--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Menolak Bau, Menjemput Solusi: Mengapa Sampah Kita tak bisa Lagi Sekadar “Dibuang”?

I Made Suyasa

Lokapalanews.id | Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi ketika kita meletakkan kantong plastik penuh sampah di depan rumah, lalu truk pengangkut tak kunjung datang? Bagi sebagian besar dari kita, masalah sampah selesai begitu kantong itu pindah ke tangan petugas. Namun, kegaduhan yang terjadi di Bali belakangan ini – terkait penutupan TPA Suwung bagi sampah organik – menyadarkan kita pada satu kenyataan pahit: “halaman belakang” tempat kita membuang masalah selama ini sudah penuh sesak. Persoalannya bukan sekadar truk yang mogok atau kebijakan gubernur yang terasa mendadak, melainkan tentang cara kita memandang sisa hidup kita sendiri.

Konteks masalah ini sebenarnya sederhana namun dampaknya masif. Sejak TPA Suwung tidak lagi menerima sampah organik, tumpukan sampah mulai menghiasi sudut-sudut jalan Denpasar dan Badung. Respon Gubernur Bali, Wayan Koster, yang meminta masyarakat mengolah sampah di sumbernya (rumah masing-masing) memang memicu pro-kontra. Di media sosial, banyak yang berang karena merasa tugas pemerintah telah dipindahkan ke pundak rakyat. Namun, di balik perdebatan politik dan diksi pejabat yang mungkin terasa “keras”, ada satu pesan mendasar yang harus kita telan: Bali sedang berada di ambang darurat lingkungan, dan cara lama kita mengelola sampah sudah kedaluwarsa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Argumen utamanya adalah bahwa pola “kumpul-angkut-buang” yang kita jalankan selama berpuluh tahun telah gagal. TPA Suwung bukan lagi sebuah solusi, melainkan bom waktu yang sudah meledak. Regulasi Pemerintah Provinsi Bali melalui Pergub No. 47 Tahun 2019 sebenarnya bertujuan mulia, yaitu memaksa kita untuk mandiri. Namun, yang luput dari perhatian adalah bahwa mengubah kebiasaan jutaan orang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat pemerintah memberikan instruksi tanpa dibarengi dengan fasilitas yang merata di setiap banjar, yang muncul adalah kebingungan. Warga yang lahannya sempit merasa terpojok, lalu memilih jalan pintas yang berbahaya membakar sampah.

Analisis kebijakan ini menunjukkan bahwa kita sedang mengalami “kaget budaya”. Selama ini, kita dimanjakan oleh sistem yang seolah-olah menghilangkan masalah tanpa kita tahu ke mana masalah itu pergi. Kini, ketika gerbang TPA tertutup, kita dipaksa melihat kembali isi tempat sampah kita. Sekitar 60-70 persen sampah kita adalah sampah organik – sisa makanan, kulit buah, dan canang. Jika bagian ini saja bisa selesai di rumah lewat pengomposan sederhana atau lubang biopori, maka gunung sampah di Suwung akan menyusut drastis. Masalahnya, komunikasi pemerintah sering kali terasa seperti “perintah” ketimbang “ajakan”. Kata-kata seperti “penindakan” atau “bohong” justru menutup ruang diskusi yang seharusnya hangat dan penuh kerja sama.

Baca juga:  Komunikasi yang Kehilangan Jiwa: Defisit Empati dan Ambruknya Kredibilitas Pemimpin

Persoalannya bukan sekadar siapa yang salah antara pemerintah atau warga. Kita perlu melihat perspektif alternatif: sampah ini adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah wajib menyediakan sistem pengangkutan residu yang lancar dan mesin pengolah di tingkat desa, sementara kita sebagai warga wajib memilah sejak dari dapur. Tanpa pemilahan di rumah, mesin secanggih apa pun di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) akan sering rusak karena sampah yang tercampur. Kesadaran ini yang sering kali gagal dibangun karena pola komunikasi pejabat yang terlalu kaku. Masyarakat butuh dirangkul dan diberi contoh nyata, bukan sekadar diancam dengan aturan.

Lebih jauh lagi, kegaduhan ini adalah pelajaran berharga tentang kejujuran dalam pelayanan publik. Masyarakat Bali sangat mencintai tanahnya, namun rasa cinta itu bisa berubah menjadi kemarahan jika mereka merasa dibiarkan berjuang sendirian di tengah kepungan bau sampah. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya pandai membuat aturan, tapi juga rendah hati untuk turun tangan memastikan truk-truk di desa tetap beroperasi selama masa transisi. Di sisi lain, kita sebagai masyarakat juga harus mulai jujur: mampukah kita terus-menerus membuang sampah tanpa peduli akan nasib anak cucu kita nanti?

Refleksi atas krisis sampah ini membawa kita pada satu titik balik. Bali “Era Baru” tidak akan pernah terwujud hanya dengan infrastruktur megah atau baliho besar di pinggir jalan. Ia dimulai dari tempat sampah di dapur kita. Kepemimpinan yang baik seharusnya mampu menyentuh hati warga agar mau bergerak sukarela, bukan karena takut ditindak. Pemerintah perlu lebih lunak dalam berkomunikasi dan lebih keras dalam bekerja menyediakan fasilitas. Sementara itu, kita sebagai warga perlu menyadari bahwa memilah sampah adalah bentuk ibadah paling nyata untuk menjaga kesucian alam Bali.

Pada akhirnya, asap pembakaran sampah di belakang rumah adalah tanda bahwa ada sesuatu yang patah dalam hubungan kita dengan lingkungan. Jangan biarkan Bali yang kita banggakan keindahannya terkubur oleh limbah kita sendiri. Krisis ini adalah kesempatan kita untuk berubah. Mari kita berhenti saling menunjuk hidung dan mulai menggerakkan tangan untuk memilah. Karena sesungguhnya, sampah bukan hanya urusan gubernur atau dinas kebersihan; sampah adalah cermin dari seberapa besar kita menghargai kehidupan itu sendiri.

Pesan untuk untuk kita semua: Mengolah sampah memang tidak mudah, tapi merusak alam jauh lebih mudah dan mahal harganya. Mari mulai memilah hari ini, demi Bali yang tetap asri untuk hari esok. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."