mana ia harus menggoreng singkong, membungkusnya, dan berharap suaminya tak lagi mencari celah untuk mencuri barang berikutnya. Di luar sana, ribuan ponsel masih menyala, memancarkan cahaya biru yang menggoda dengan janji kekayaan instan. Namun bagi Sri, kekayaan sesungguhnya hanyalah satu hari tanpa tangis, seuntai doa yang dikabulkan, dan sepiring nasi untuk anak-anaknya yang diperoleh dari keringat yang jujur.
Ia berjalan pulang menyusuri trotoar, sekecil debu di tengah kota yang sibuk, membawa harapan tipis bahwa suatu saat nanti, suaminya akan melihat wajah anaknya lebih lama daripada ia menatap layar ponselnya. Di balik senyap malam, perjuangan itu belum usai. Ia hanya bisa bersandar pada satu keyakinan: bahwa tidak ada kemenangan yang bisa dibangun di atas reruntuhan air mata keluarga. *yas






