Lokapalanews.id | Di bawah naungan megah Auditorium Saraswati, aroma dupa yang tipis berpadu dengan keheningan khidmat. Sabtu pagi itu, 21 Februari 2026, bukan sekadar saksi pelantikan seorang pemimpin akademis, melainkan sebuah titik balik di mana menara gading perguruan tinggi diminta meruntuhkan sekatnya. Di tengah prosesi pelantikan I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa sebagai Rektor Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, sebuah pesan besar diletakkan di atas podium oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Gubernur tidak datang hanya untuk membawa ucapan selamat. Tatapannya tajam, menyapu barisan toga dan cendekiawan yang hadir, membawa kegelisahan positif tentang masa depan riset di Pulau Dewata. Ia berbicara tentang nasib ribuan lembar kertas penelitian yang seringkali berakhir sunyi di rak-rak perpustakaan, hanya menjadi syarat administratif kenaikan pangkat, tanpa pernah menyentuh tanah dan nadi kehidupan masyarakat.
“Kami ingin mulai tahun ini ada sinergi antara Pemerintah Provinsi Bali dengan perguruan tinggi se-Bali agar hasil riset benar-benar bermanfaat bagi pembangunan daerah,” tegas Koster. Kalimatnya bergema, meretas batas antara teori di ruang kelas dan realitas di lapangan. Ia memimpikan sebuah ekosistem di mana setiap tetes keringat pemikiran dosen dan mahasiswa mengalir langsung menjadi kebijakan publik yang presisi.
Bayangan kolaborasi ini begitu konkret. Koster menggarisbawahi bahwa mulai pertengahan tahun ini, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali akan menjadi jembatan utama. Fakultas Kedokteran tak lagi berjalan sendiri; mereka akan bergandengan tangan dengan Dinas Kesehatan. Inovasi pertanian akan langsung diuji di pematang sawah bersama dinas terkait. Ini adalah upaya integrasi hulu-hilir yang bertujuan memastikan setiap inovasi memiliki rumah untuk bernaung dan manfaat untuk dibagikan.
Pergulatan batin yang ingin diselesaikan adalah sebuah paradoks: Bali memiliki kekayaan intelektual yang melimpah, namun persoalan strategis seperti pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan masih menjadi hantu yang membayangi. Koster menantang setiap kampus untuk mandiri, mengelola limbahnya sendiri melalui inovasi berkelanjutan, dan menjadi garda terdepan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Ini bukan lagi soal gelar, melainkan soal keberlanjutan alam untuk generasi yang bahkan belum lahir.
Di sisi lain podium, Lanang Putra Perbawa, rektor keempat dalam sejarah panjang Unmas sejak 1963, menerima estafet kepemimpinan ini dengan kepala tegak namun hati yang rendah. Baginya, kehadiran Gubernur adalah restu sekaligus amanah berat. Di pundaknya kini terletak tanggung jawab untuk membawa Unmas tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang bermutu, tetapi juga institusi yang berakar kuat pada nilai budaya dan pengabdian nyata.
Acara tersebut diakhiri dengan jabat tangan yang erat, sebuah simbol kesepakatan tak tertulis antara penguasa kebijakan dan penguasa ilmu pengetahuan. Saat para tamu mulai meninggalkan auditorium, ada sebuah kesadaran baru yang tertinggal: bahwa riset bukan lagi sekadar angka di atas kurva, melainkan sebuah doa yang dijawab melalui kerja nyata bagi kesejahteraan rakyat Bali.
Akankah riset-riset masa depan benar-benar mampu menyembuhkan luka lingkungan dan sosial di Bali? Ataukah ia tetap menjadi tumpukan kertas yang bisu? Jawaban itu kini ada di tangan para akademisi yang mulai melangkah keluar dari ruang sidang, menuju pengabdian yang sesungguhnya di bawah langit Bali yang biru. *yas






