Lokapalanews.id | Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggerakkan sejumlah perguruan tinggi besar di Indonesia untuk memberikan respons kemanusiaan terpadu di wilayah terdampak banjir bandang, longsor, dan badai siklon di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Respons cepat ini melibatkan pengerahan tim medis, psikososial, hingga logistik, membuktikan implementasi kebijakan Diktisaintek Berdampak.
“Kemdiktisaintek memastikan seluruh potensi pendidikan tinggi terus diperkuat untuk mendukung pemulihan Sumatra. Negara hadir, dan perguruan tinggi adalah garda ilmiahnya,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Layanan Medis Ambil Alih Rumah Sakit Darurat
Pusat-pusat pendidikan kedokteran bergerak cepat mengambil alih layanan darurat di lapangan. Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi institusi pertama yang mengambil alih operasional RSUD Meureudu di Aceh sejak 28 November 2025. Ratusan tenaga medis USK memperkuat triase, IGD, hingga operasi emergensi, melayani lebih dari 642 warga.
Sementara itu, Universitas Hasanuddin (Unhas) mengirimkan tim spesialis penyakit dalam, anak, hingga mobile obstetri ke Kabupaten Pidie Jaya, mengambil alih layanan primer di Puskesmas Meurah Dua yang lumpuh. Di Sumatra Barat, tim Unhas bahkan melakukan tindakan darurat pada pasien fraktur mandibula yang dievakuasi menggunakan helikopter di RSUD Lubuk Basung.
Dukungan medis masif juga datang dari luar pulau. Universitas Airlangga (Unair) mengirimkan Rumah Sakit Terapung Phinisi dengan 40 tenaga medis, disusul tim dokter dari Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Dukungan Psikososial dan Logistik
Selain medis, dukungan kesehatan jiwa menjadi fokus utama. Tim Dukungan Kesehatan Jiwa Psikososial (DKJPS) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) bersama PDSKJI Sumatra Utara diterjunkan ke Langkat untuk pendampingan emosional dan edukasi ketahanan mental bagi penyintas.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tidak hanya menyiapkan relawan psikososial dan logistik, tetapi juga memberikan skema bantuan pendidikan berupa keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga semester delapan bagi mahasiswa asal Sumatra yang terdampak.
Sementara itu, Tim Relawan Universitas Teuku Umar (UTU) menjadi salah satu tim pertama yang berhasil menembus titik terisolasi Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, menyalurkan bantuan kebutuhan pokok dan obat-obatan. Dukungan logistik juga dikerahkan Universitas Riau (Unri) senilai Rp108 juta ke Palembayan, Agam.
Kemdiktisaintek mengapresiasi inisiatif dan empati tinggi seluruh perguruan tinggi, menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dan dukungan teknis agar misi kemanusiaan berjalan efektif. *R104






