Lokapalanews.id | Pekanbaru – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan pentingnya peran strategis perguruan tinggi dalam menciptakan inovasi yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi daerah. Dalam kunjungan kerjanya ke Universitas Riau (Unri), Jumat (13/3/2026), Stella menekankan bahwa kampus harus menjadi mesin penghasil pengetahuan baru yang mampu menjawab tantangan zaman melalui riset berbasis potensi sumber daya lokal.
Menurut Stella, perguruan tinggi mengemban mandat yang jauh lebih besar dibandingkan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Jika sekolah berfokus pada transfer ilmu, maka universitas harus menjadi jantung dari penemuan solusi nyata yang memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Ia menilai, universitas yang kuat selalu berkorelasi positif dengan kemajuan ekonomi wilayah di sekitarnya, asalkan mampu menentukan fokus keunggulan (niche) yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, sejumlah inovasi unggulan dipaparkan oleh para akademisi Unri. Salah satunya adalah riset material penyimpanan energi superkapasitor berbasis karbon biomassa yang dipresentasikan oleh Guru Besar FMIPA Unri, Erman Taer. Memanfaatkan limbah organik seperti tempurung kelapa dan sawit, penelitian yang telah menghasilkan 170 publikasi ilmiah ini kini telah mencapai tahap pengembangan prototipe perangkat penyimpanan energi untuk kendaraan listrik.
Selain energi hijau, inovasi lain datang dari Fakultas Teknik Unri melalui pemanfaatan lateks karet alam sebagai bahan pengikat (binder) pada industri cat emulsi. Inovasi yang disampaikan oleh peneliti Bahruddin ini bertujuan menggantikan bahan sintetis impor. Dengan konsumsi cat nasional yang mencapai 1 juta ton per tahun, penggunaan karet alam dalam industri cat diprediksi mampu menyerap hingga 100 ribu ton komoditas karet dan secara langsung meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Stella Christie mengapresiasi fokus riset tersebut karena sangat relevan dengan kekuatan daerah Riau. Namun, ia mengingatkan bahwa riset yang unggul harus memiliki peta jalan yang terukur serta mempertimbangkan ekosistem di sekitarnya, termasuk keterlibatan industri dan pemerintah daerah. Ia menekankan pentingnya analisis ekonomi agar hasil penelitian laboratorium tidak berhenti di atas kertas, tetapi siap diadopsi oleh pasar.
“Kami ingin universitas tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjembatani kekayaan alam Indonesia menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian,” ujar Stella. Ia menjelaskan bahwa Kemdiktisaintek kini memiliki Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan yang bertugas memastikan kelayakan ekonomi riset sekaligus menjembatani kolaborasi antara kampus dan sektor industri.
Pemerintah juga tengah mendorong integrasi hasil riset perguruan tinggi dengan masyarakat melalui program Koperasi Merah Putih. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi produk inovasi sehingga kemandirian teknologi nasional dapat terwujud mulai dari tingkat daerah. Melalui sinergi ini, kampus diharapkan tidak lagi menjadi “menara gading”, melainkan menjadi mitra strategis dalam mendorong transformasi ekonomi regional yang berkelanjutan.
Kunjungan kerja ini menjadi momentum bagi perguruan tinggi di daerah untuk mempertajam fokus penelitian mereka pada komoditas unggulan wilayah masing-masing. Dengan dukungan regulasi dan pendampingan hilirisasi dari Kemdiktisaintek, inovasi-inovasi dari kampus diharapkan mampu menjadi katalisator bagi pertumbuhan industri berbasis sumber daya alam yang lebih inklusif dan kompetitif di kancah nasional maupun global. *R104






